Wanted and Needed

Bagaimana membuat seseorang merasa dibutuhkan dan diinginkan?
How does one make another person feel needed and wanted?

Kalau pertanyaan di atas dilempar balik ke saya, maka jawabannya gampang: tidak mudah. Paling tidak, di bidang ini saya sering merasa … gagal.

Kegagalan ini, tanpa tedeng aling-aling, pernah diungkapkan beberapa teman dekat. Untung punya teman-teman yang jujur, yang ketidakseganannya sering tidak lewat saringan dulu dalam menyampaikannya. Katanya, saya dingin. Saya tidak suka meminta bantuan orang lain, termasuk ke pacar, yang semuanya sudah jadi mantan. Mungkin itu salah satunya kenapa orang tidak betah pacaran sama saya. Itu kata mereka.
Saya tersenyum kecut kalau sudah mendapat komentar seperti itu. Meskipun hati kecil meyakinkan, “itu kan cuma pendapat orang”, tapi rasa penasaran biasanya suka mengalahkan. “Masa sih?”

Kebetulan dari usia belasan, saya sudah tidak tinggal bersama orang tua. Hidup sendiri, mulai dari kamar kos-kosan waktu SMA, lalu di asrama waktu kuliah, dilanjutkan menyewa tempat tinggal waktu mulai kerja sampai akhirnya memiliki tempat tinggal sendiri sekarang, semuanya pakai kata ‘sendiri’. Orang tua kami membiasakan kami mengerjakan pekerjaan rumah, meskipun ada pembantu. Semua harus dikerjakan sendiri apabila memungkinkan. Termasuk belanja ke supermarket, mengurus surat-surat sampai ke rumah sakit kalau perlu. Dengan mantra “jangan merepotkan orang lain”, kebiasaan ini saya lakukan terus waktu sudah berpisah tempat tinggal dengan orang tua.

Akhirnya, saya terbiasa melakukan semuanya sendiri. Ke bioskop nonton film lebih sering sendiri. Pergi jalan-jalan juga. Satu kegiatan yang sebelumnya saya pikir tidak mungkin dilakukan sendiri, yaitu menonton konser musik, akhirnya bisa saya lakukan.

happiness_is_a_warm_puppy-300x289

Ternyata kebiasaan sendiri ini kadang jadi bumerang. Saat ada orang lain yang mulai mengisi teritori tempat dan waktu personal, seringnya saya kelabakan. Bukan perkara gampang buat saya untuk sekedar mengucap lewat tulisan, “lagi di mana?”. Kalau pun bisa, misalnya, pergi jalan-jalan berdua, seringnya saya lebih memikirkan tingkat kepraktisannya. Lebih murah berbagi ongkos penginapan, tentunya. Atau bisa berbagi jumlah bagasi. Selebihnya, kalau seumpama pasangan tidak bisa ikut pergi karena jatah cuti habis, sementara satu-satunya waktu yang tersedia buat saya untuk pergi hanya ada di saat itu, maka saya memilih pergi.

Terdengar egois? Bisa ya, bisa tidak.

Tetapi saya lebih percaya bahwa pada akhirnya, at the end of the day, we have to take care of ourselves. Berbagi itu menyenangkan. Berbagi itu baik. Saya tidak meragukan hal itu.
Namun saat berbagi itu harus melibatkan orang lain untuk membantu, sehingga mereka merasa dibutuhkan, kita harus rela ‘menurunkan’ ego. Tidak mudah.

Beberapa minggu lalu, saya menonton episode serial Madam Secretary. Di episode ini, Daisy, asisten yunior menteri, bingung bagaimana memulai percakapan dengan seorang pria, ahli teknologi informatika, yang sedang ditaksirnya. Atasan Daisy, Nadine, menyarakan Daisy untuk meminta bantuan dari pria tersebut tentang sistem firewall kantor mereka. Daisy tersinggung, karena hal ini bisa dengan mudah dia lakukan. Nadine berkata, bahwa bukan masalah dia bisa mudah melakukannya. Tapi lebih dari itu, ini akan membuat seorang pria diperlukan bantuannya. Daisy tertawa, dan bertanya, bukankah ini mengembalikan gerakan feminisme ke 50 tahun yang lampau?

Seperti layaknya dua karakter di atas, kadang kita suka over-thinking. Terlalu memikirkan segala sesuatunya, dari berbagai sisi, sehingga kita bingung bagaimana harus bertindak. Termasuk untuk urusan yang terlihat sederhana, tetapi karena melibatkan perasaan kita dan orang lain, akhirnya jadi ribet.
Di akhir episode yang saya tonton, akhirnya Daisy memilih untuk berkata jujur kepada pria itu, bahwa dia tidak benar-benar meminta bantuannya. Dia bahkan berkata kalau dia juga bisa melakukan apa yang bisa dilakukan pria tersebut. Daisy akhirnya bilang, kalau permintaan yang dia sampaikan tak lebih dari usaha untuk mengajaknya berbicara dan pergi makan malam.

Berhubung serial televisi hanya berlangsung selama kurang dari satu jam, maka semua permasalahan bisa terselesaikan dalam waktu yang terbatas. Tetapi hidup kita? Life goes on, more than that.

Dan akhirnya, saya cuma bisa bertanya-tanya, “I want and need to make anyone else wanted and needed. How can we do it?”

tumblr_static_alone

18 thoughts on “Wanted and Needed Leave a comment

  1. ah.. aku mulai merasa semacam ini.

    barusan kepikiran, apakah mengungkapkan, “aku membutuhkanmu” dirasa cukup?
    but then.. itu kalimat yang sukit terucap. khawatir terkesan basa basi. khawatir terdengar tak sepenuh hati. khawatir terucap tanpa benar-benar meyakini.

    kayaknya kita perlu nekat. spontan. dan menikmati apapun kejutannya.

  2. Haha gue baru ngalamin the total opposite, gue yg needy dan minta ditemenin terus sedangkan dia quite like you kayaknya.. shall we exchange notes to level out the balance?

  3. Hai!
    you are a lot like me. I’m used to doing everything by myself, so even in a relationship, asking my SO to do this and to do that is more like my effort to push his ego. I feel like i can do everything by myself, but i find it more fun to do things with my partner. However, if he can’t make it, i see no problem in doing everything by myself. It’s a lot easier actually ;p

    1. high five but what bugs me the most is that there are people who desperately want to feel needed and wanted, that somehow, being used to do everything by oneself is considered … odd. Somewhat.

Leave a Reply