Keindahan Tanpa Suara

Sejak siang, Atila sudah resah. Nanti malam mau kencan pertama dengan Andri. Pria paling ganteng di seluruh dunia. Menurut Atila. Mak comblang mereka cukup unik dan #kekinian: Tindr. Setelah lebih dari sebulan chatting dan sedikit teleponan, mereka memutuskan untuk bertemu. Siapa tau jodoh. Toh keduanya sudah sama-sama kepepet deadline. Mari kita akhiri gelar jomblo dan tuntaskan tanggung jawab berumah tangga ini.

Atila, eksmud bekerja di biro iklan Ibukota. Kantornya berada di lantai 25 sebuah gedung tinggi di Sudirman. Usianya 28 tahun. Hampir setiap hari Atila berolahraga di gym. Tak heran kalau tubuhnya langsing dan singset. Perawatan tubuh pun rutin dikerjakannya seminggu sekali. Model rambut klasik, panjang terurai. Lebih sering diikat buntut kuda. Ditambah karir yang membumbung tinggi, umpatan  “cantik-cantik kok masih jomblo ya?” sering di dengarnya. Baik di depan maupun di belakang.

Andri, pemilik perusahaan digital baru. Start Up istilahnya. Usianya 32 tahun. Di sela-sela kesibukannya membangun perusahaannya, Andri juga rajin merawat bentuk tubuhnya. Seminggu tiga kali, ikut kelompok Freeletics di GBK. Dua hari sisanya, Andri anggota paling rajin Jiu-jitsu. Dengan tinggi badan 182 cm, wajah tak kalah dengan model-model di sampul majalah Menshealth. Belum lagi selera Andri akan barang-barang bermerk dan berkualitas tinggi, umpatan  “ganteng-ganteng kok masih jomblo ya?” sering di dengarnya. Baik di depan maupun di belakang.

Mereka berdua kini duduk berhadap-hadapan. Di meja makan pada sebuah restoran semi formal. “Jangan serius-serius dulu lah, kan baru mau kenalan” begitu pikir Andri ketika memutuskan mau kencan pertama di mana. Atila mengenakan baju terusan berwarna hitam panjangnya di atas lutut.  Sepatu teplek tanpa hak. Dan tas bermerk kulit dibeli di Plaza Indonesia lantai dasar. Andri mengenakan kaos berlengan panjang berwarna hitam, dengan celana jeans. Sepatu sneakers kulit. Rambutnya rapih berbalur Pomade.

Setelah masing-masing memesan makanannya, dan pramusaji meninggalkan mereka berdua, tibalah pada bagian yang terberat: mau ngomong apa. Keduanya masih rikuh, sungkan ditambah beban jaim. Jantung mereka berdebar sedikit lebih kencang. Dan sebagai laki-laki, Andri merasa berkewajiban untuk bersikap laki-laki dengan membuka perbincangan.

“Gimana minggu ini?” tanya Andri.

“Yaaah gitulah, sibuk-sibuk gitu… Kamu?”

“Lumayan… Kamu di advertising agency kan ya? Itu ngapain sih?”

“Aku bagian kreatifnya gitu…”

“Wah seru dong. Ngapain aja sih kalo kreatif gitu?”

“Ya gitu deh, bikin-bikin iklan. Kalo start up itu ngapain sih? Sering denger tapi belum ngerti.”

“Yah digital-digital gitu lah. Sebenarnya kita rada mirip sih…”

“Owh ya? Gimana miripnya?”

“Ya gitu… Sama-sama cari klien dan ngerjain yang klien minta kan…”

“Ya sih…”

“Kamu kenapa kerja di advertising?”

“Suka aja. Kamu emang suka digital-digital gitu ya?”

“Iya. Emang kuliahnya juga digital sih.”

“Biasanya malam mingguan ngapain?”

“Kerja. Tapi di rumah. Kamu?”

“Gak ngapa-ngapain…”

“Kamu emang kuliahnya dulu advertising?”

“Iya.”

“Emang suka advertising dari dulu?”

“Hm, gak juga. Lucu aja sih…Kamu?”

“Aku hukum sih sebenarnya.”

“Owh jauh juga ya. Emang suka digital-digital gitu?”

“Seru aja”

“Owh gitu… Kamu hobbynya ngapain?”

“Hm…apa aja sih, yang seru-seru lah. Kamu?”

“Sama lah, yang seneng-seneng aja…”

“Suka masak?”

“Suka”

“Masak apa?”

“Yang enak-enak aja lah… Kalo kamu hobbynya ngapain?”

“Nonton sih aku.”

“Nonton apa?”

“Hm… apa aja yang seru-seru ada di Ambas.”

“Owh di Ambas ada 21?”

“DVD sih, bajakannya…”

“Owh hahahaha aku juga suka nonton sih…”

“Nonton apa?”

“TV. Aku sukanya nonton reality show gitu…”

“Owh ya… aku malah kurang paham. Kardashian gitu ya?”

“Iya. Lucu tuh”

“Kamu suka warna hitam ya?”

“Iya. Seru soalnya.”

“Kamu juga suka hitam?”

“Iya. Lucu soalnya.”

Pramusaji pun datang mengantarkan pesanan mereka masing-masing. Atila dan Andri, lega seketika.

Seperti ini pula rasanya kalau berbincang dengan para seniman muda. Banyak yang memiliki kemampuan teknis prima. Tak banyak yang bisa menceritakan makna karyanya sendiri. “Lucu aja” dan “seru aja” jawaban paling sering yang mereka berikan ketika ditanya. Beri sedikit waktu, semoga mereka semakin matang dan bisa menjadi seniman besar. Yang berkarya dengan hati dan isi. Yang menjadi bagian dari sebuah zaman. Kegelisahan masa kini. Pernyataan jujur atas sebuah kenyataan. Sebentuk mimpi yang menginspirasi makhluk hidup di sekitarnya. Apalagi kalau bisa memberi harapan bagi yang melihatnya.

yi_artists_2014_740

Tak hanya kesulitan bercerita, sebagian besar dari mereka pun masih kesulitan menentukan harga. Jadi silakan berbelanja karya mereka sekarang. Siapa tau suatu saat mereka terkenal dan harga karyanya menjadi milyaran rupiah dan kita tak lagi sanggup membelinya 🙂

kopi-keliling_10112015

Iklan

13 thoughts on “Keindahan Tanpa Suara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s