The Pleasure of Silence

PASTI akan sangat menyebalkan, ketika kita berbicara, atau terpaksa harus berbicara dengan seseorang yang sok tahu dan sok signifikan.

Ciri-ciri umumnya:

  • Kerap membeda-bedakan lawan bicara secara diskriminatif; bersikap—seakan—baik di hadapan orang-orang tertentu, atasan, gebetan, atau siapa lah; namun menjawab sekenanya, sombong dan angkuh, tidak menghargai orang-orang yang dianggap tak penting, kurang keren, dan sebagainya. Kok bisa tahu? Katanya, orang yang tulus dan ikhlas itu kelihatan bedanya dibanding yang fake.
  • Selalu ingin mendominasi pembicaraan, minimal dia yang harus banyak bicara dan “mikrofonnya” tidak boleh direbut. Haus perhatian. Caranya,
  • Kerap menggunakan nada bicara yang tinggi agar lebih bisa didengar, memaksa didengar, memberikan penekanan pada hal-hal yang berkaitan dengan dirinya saja, serta cenderung tidak memedulikan tanggapan orang lain, kecuali kalau nyolot.
  • Merasa tersinggung apabila dikonfrontasi, juga saat ditinggalkan pendengarnya. Seolah semua orang harus bersedia menyimaknya sepanjang waktu.
  • Seringkali memotong pembicaraan, baik untuk menanggapi, atau untuk langsung dialihkan ke topiknya sendiri.
  • Termasuk seringkali memotong pertanyaan, untuk langsung melontarkan jawaban. Entah benar atau tidak. Pokoknya, dia yang paling dulu menjawab.

…dan pada kenyataannya, saya merasa ya begini ini *malu*. Sampai perlahan sadar, dan pengin tobat. Dari yang “begini”, jadi berusaha “pernah begini”. Masih belajar.

Hanya saja, pada umumnya, saat nyadar muncul pertanyaan “kenapa kok aku bisa begitu ya?” Takjub dengan diri sendiri di masa lalu. Mencari apa penyebabnya. Berpikir keras sepanjang malam. Penasaran.

Apakah alamiah? Bahwa seseorang pasti akan mengalami fase hidup kurang baik dulu, untuk selanjutnya mulai ngeuh dan berubah jadi lebih baik. Perkaranya, ada yang cepat, ada yang lama, dan mungkin ada yang enggak kunjung datang kesadaran itu sampai tua.

Kurang lebihnya seperti ini.

Ada masanya, kita sama sekali tidak tahu apa-apa, termasuk tidak tahu soal ketidaktahuan itu sendiri. Biasa, masih anak-anak.

Ada masanya, kita mulai paham bahwa sebenarnya kita tidak tahu apa-apa. Saat itu, biasanya kita juga mengerti dan mulai memberi respons atas ketidaktahuan. Apakah perlu untuk menjadi tahu serta berupaya mencapainya? Apakah ketidaktahuan itu sangat tidak menyenangkan, atau terasa biasa-biasa saja lalu membiarkan semua berjalan apa adanya.

Kemudian, ada masanya, kita berusaha untuk tahu semuanya, atau untuk kelihatan seperti tahu semuanya. Seringkali, ini menyangkut ilusi harga diri.

Ada masanya, dengan anggapan telah tahu semuanya atau ingin terlihat seperti orang yang tahu semuanya, kita banyak bicara, dermawan memberi argumen dan penjelasan, yang terkadang enggak jelas apa manfaatnya.

Semua pertanyaan, baik yang memang ditanyakan kepada kita maupun sebenarnya ditujukan ke orang lain, pasti kita yang menjawab. Menyambar pertanyaan dengan cepat, dengan intonasi yang keras dan suara nyaring supaya mampu mengambil alih perhatian. Bahkan jawaban—yang belum tentu tepat—sudah kita lontarkan sebelum si penanya selesai menyampaikan pertanyaan. Merasa sudah paham pertanyaannya, bahkan sebelum nada bertanya. Pokoknya, berusaha untuk menunjukkan bahwa kita memang yang paling tahu, paling pintar, paling berwawasan. Apalagi kalau sampai dipuji orang lain, atau merasa dikagumi. Seakan jadi bahan bakar untuk terus bersikap seperti itu, tetap bersemangat  menyambar pertanyaan yang ditujukan kepada orang lain.

