Elegi Dini Hari

Dia sudah berada di rumah kami sejak saya masih kecil. Sejak saya masih suka ngompol di kasur kalo bangun tidur. Hampir setiap hari dia selalu membuatkan saya sarapan. Dia juga yang suka mencuci pakaian kami. Menjemurnya. Menyetrikanya. Memilahnya. Baju ini punya siapa. Celana ini punya siapa. Kaos kaki ini punya siapa. Dari semenjak belum ada mesin cuci sampai ada mesin cuci. Tapi dia lebih suka memakai tangan. Saya suka bilang pakaian saya mah gak usah dicuci beneran. Rendem aja. Paling kotor sama keringat aja.

Namanya Mak Inah. Kadang kami memanggilnya Mak Inne. Usianya memang sudah tidak muda. Sudah kepala enam. Mendekati usia Paul McCartney. Kita mungkin menyebutnya pembantu. Tapi saya tidak pernah sreg dengan istilah itu. Terlalu merendahkan. Asisten rumah tangga mungkin yang paling mendekati. Tapi kami selalu menganggapnya sebagai keluarga. Kami tidak pernah marah padanya. Kami tidak mengharuskannya memakai seragam seperti suster di rumah sakit kalau bepergian ke mall. Kami tidak pernah membedakan. Hampir setiap hari dia bersama kami. Kadang makan siang bareng sambil bersenda gurau. Kami dekat sekali. Lebih dekat dari saudara kami lainnya sekalipun. Bahkan salah satu anak laki-lakinya yang ikut membantu di rumah kami. Kami sudah tidak canggung lagi. Kami memberinya dua kamar kost-kostan  di dekat rumah kami. Karena mereka tidak berdomisili di Bandung sebelumnya.

Saya sempat tanya di grup Whatsapp Linimasa dan beberapa teman lainnya. Uang pesangon itu itungannya gimana sih? Saya tidak tahu. Belum pernah dapet uang pesangon. Tapi Mak Ijah sangat layak mendapatkannya. Dedikasinya tidak bisa diragukan. Integritasnya melebihi dari Dirut BUMN yang pernah ada di negeri ini.

Sampai pada suatu hari di bulan November lalu. Beliau mengutarakan bahwa dia tidak akan bersama kami lagi. Anak tertuanya meminta dia untuk menemaninya. Beliau baru memiliki rumah dan anak di daerah Cicalengka. Dia ingin ibunya menemaninya dan juga mungkin bermain bersama dengan cucunya di usianya yang sudah semakin senja. Kami mendengar kabar itu merasa terhenyak. Senang tapi juga sedih. Kami tahu waktu itu akan datang. Waktu tidak pernah berhenti. Tapi kami tidak akan pernah siap. Dan tidak akan pernah ada yang bisa menggantikannya. Adakah di sini yang mempunya ART yang bertahan lebih dari dua puluh lima tahun?

goodbye

Terlalu banyak kenangan yang harus dirangkai. Dua puluh lima tahun bukan waktu yang sebentar. Bahkan buat seorang karyawan kantoran, teman, sahabat,  musuh, atau pasangan hidup sekalipun. Saya bahkan sedang mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan selamat tinggal. Tapi sepertinya saya tidak akan pernah bisa.

Pileuleuyan Mak Inah. Sapu nyere pegat simpay. Pileuleuyan, Mak Inah. Wilujeng paturay patepang deui.  Saya kangen nasi goreng bikinan Mak Inah. 

 

NB: Musik saya ambil dari komposisi milik Ennio Morricone untuk film Nuovo Cinema Paradiso.  

 

Posted in: @linimasa

4 thoughts on “Elegi Dini Hari Leave a comment

Tinggalkan Balasan