Linimasa untuk Saya #Pengakuan

Tak sampai sebulan lagi, tahun 2015 akan berakhir. Harusnya 2016 dimulai. Bagi para pembaca linimasa.com yang selalu mengikuti tulisan saya, berarti kita sudah bersama selama lebih dari setahun. Tulisan kali ini, merupakan rangkaian pengakuan-pengakuan pribadi selama menulis untuk linimasa. Tujuannya tak lain, supaya kita semakin saling mengenal. Mana tau hubungan kita akan semakin akrab dan kita berteman sampai akhir hidup. Amigos Para Siempre!

Sebelum menulis di linimasa, saya sempat punya blog pribadi. glennmarsalim.blogspot.co.id Punya Glenn namanya. Saya aktif menulis di sana sejak 2005 sampai 2011. Berhenti menulis di blog sampai pertengahan 2014, @RoysSayur mengajak saya masuk dalam daftar penulis untuk linimasa.com

Saya ho-oh ho-oh aja, karena saya tidak punya konsepsi apa pun soal menulis di blog secara rutin. Tadinya saya pikir hanya sesekali. Sampai ketika perbincangan di Whatsapp group baru saya tersadar kalau saya diwajibkan untuk menulis setiap minggu. “Dulu waktu blog sendiri aja paling sebulan sekali, ini buat blog bersama malah mesti seminggu sekali”. Janji sudah kepalang janji, yaudah deh. Jalanin aja yuk Cyin!

Di awal saya menulis untuk linimasa ada beban pribadi yang terus menemani. Beban itu adalah terkait erat dengan alasan mengapa saya berhenti menulis blog pribadi. Mungkin buat orang tidak masuk akal. Tapi karena pada saat menulis, ada bukti de facto mengenai pemikiran, perasaan, harapan, impian dan segala hal yang pribadi, selamanya. Bahkan postingan sudah didelete pun kadang masih ada yang sempat menyimpannya. Untuk saya yang orangnya lebih sering gonta ganti pikiran dan pasangan, hal ini tentu memberatkan.

Dulu saya aktif mengajar di universitas. Dosen tamu istilahnya. Mengajar tentang periklanan. Ada kejadian yang mengubah pemikiran saya mengenai menulis di blog pribadi sampai saat ini.

Kejadiannya begini. Saat sedang serunya mengajar, tiba-tiba salah seorang murid mengangkat tangan dan berkata “tapi saya baca di blog mas glenn, menurut mas …” dan itu berbeda dengan yang saya ajarkan saat itu. Mulut saya mengoceh terus. Yang pasti pikiran saya melayang. Melayang ke beberapa tahun silam saat tulisan itu saya muat di blog. Lupa. Benar tak ingat. Mungkin saya asal saat menulis itu. Atau tak pikir panjang atau iseng…

Wuanjing! Artinya apa yang gue tulis di blog akan selamanya bisa dibaca orang. Bagaimana kalau saya berubah? Bagaimana kalau tindakan saya berbeda dengan yang saya tulis di blog? Bagaimana saya bisa mempertanggungjawabkannya? Dan yang terpenting, gimana caranya saya bisa ngeles?” Dalam hati saya berpikir. Menulis di blog artinya mengabadikan.

Suatu senja di Bali, saya beruntung bisa bertemu dengan @RoySayur. Kesempatan itu saya gunakan untuk menyampaikan “beban” menulis di blog selama ini. “Mungkin karena selama ini kamu sering berburuk sangka sama orang, makanya kamu parno sendiri” kata @RoySayur seraya menyampaikan bahwa dikenang itu ada tertulis di AlQuran. Saya lupa persisnya. Mungkin Roy benar. Saya diam saja. Hati saya menyangkal. Apa pun, ada baiknya untuk tidak berburuk sangka. Setelah kami berpisah, saya toh tetap harus bertemu Minggu. Hari menulis. Lagi. Hidup berjalan seperti biasa.

Kalau teman-teman mengikuti saya dari awal, saya menghindari menggunakan kata “saya” di tulisan saya. Penulis adalah orang ketiga. Penyampai saja. “Gue mau iseng ah, latian nulis gak pake kata “saya” di blog” kata saya di Whatsapp Group linimasa. Padahal alasan sebenarnya tentu karena saya enggan untuk terlalu terbuka. Saya was-was kalau apa yang saya tulis kemudian dikenang. Setidaknya karena tidak ada kata “saya”, masih bisa ngeles “yang nulis bukan saya”.

