Kangen Twitter yang Dulu

KATANYA, sekarang makin banyak orang yang malas nge-tweet. Mereka kembali asyik dengan Facebook yang penuh tautan artikel entah dari media apa, sibuk jadi fotografer atau model musiman untuk Instagram, Pamer Anak, Tempat, dan Hidangan menggunakan Path, atau rajin membagi cuplikan gambar dan video singkat yang bisa kedaluwarsa pakai Snapchat.

Sudah ada banyak survei untuk membaca dan memetakan alasan orang-orang jadi malas nge-tweet. Tanpa membaca itu semua, sebenarnya bisa ditebak penyebab utamanya adalah kebosanan, baru kemudian disusul dengan alasan-alasan teknis lain. Seperti aktivitas (ro)bot yang merajalela dan nge-SPAM, dijadikan marketing tool secara berlebihan serta untuk mendulang popularitas semu, sikap caper yang norak bahkan brutal, dan sebagainya.

Memang bagaimanapun juga, tidak ada satu hal pun yang luput dari perubahan. Tapi yang jelas, Twitter lima tahunan lalu itu ngangenin. Banget. Anak-anak lama Twitter pasti masih ingat rasanya. Malah boleh dibilang, blog gotong royong ini salah satu hasilnya. šŸ™‚

Pada 2009 (mohon koreksi bila keliru), mulai bermunculan early adopters alias pengguna-pengguna awal Twitter di kota-kota besar pulau Jawa. Apalagi yang kuliah atau kerja di luar negeri, bisa jadi sudah punya akun Twitter jauh lebih lama. Saat itu, Facebook masih lumayan baru, menggantikan Friendster yang halaman profilnya bisa dipasangi lagu.

Sempat enggan beberapa kali ketika ditawari untuk signup, saya sendiri baru punya akun Twitter pada November 2009. Sejak Twitter-an, saya baru sadar jika media sosial ini ternyata bukan sekadar mainan.

Makasih banyak untuk Acil Farah Dompas yang sudah mengenalkan jagat Twitter saat itu. šŸ˜€ Kalau tidak Twitter-an, pasti enggak bakal kenal sampai bisa bertukar pikiran dengan banyak orang. Termasuk para penulis Linimasaā€“minus Mas RoySayur. Kalau tidak Twitter-an, enggak bakal merasakan deg-degan saat akan bertemu dengan orang baru, di lingkungan yang baru pula. Kalau tidak Twitter-an, tak ada dorongan untuk belajar menyampaikan pesan dengan kalimat singkat, yakni hanya dalam 140 karakter. Kalau tidak Twitter-an, cenderung susah untuk dibikin melongo saat mengetahui perspektif baru yang benar-benar memperkaya wawasan. Sebab, beda banget antara membaca dan mendengar langsung dari penuturnya.

Pernah pakai Orangatame? šŸ™‚

Meski sudah punya akun Twitter sejak November 2009, namun saya baru benar-benar aktif Twitter-an sejak awal 2010. Nge-tweet jauh lebih asyik ketimbang Facebook-an, sebab ditunjang jenis gadget dan aplikasi yang tersedia. Pas banget, saat itu baru dapat BlackBerry hadiah undian. Kemudian iseng cari-cari, ketemu beberapa Twitter Client atau program khusus buat Twitter-an yang diburu OTA-nya. AdaĀ TwitterBerry, BBTweet, dan BlackBird. Masing-masing punya user experience yang unik. Setelah ketemu Seesmic dan UberTwitter, aktivitas nge-tweet bertambah intens dan kian menyenangkanā€“terusĀ dicemburuin mantan. Sampai SocialScope booming dengan eksklusivitasnya kala itu, dan hasil pertemanan via Twitter berubah jadi tweet-up, pertemuan.Ā Menariknya, minimĀ kecanggungan saat pertama kali bertemu. Kecuali kalau orangnya cantik/cakep gak ketulungan, bisa bengong. Keakraban di Twitter juga langsung terjadi ketika ā€œkopi daratā€, atau memang sayanya saja yang petakilan.

