Soal Panjat-Memanjat

MENURUT Mas Roy beberapa pekan lewat, bahwasanya Path adalah aplikasi media sosial yang paling cocok untuk Pamer Anak, Tempat, dan Hidangan. Barangkali beliau sedang berbaik budi kala itu, lantaran senyap menyinggung tentang fungsinya sebagai salah satu instrumen vital dalam kegiatan paling penting umat manusia zaman sekarang: pemanjatan sosial.

Kehidupan sosial spesies kita mirip piramida rantai makanan, mengerucut ke atas. Mereka yang bisa dibilang unggul secara sosial, berada pada posisi puncak. Beberapa indikatornya adalah reputasi, popularitas, dan lazimnya dibarengi dengan keleluasaan ekonomi sehingga menghasilkan signifikansi. Paduan dari itu semua tentu bikin banyak orang kagum sekaligus iri. Singkat kata, makin berada di atas piramida sosial, maka makin selebriti lah seseorang tersebut.

Untungnya saja, kita tidak perlu berevolusi jadi pemangsa untuk bisa merintis jalan menuju atas, turut menumpang tenar, dan ikut diidentikkan dengan para selebriti sebenar. Yang diperlukan hanyalah kemampuan memanjat jenjang piramida tadi. Apalagi di era media sosial seperti sekarang ini, ketika foto, rekaman video, dan bentuk-bentuk dokumentasi lainnya mudah disebarluaskan serta diakses publik. Misalnya, dengan sering-sering mengunggah foto wefie bersama selebriti di kafe, party-party, maupun berbagai tempat menongkrong masa kini, kita pasti ketempelan label populer. Minimal dikenal sebagai temannya si anu dan si inu.

Foto ini seksis? Eit, siapa yang bisa memastikan apakah ini cewek atau cowok? Hayolo…

Adapun dimaksud selebriti di sini, tidak mesti artis yang saban hari wajahnya muncul di layar televisi. Orang-orang terkenal dengan lingkar pergaulan paling hits seantero kota pun masuk dalam kategori ini. Toh mayoritas artis benaran sudah telanjur ber-KTP Jabodetabek. Selain itu, pastinya harus menarik secara visual. Entah dari wajah maupun bentuk tubuh, penampilan dan barang-barang yang dikenakan, jenis kendaraan yang tidak pasaran, lokasi kongkow atau tempat berlibur, karya seni yang dibuat, dan sebagainya. Pokoknya, mereka-mereka yang bisa memunculkan pertanyaan: “temanmu itu siapa sih? Keren banget!” Kita yang ditanyai, pasti juga ikut-ikutan berasa keren, karena bergaul dengan orang-orang keren. Hahaha!

Apakah aktivitas social climbing ini mudah untuk dilakukan? Kelihatannya sih iya, padahal ya tetap harus pakai usaha. Setidaknya harus menyesuaikan penampilan dan gaya, dan yang paling penting adalah maintenance keakraban dengan grup sang primadona. Ya kalau memang dari sananya sudah mampu, sah-sah saja. Masalahnya justru muncul ketika seseorang memaksa dirinya terlampau keras untuk tetap sanggup menjalani situasi ini.

Lalu, bila ditanya buat apa berlelah-lelah ria bahkan sampai pontang panting menguras isi tabungan demi ini, jawabannya paling-paling hanyalah popularitas dan ilusi VIP Access yang mudah sekali menguap hilang. Selebihnya, hanya orang oportunis yang benar-benar mampu memeras kesempatan ini untuk kepentingan yang lebih material. Ya ndakpapa sih, hitungannya rezeki masing-masing. Jika demikian, kemungkinannya hanya dua: aji mumpung memanfaatkan ketenaran lingkungan pergaulannya, atau terinspirasi untuk membangun kekerenannya sendiri setelah belajar dan menyerap peluang.

Harap dipahami. Jelas ada perbedaan yang sangat besar antara hubungan pertemanan atau persahabatan, dan social climbing. Apabila memang kebetulan berteman dengan orang-orang hebat, tentu saja tidak perlu ada fakeness di dalamnya. Janjian, lalu ngafe bareng. Foto bareng, karena memang sama-sama gila foto. Penuh dengan obrolan yang saling nyambung tanpa perlu ketawa terpaksa dan sejenisnya. Cukup sudah. Pun dibarengi dengan kesukarelaan untuk menjaga yang patut dijaga. Tahu sama tahu, bukan malah disebarluaskan.

Sayangnya, kalau sudah social climbing, seringkali harus ada yang dipas-paskan. Namun malah bisa saling menjelek-jelekkan di belakang. Cipika-cipiki dan perbincangan sekadar jadi basa basi pergaulan. Enggan berhenti berteman, karena ada pamrih yang sayang untuk dilewatkan. Begitu tujuan tercapai, baru deh menghilang dari peredaran. Kan itu codot namanya.

Perbedaan antara hubungan pertemanan dan social climbing ada pada respons lanjutan. Umumnya, seorang pemanjat sosial memutuskan bergaul dengan seseorang demi bisa masuk ke lingkup yang lebih luas. Setelah kenal dengan orang lain yang punya pengaruh lebih kuat, biasanya kenalan pertama dinomorduakan. Begitu seterusnya. Ditandai dengan mulai pilih-pilih teman menongkrong, sampai cuek total. Malah kadang ada yang kembali jadi remaja puber. Bisa gonta-ganti geng kayak di sekolahan. Hari ini temanan dengan si ini, besok temanan dengan si itu pakai bumbu ngata-ngatain. Labil.

Bagi kamu yang mulai membaca gelagat seperti ini di antara teman-temanmu, ya silakan disikapi dengan bijaksana. Apakah didepak langsung, atau tetap dengan welas asih mengajaknya kembali ke jalan yang benar.

Sedangkan bagi kamu yang pengin atau tengah merintis kiprah sebagai seorang social climber, ya terserah sih. Hak masing-masing. Tapi mbok ya ditanyakan apa gunanya ke diri sendiri? Apa untungnya membohongi diri sendiri? Apa enaknya bermuka dua, tiga, empat, dan seterusnya. Buat apa melakukan sesuatu hanya demi dilihat dan dipuji orang lain? Kalau suka bilang suka, kalau tidak ya jujur saja bilang tidak. Begitupun juga kalau mampu ya lakukan, kalau tidak mampu ya enggak usah dimampu-mampukan.

Kalian ndak capek kah?

[]

Nb.: Mudahan saya ndak termasuk seorang pemanjat. Kalaupun pernah, itu berarti dulu khilaf.

Posted in: @linimasa

Tagged as: , ,

4 thoughts on “Soal Panjat-Memanjat Leave a comment

  1. mending pajat pinang deh xixixi, tapi banyak tuh yang keliatan banget cari popularitas pake cara “social climbing” ini. Tapi buat ane, paling seneng kalau dikenal karena emang karya yang bagus aja 🙂

Leave a Reply