Ya, selamat, akhirnya mendapat label sosial baru. Mudah-mudahan “serbatahu”, bukan “sok tahu” atau “penahujar bubuhan Banjar.

Entah mana yang lebih banyak, yang serbatahu atau yang sok tahu. Jumlahnya tentu berbeda dalam kehidupan sosial kita masing-masing.

Bagaimana caranya menghadapi orang-orang seperti itu? Tinggal pilih:

Iyain aja
Diemin aja
Tinggalin aja, atau
Tinggalin aja setelah dia selesai bicara

Namun jangan salah sangka dulu, tinggalin di sini belum tentu dicampakkan total, kecuali kalau memang sebegitu sulit diterimanya. Tetap manusiawi dong. Kali-kali mereka memang belum sampai ke tahap yang lebih anteng. Kalau sudah insaf, boleh dong disapa-sapa lagi. Sebab dibutuhkan kemampuan dan kesabaran khusus untuk bisa terus ada bersama mereka.

– Kalau memang pengin dilawan, ya berisiknya jadi dobel dong

Yang pasti, sekarang saya merasa jauh lebih nyaman dan menenangkan dalam diam. Sangat-sangat menikmatinya malah. Menjawab hanya saat benar-benar ditanya, bersuara ketika memang diperlukan, minim kata-kata, sampai-sampai dianggap sakit, atau apatis, atau tidak peduli. Kecuali kalau kerja. Soalnya kalau mau berisik lagi, wis akeh tunggaléeman-eman tenaga. Termasuk di media sosial. Di-scroll ajadibiarin. Belum tentu yang dikoarkan berfaedah juga. Selain menyita tenaga dan waktu sendiri, juga bikin orang lain terpaksa mendengar/membaca serta terganggu.

Mau cari apa sih dengan bersikap reaktif sok penting?

Sejauh ini, cuma bisa mikir, barangkali memang begitulah tahapannya. Dari tidak tahu, menjadi tidak tahu dan berisik, menjadi diam, menjadi tahu, menjadi tahu dan bersuara, menjadi hening.

[]

Iklan

11 thoughts on “The Pleasure of Silence

  1. I did it. Tinggalin aja setelah dia selesai bicara.
    Kadang ngerasa “guilty” kalau dia lagi curhat ke 3 orang yang lain saya malah mainan hape sendiri. Tapi bodo amat kan ya. Mungkin saya nggak cukup kompeten untuk memberi pendapat atau saran dan ya aslinya juga peduli nggak peduli sih 😂

    Suka

  2. Kalau saya malah merasa tidak didengarkan orang lain. Ketika saya mulai bicara (dalam kelompok) orang lain akan memotong perkataan saya dan mengalihkan pembicaraan. alhasil , saya akan jadi pendengar setia bila ada dalam suatu kelompok….. *huft
    Harus bagaimana agar bisa didengar dan orang lain mau mendengarkan…??

    Suka

    1. Ehm, tergantung konteks kali ya. Dalam hubungan, tentu beda dengan dalam konteks lainnya.

      Kalau pasangan yg enggak mau kalah begitu, itu pacaran atau debat kandidat? Kalau di kantor/sekolah/organisasi, diamkan saja dulu kali ya.

      Suka

    1. Ibarat menyapu lantai saat angin kencang, Mas. Mubazir tenaga. Lagipula, belum tentu bimbingan kita cocok dengan tangkapan yang bersangkutan. Kelihatan bedanya kok, antara yang bisa diajak bicara dan yang maunya hanya bicara. 😀

      Suka

  3. Sekarang juga sedang memasuki fase ini. Anehnya saat lawan bicara sering menuntut lebih untuk diberikan respon, saya yang jadi kebingungan. Seperti mendengarkan saja tidak cukup. Dituntut pula untuk banyak bicara.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s