Saya ingat banget, tweet-up perdana justru terjadi di Samarinda dan Balikpapan. Ketika dua teman Twitter memberanikan diri datang ke Kalimantan untuk pertama kalinya, dan ditemani orang asing: saya.

Masa itu, Twitter-an bukanlah perkara angka followers belaka, melainkan jalur komunikasi yang sungguhan. Barangkali naif, tapi saya justru merasa Twitter-an pada waktu itu berlangsung sangat sincere, di era ketika Social Media Strategist dan Social Media Manager, juga Professional Buzzer belum dikenal sebagai sebuah profesi. Semua orang yang Twitter-an, benar-benar merupakan dirinya sendiri, dan saling menjangkau satu sama lain. Di satu sisi, wajar bila banyak orang ingin merasa lebih terhubung dengan idolanya. Di sisi lain, banyak pula pesohor yang ingin santai sejenak sambil Twitter-an menggunakan nama samaran, atau menyuarakan pendapat tanpa perlu khawatir tweet-nya dikutip dan dijadikan konten artikel berita.

Apakah saya pernah cari/dapat duit lewat Twitter? Baru sekali, itu pun di tahun ini. Enggak banyak, tapi lumayan. Hitung-hitung nyicip sekali-kali. Hahaha.

Akan tetapi, lagi-lagi perubahan tak bisa dihindari. Saat jumlah pengguna Twitter terus bertambah, angka followers pun mulai jadi ilusi popularitas. Sampai-sampai ditandai dengan beberapa kejadian lucu. Sebutan selebtweet dimunculkan, berbarengan dengan seruan ā€œfoll-back dong!ā€ yang kalau tidak dipenuhi bisa bikin drama hubungan sosial. Seolah hubungan sosial di kehidupan nyata sesempit interaksi maya di Twitter.

Pengguna Twitter digelari Twitterist atau Twitterian. Tata krama nge-tweet pun dinamakan Tweetiquette, yang salah satu poinnya kurang lebih ialah: ā€œdengan di-follow seseorang, berarti orang tersebut sudi dan bersedia untuk menyimak isi timeline kita. Mereka harus dihargai.ā€ Tak heran bila apresiasi ini ditunjukkan dengan #FollowFriday yang sudah hilang lebih dari setahun terakhir. Bukan hanya asal promosi akun Twitter, karenaĀ dibarengi dengan alasan.

Tak ketinggalan, banyak kasus seseorang yang terkesan sangat supel, berwawasan luas, dan riuh di Twitter, ternyata sangat pendiam, kurang luwes bergaul, bahkan tidak berani hadir secara fisik di kehidupan nyata. Jauh berbeda dengan apa yang ditunjukkan di layar gadget. Pun begitu perihal foto avatar, dibuat agar terlihat secaem mungkin.

Di samping itu, konon kabarnya, tak sedikit pula yang memanfaatkan Twitter untuk mencari dan bertemu dengan teman bobo-bobo lucu (cuma konon, soalnya saya enggak pernah) šŸ˜› Entah, apakah masih marak sampai sekarang atau kembali ke metode konvensional, sejak semesta Twitter makin penuh dengan alter ego dan akun bisyar. Enggak lucu kalau habis ā€œmalam keakrabanā€ ternyata malah disodori tagihan.

Saya masih ingat ketika dulu bertanya tentang fungsi tanda pagar kepada mba beliaw. Perlu sekitar 20 menit untuk ngeh bahwa hashtag adalah tanda pagar, dan fungsinya untuk memudahkan pencarian serta penyusunan trending topic. Akan tetapi sejak tiga tahun terakhir, kemunculan hashtag pasti dibarengi kecurigaan: ā€œini mau launching/jualan/promosi/activation apa lagi ya?ā€ Ada prasangka. Itu sebabnya, salut untuk para pemilik akun yang superkreatif bikin mainan dan lucu-lucuan pakai hashtag, karena enggak gampang.

