Keseimbangan (Bukan) adalah Koentji

Kurang lebih satu tahun yang lalu (atau mungkin lebih, saya sering kehilangan jejak waktu), saya turut sebuah forum perempuan bekerja yang keynote speaker-nya adalah Ibu Mari Pangestu. Ketika itu pembahasan mengenai, mengapa perempuan bekerja yang jumlahnya cukup banyak hingga level manajerial, tetapi kemudian berkurang drastis ketika memasuki level senior manager hingga CEO. Kemudian Ibu Mari menyebutkan soal istilah “peran ganda perempuan” yaitu sebagai pembina keluarga sekaligus pencari nafkah. Yang menarik adalah Ibu Mari menyebutkan bahwa dia tidak menyukai istilah ini. Entah saya sedang melamun ketika beliau menyebutkannya, atau memang tidak disebutkan lebih lanjut, tetapi saya tidak menangkap alasannya, mengapa istilah ini tidak disukai. Kalau saya mau mengarang, mungkin karena istilah ini memang agak seksis, karena “tugas” pembina keluarga  dan pencari nafkah harusnya tidak hanya disebutkan untuk perempuan, tetapi kalau tanggung jawab sudah berbicara, gender apapun akan memilikinya.

3a5bffb

Seperti juga layaknya pembicaraan mengenai perempuan bekerja, pasti ada sebutan mengenai work-life balance. Frase enigmatis yang seolah menjadi dambaan semua orang, tetapi tidak ada yang pernah menyaksikan keberadaannya. Setelah merasakan menjadi pasangan suami istri dengan anak, kemudian orang tua tunggal, semakin dirasakan kalau work-life balance itu hanya tujuan kosong tanpa ada ejawantahnya, terutama jika disebutkan tanpa rencana aksi yang jelas. Justru karena kata-kata ini, banyak sekali Ibu bekerja yang menghabiskan waktunya dengan merasa bersalah, meninggalkan keluarganya begitu lama untuk mencari nafkah. Seolah kewajiban dia ditambah satu lagi, selain berakrobat berkarir di luar rumah dengan mengurus ini itu soal anak, rumah tangga dan pekerjaan rumah; mencari keseimbangan antara itu semua. Digembar-gemborkan seperti seorang perempuan tidak bisa bahagia dan sempurna jika tidak bisa mencapai work-life balance. What a bunch of bull crap.

Kenyataan yang dihadapi; seperti semua hal di dalam hidup, itu adalah pilihan. Kita boleh memilih bekerja hanya jam 8 pagi hingga jam 5 sore, tanpa lembur sama sekali, menolak ditugaskan ke luar kota, pamit pulang ke rumah di tengah meeting yang baru dimulai sore hari, melewatkan acara “penting-tak penting” yang fungsinya lebih memperluas jejaring, dengan konsekuensi tentunya. Dan seringnya konsekuensi itu adalah perkembangan karier yang layu sebelum berkembang, juga penghasilan yang begitu-begitu saja. Tidak seimbang juga, tetapi kalau itu memang membuat bahagia, kenapa tidak? Demikian juga jika ketika memilih untuk mengejar karir atau tidak memiliki kemewahan untuk memilih (jika menjadi orang tua tunggal, contohnya).

Dari apa yang sudah dijalani, saya merasa kalau kunci agar jadi bahagia – seperti juga dalam hal lain di kehidupan ini, adalah ikhlas. Mungkin bisa pakai istilah work with passion atau apalah itu. Jika kita cukup beruntung, untuk bisa memiliki satu tim baik di rumah maupun di tempat kerja yang mendukung, sehingga bisa berkonsentrasi penuh ketika sedang berada di tempat kerja maupun di kantor, maupun ketika bertemu sahabat, lakukan lah hanya itu. Beri 100% ketika Anda di tempat kerja, supaya ketika kembali ke rumah dan memberikan 100% kepada keluarga tidak ada rasa yang tertinggal kalau merasa belum selesai di kantor. Atau kalau masih merasakan juga, ikhlaskan kalau mungkin kita tidak bisa mengendalikan semuanya.

Benar-benar kemewahan rasanya, ketika bisa tenggelam dalam pekerjaan ketika di kantor, kemudian pulang ke rumah dan bisa tenggelam dalam kasih sayang dengan keluarga dan menikmati keduanya dengan sama penuhnya. Bahwa kenikmatan tersebut akan menimbulkan kebahagiaan yang (mungkin) lebih dari kebahagiaan yang dirasakan ketika kita bisa mencapai work-life balance.

 

Iklan

One thought on “Keseimbangan (Bukan) adalah Koentji

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s