Sesaat setelah Juni 2015, Printerous.com diluncurkan. Portal yang menyajikan kreasi-kreasi seniman muda. Jantung saya berhenti sebentar ketika saya melihat karya ini:

spacewanderer-pramoedya

Persis banget! Gue banget! Persis yang saya tidak inginkan. Saya tidak ingin diabadikan. Konsep yang menakutkan untuk saya. Inginnya kalau saya sudah tiada, maka tiadalah. Biarkan jejak kaki saya di pantai tersapu air laut yang membawanya untuk menyatu dengan abu jenazah saya.

Mungkin ini juga mengapa sampai sekarang saya tidak mudah mengingat sejarah. Pelajaran sejarah adalah salah satu pelajaran terberat waktu sekolah. Kalau perlu, baru kita cari tau. Tapi tidak perlu tau yang tidak perlu. Apalagi tidak relevan untuk kehidupan saya sekarang. Ini pula yang bikin saya sering menguap saat orang sedang menceritakan sejarah. Apa pun.

Ada 3 alasan mengapa saya tetap menulis di linimasa. Pertama, karena janji dan komitmen saya kepada @RoySayur. Kedua, karena di kehidupan saya yang serba lepas sebagai pekerja lepasan (freelancer) ternyata mencari rutinitas. Ketiga, karena saya ingin mencari dan mengenali kehidupan saya dan sekitar. Saya hanya bisa menulis apa yang saya tau, apa yang saya rasakan, apa yang saya alami. Saya tidak bisa menulis fiksi dengan baik. Saya tidak bisa mendongeng yang membius. Beruntung topik awal yang diberikan kepada saya adalah trend dan lifestyle. Walau dalam perkembangannya, saya bisa menulis apa saja.

(bersambung)

 

 

Posted in: @linimasa

20 thoughts on “Linimasa untuk Saya #Pengakuan Leave a comment

  1. Isian Tumblrku semuanya tentang cerita-ceritaku yang sudah lewat. Terlebih bentuk terapi yang ditawarkan konselorku dulu itu ya menulis, dan ternyata memang menulis itu sedikitnya membantu..

  2. “Menulis untuk keabadian” gak pernah kumaknai mengabadikan orangnya, melainkan kehidupannya. Kelak, tulisan yang dibaca seribu generasi berikutnya ttg hari ini bisa ngasih mereka sekilas gambaran ttg, yaaa, kehidupan hari ini. Bukan tentang orangnya.

    Kalau soal berubah baik kelakuan, ide, pola pikir, maupun nilai-nilai yang dipegang… Bukannya itu yang namanya bertumbuh? Alias hidup. Karena kalo maksain konsisten, berarti pola pikir Papah Glenn hari ini kudu sama dg pas masih bocah dong? Cem mana. Pengalaman hidupnya aja udah segudang. -.-

  3. Sama. Saya juga gak mau diabadikan, tapi punya blog juga sih. Dulu waktu awal-awal ngeblog, semuanya ditulis. Tapi terus mulai mikir kalau saya gak mau orang2 tau terlalu banyak tentang saya. Akhirnya tiap mau nulis di blog harus pilih-pilih dulu. Yang gak terlalu pribadi baru ditulis di blog, tapi yang pribadi mending ditulis di buku harian bergembok. Hahaha.

  4. deg! baca tulisan ini. karena ga cuma satu hal yang dulu saya tulis sekarang tidak lagi saya lakukan.
    meski kadang seru juga kalau baca2 tulisan lama. karena dari situ saya jadi tahu kalau pola pikir saya berkembang (meski itu artinya saya ga konsisten dengan apa yang saya tulis dulu).
    ditunggu sambungannya om Glenn. maaf malah curhat

  5. Berarti ketakutan itu bukan cuma milik saya ya… Dilain hal pengen banget cerita tentang sesuatu yg dialamin yg mungkin membuat orang lain tercekat, tapi dilain sisi saya juga gak mau orang2 tau itu saya…walau belum setenar kalian para penulis linimasa. Akhirnya ga brani utk ditulis dan menelan ceritanya sendirian, krn utk curhat pada orang lain pun saya gak rela mereka tau saya yg sebenarnya. 😞

    1. napa takut?
      menulis terus dan terus menulis.
      terus terus terus dan terus.

      kalau kuatir soal identitas kan bisa pakai pseudonym. misal glenn marsalim. itu nama samaran. nama aslinya unyu bin selamet.

Leave a Reply