Ya begitulah kiranya, suasana Twitter-an yang dirindukan dari sekira lima tahunan lalu. Ada yang masih bertahan, ada pula yang sudah deaktivasi. Pastinya, Twitter-an saat ini tentu masih bisa dinikmati, kendati tak sama seperti dulu lagi. Dan saya, sekarang, masih kepengen bertemu serta ngobrol langsung dengan beberapa kenalan Twitter yang belum pernah bersua. Sejauh ini, selalu menyenangkan rasanya. šŸ™‚

[]

Iklan

17 thoughts on “Kangen Twitter yang Dulu

  1. Saya mulai pake twitter Agustus 2009. Inget banget dulu hashtag hype di social circle saya adalah #jfb alias janji follow back. Jadi siapapun yg bersedia harus saling follow-memfollow. Untuk kemudian berteman atau tidak silakan saja. Tapi saya inget ada beberapa yg akhirnya tukeran pin bbm dan ngobrol panjang lebar. Sayang ngga sampe jadian #eh Maksudnya ngga sampe ketemu šŸ˜€

    Jaman follow-memfollow itu soal temenan, jaman nggak ada gap dan istilah-istilah selebtweet dan popularitas semu. Ah, saya rindu :”)

    Suka

  2. Sejak tahun 2010 sampai sekarang masih setia pakai Twitter karena Facebook bagi saya itu media sosial untuk menampilkan berita drama dan selalu saja ada orang yang minta di amin-kan melalui tombol “Like” yang katanya bisa bawa kita ke surga. šŸ˜€

    Suka

  3. Enaknya twitter bisa mencuit lebih leluasa pikiran random, meski di lingkaran temen malah jadi tempat sampah unek2 nomention. Kalo aneh2 sedikit di socmed lain biasanya bakal risih dikomentarin.

    Kadang melihat isi pikiran yang random, terutama favorite dan list, tentunya dengan menyaring pencitraannya, sedikit banyak bisa jadi acuan nebak karakter. Manusia kayak gunung es, porsi yang tersembunyi di bawah permukaan lebih besar. Dan jauh lebih menarik.

    Suka

  4. Saya pertama kali twitter-an menggunakan akun pseudonim. Isinya curhatan pribadi, kadang nyinyirin orang juga. Dan itu kayak tahun 2008-an, jaman-jaman awal SMA. Twitter masih belum begitu rame di Indonesia. Tahun 2012 saya buat akun baru dengan nama asli. Awal-awal isinya juga masih curhat-curhat, tapi lama-lama jadi agak risih karena teman-teman mulai mengendus aktivitas saya. Sehingga tiap kali curhat pasti langsung ada yang nyuit balas. Dan sejak itulah saya mulai undur diri dari akun pribadi saya.

    Sempat aktif lagi pas 2013 karena dapat tugas megang akun twitter satu organisasi. Jadi kerjaan saya ngecuit di akun organisasi itu, lalu saya ritwit pakai akun pribadi. Haha. Tapi begitu tugas saya selesai, akun saya mati lagi.

    Beberapa hari lalu saya sempat ngecek, isi notifikasinya mensyenan dari akun online shop semua dongss. Huhu. Dan benar, timeline sekarang isinya sambungan pos dari akun instagram, ask.fm. Ga asik. #eh

    Suka

  5. Saya pakai Twitter dari 2010, dari SMP. Teman-teman yang lain baru pada aktivasi dan rame pas saya SMA. Jawaban tugas dan contekan semua dimasukkin ke Twitter lewat akun pribadi kelas. Pasangan-pasangan cinta monyet saling sapa selamat pagi lewat Twitter. Ngebully adik kelas pun lewat Twitter. LINE belum booming. Grup BBM sudah ada, tapi nggak sebegitu seru. Sekarang akun teman-teman saya sudah berubah isiannya jadi postingan Pamer Anak, Tempat, dan Hidangan, atau Instagram. Sisa saya sendiri yang suka ngoceh di Twitter. I miss the old days.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s