Ajang Ketika Kita Telanjang

Bagaimana kelihatannya ya, kalau kita telanjang? Sejujurnya saya cukup dangkal untuk peduli akan jawaban dari pertanyaan ini. Mungkin itu juga sebagian (sebagian, bukan hanya) alasan kenapa saya pemerhati gaya hidup sehat termasuk nutrisi, agak mendekati obsesif.

Tetapi selain telanjang yang ini, saya juga sempat terpikir soal telanjang yang lain. Ketika beberapa bulan yang lalu saya ditugaskan untuk post pekerjaan yang berbeda, sungguh saya merasakan perbedaan perlakukan sebagian orang. Terutama yang sebelumnya tidak mengenal saya. Yang teman lama yang tadinya sudah lupa jadi ingat. Yang semulanya tak pernah menegur duluan jadi sangat ramah jika bertemu. Undangan dengan catatan yang sangat personal dan manis berdatangan.

Saya tentu tidak keberatan. Siapa yang tidak suka kalau semua orang baik kepada kita? Tetapi memang bawaan orok ya, seolah lebih bisa legowo kalau diacuhkan orang daripada “dianggap”. Bukan urusan low self-worth, tetapi mungkin ada beberapa jenis orang yang agak risih kalau mendapat perhatian istimewa. Mungkin saya salah satunya. Selama ini hidup di belakang layar terasa nyaman saja. Mendapat perlakuan seperti ini bukan membuat saya duduk nyaman menikmati, malah membuat jengah dan mengaca diri.

Obama family arrives at US Capitol prior to inauguration swear-in
Jangan tanyakan kenapa saya pakai gambar Obama.

Kalau kita ditelanjangi dari semua yang kita miliki; profesi, kedudukan, kepemilikan, apakah apa adanya kita masih layak dicintai, ditemani?

Tak jarang kita begitu sibuk mengisi otak, mengasah keahlian, membangun citra. Terkadang kita lupa sesekali kembali ke diri dan bertanya, apakah kita masih menjadi pribadi yang menyenangkan untuk orang di sekitar kita? Otak yang selalu mengkalkulasi keuntungan sesuatu atau seseorang terhadap pekerjaan atau citra, terkadang jadi lupa untuk mendengarkan dengan tulus, tanpa prasangka maupun formula untuk menjawab. Dan tak jarang teman baru maupun lama hanya membutuhkan itu. Butuh didengarkan dengan seksama, tanpa dihakimi. Sikap yang berhati-hati akan intensi seseorang di dekat kita, yang tidak ingin orang lain mengambil keuntungan dalam kelemahan kita, tidak jarang lupa untuk menemani seseorang, and just be there for them. Membuka hati untuk seseorang dengan ikhlas. Walaupun kesannya menjadi terlalu naif.

Mudah-mudahan ketika saya telanjang, masih ada yang dengan sukarela menjadi teman saya. (Atau malah banyak, karena saya tidak pakai baju sambil menuduh “gila, gila”?)

Posted in: @linimasa

Leave a Reply