Selamat Libur Pilkada Serentak se-Indonesia!

AKU tidak percaya! Aku menolak untuk percaya!

Sun Wukong berteriak marah kepada Rulai. Ia tidak terima dianggap kalah mandraguna, dan disebut hanya terbang berputar-putar di telapak tangan Sang Buddha, yang dikiranya adalah ujung dunia. Sayang, ia tak sempat kembali melesat ke angkasa. Rulai membalikkan telapak tangannya, mengimpit si raja kera, kemudian mengubah beban itu jadi sebuah bukit yang menjulang tinggi.

Di dasar bukit tersebut, Sun Wukong harus terpenjara 500 tahun lamanya.

Berubah, belum tentu berarti kalah.

Dalam beberapa kasus, kompromi dan perubahan yang diizinkan terjadi justru menghindarkan sesuatu dari keusangan maupun kejenuhan, sekaligus bersifat fungsional. Sehingga membuatnya kembali mudah diterima, menjadi sesuatu yang baru dan segar, ataupun memperkaya yang sudah ada.

Akan tetapi, hal ini tidak berlaku untuk ajaran agama dan ragam pelaksanaannya. Terlebih pada agama-agama samawi atau agama langit, yang terdiri dari sekumpulan tradisi ilahiah dari atas, dan karenanya tidak boleh diganggu gugat oleh manusia dengan segala kelemahannya sebagai hamba.

Dengan batasan-batasan yang kaku, sakral, serta dianggap bisa berdampak supernatural dan supranatural, perubahan serta perbedaan sekecil apa pun dalam ajaran agama bisa dianggap pelecehan, penghinaan, juga penyesatan. Pilihannya hanya dua: munculnya perselisihan, atau keluar dari sistem yang ada dengan nama baru.

Lain cerita dengan agama-agama non-samawi, yang oleh sebagian orang dianggap beda kelasnya. Termasuk yang nuansanya kental terasa dalam cuplikan cerita di atas.

Bisa dibayangkan. Apabila Buddhisme serta pernak-perniknya tidak “diimpor” dan dikenal bangsa Tionghoa, barangkali Wu Chengen, pujangga ternama di era Dinasti Ming, tidak terpikir untuk menulis epos fantasi seseru “Kisah Perjalanan ke Barat”. Cerita mitologi sarat pesan moral yang berulang kali difilmkan sampai sekarang.

Selain itu, entah, apakah Wu pernah menyangka bila salah satu dampak dari epos tersebut adalah pengkultusan tokoh-tokoh ciptaannya. Terlebih Sun Wukong, yang dipuja bahkan didewakan, lengkap dengan perayaan hari lahir, serta kelenteng yang didedikasikan khusus di sejumlah kota di Tiongkok, Hong Kong, dan lainnya.

“Kisah Perjalanan ke Barat” dan pendewaan Sun Wukong ialah salah satu contoh “keunikan” kehidupan religius bangsa Tionghoa, yang telah terbentuk, dianut, dan berlangsung selama lebih dari 2 ribu tahun terakhir. Unik dengan tanda petik lantaran terlalu luwes, menghasilkan paduan yang sedemikian rupa.

Lazimnya menurut perspektif monoteisme yang samawi, tentu akan terjadi silang pendapat, perdebatan, dan klaim sebagai ajaran paling benar bila dua paham dipertemukan. Namun di dataran Tiongkok, baik Buddhisme mazhab Mahayana dan ajaran Tao yang esoteris saling berpilin, saling mencocokkan/dicocok-cocokkan, akhirnya membentuk kepercayaan pagan seperti yang dikenal hingga sekarang. Menghasilkan tiga besar kelompok religius: penganut Buddhisme, pembelajar Tao, dan umat kepercayaan tradisional (gabungan Buddhisme dan Tao) dengan jumlah yang lebih banyak.

200782521161768338_vjchpt7IVAgz
Kahyangan ala Tionghoa, tempat para dewa Tao dan figur Buddhisme Mahayana ngumpul. Sila dihitung, berapa kisah mitologi yang ada di dalamnya.

Contohnya, kembali ke tokoh Sun Wukong. Lahir secara magis (Tao), belajar dan mendapat kesaktian secara Tao, serta mengacaukan surga dan dewata Tao, kemudian dihukum oleh Buddha Rulai, menjadi murid dan pengawal Biksu Tang Sanzang, dibantu oleh Dewi Guanyin atau Bodhisatva Avalokitesvara, hingga akhirnya mendapat anugerah kedewaan dari Buddha sesampainya di Tanah Barat. Dan kini, disembahyangi ala Tionghoa di kelenteng-kelenteng. Campur baur.

Toh dikisahkan, para dewata Tao beserta seisi Istana Langit tidak sanggup menaklukkan si raja kera. Sampai-sampai Buddha Rulai ikut turun tangan, menyiratkan keunggulan. Seolah-olah surgaloka Tao dan Buddhisme sebelah-menyebelah, bertetangga. Tinggal ketok, minta tolong. Dalam bagian ini, Wu kayak menunjukkan bahwa Buddha jauh lebih sakti dibanding Kaisar Langit sekalipun. Seperti untuk menarik perhatian anak-anak. Padahal, Buddha Rulai yang disebut bukanlah figur historis Siddhattha Gotama (Sanskrit: Siddhartha Gautama), melainkan konsep kontemplatif yang dianut mazhab Mahayana.

Ini tidak hanya terjadi pada Sun Wukong, atau tokoh-tokoh mitologis saja kok. Budaya religius bangsa Tionghoa juga tidak sungkan-sungkan mengkultuskan dan mendewakan sosok historis setelah kematiannya (misalnya Jenderal Guan Yu alias Dewa Guan Gong alias Bodhisatva Sangharama), serta menyadur figur-figur ajaran lain untuk didewakan secara langsung (misalnya Bodhisatva Avalokitesvara yang seorang pria, mengalami perubahan menjadi Dewi Guan Yin). Bahkan hikayat panteon atau dewa-dewa populer Tionghoa bisa dibaca dalam berbab-bab kisah “Penganugerahan Para Dewa” (Mandarin: “Fengshen Yanyi”, Jepang: “Hoshin Engi”). Lengkap dengan dramatisasi kisahnya masing-masing.

Lebih dari itu, budaya religius ala Tionghoa yang sangat akulturatif juga terjadi di Indonesia. Buktinya, di Gunung Kawi, Malang; di Sungai Kerbau, Samarinda; ada Sanggar Agung di Kenjeran, Surabaya; di Kelenteng Sam Po Kong, Semarang; dan masih banyak lainnya.

Apabila di Indonesia bernuansa Kejawen, di Malaysia dan Singapura justru dengan atmosfer Hindu. Mau bukti? Di Kuil Sri Mahamariamman, Batu Caves, Malaysia, ada saja warga Tionghoa yang sembahyang menggunakan hio. Begitu pula di depan salah satu kuil Hindu di kawasan Chinatown Singapura, sengaja disediakan satu hiolo atau bokor tempat menancapkan hio. Dan, ada warga Tionghoa yang menyembahyanginya.

Dalam beberapa paragraf di atas, disebutkan bahwa hanya ada dua pilihan: munculnya perselisihan, atau keluar dari sistem yang ada dengan nama baru. Mungkin budaya religius Tionghoa ini adalah anomali. Sebab tidak ada budaya religius lain, yang mengalir begini.

DSC02591
See? Warga Tionghoa, menyembahyangi dewa-dewa Hindu, dengan metode Tionghoa pula. (Foto diambil tahun 2008)

Lalu, apakah dengan mencampur-campurkan ajaran tersebut membuat kepercayaan tradisional Tionghoa pantas dianggap konyol dan keliru?

Kalau Anda adalah seorang penyebar agama, bisa jadi jawabannya iya. Jadi penganutnya harus disadarkan, istilahnya.

Tapi apabila Anda adalah seorang ahli ilmu sosial dan psikologi sosial, keunikan ini tentu sangat menarik perhatian. Sebuah keragaman yang bikin betah untuk ditelaah.

Beda sudut pandang.

[]

Oya, selamat berhari libur Pilkada buat kamu yang ada di 269 daerah se-Indonesia.

Hari libur gini, ke mana? 😀

4 thoughts on “Selamat Libur Pilkada Serentak se-Indonesia! Leave a comment

  1. Adakah referensi yang bisa dibaca ( yg online saja dulu ),
    atau diceritakan secara singkat,
    bagaimana hindu dan budha lahir di tanah india?

    karena saya juga pernah memasuki temple budha yang berisi dewa-dewa hindu ( seperti bertangan banyak, atau serupa dengan yang pernah saya lihat di film2 india ) di daratan cina.

    waktu itu saya merasa aneh,
    tapi kemudian lupa.
    hahahhaha

    1. Kalau referensi singkat, cukup Wikipedia sih. Hahaha…

      Sedangkan kalau merasa ada kuil Buddhisme tapi berisi patung-patung dewa Hindu, mungkin mesti lebih spesifik lagi sih. Soalnya kalau figur tangan banyak itu umum dalam kedua ajaran, dan biasanya tampilan begitu karena ada cerita khusus. Bedanya, di Buddhisme figur-figur tersebut bukan dewa, dan semestinya tidak disembah/disembahyangi. Setidaknya di mazhab-mazhab utama.

      Kurang lebih begitu sih.

Leave a Reply