Setiap Kemenangan Berdiri di Atas Darah

image

Hari Pahlawan bulan November ini berwarna sekali. Beberapa orang bicara soal bagaimana menghargai patriotisme orang lain. Bahkan punya ide mengadakan kewajiban Bela Negara untuk penduduk sipil. Sebagian lainnya membuka fakta yang disimpan dalam-dalam. Minimal ndak diajarkan di depan kelas. Seperti kesaksian yang dibeberkan di Tribunal Rakyat Indonesia 1965 di Den Haag. Dengan cita-cita menyampaikan fakta, mengakuinya, dan paling penting: berusaha agar kejadian serupa ndak terjadi lagi, kapanpun dalam kehidupan modern Republik Indonesia.

Kegiatan belajar dari masa lalu ini dimulai dengan menyampaikan fakta. Terlepas dari nilai baik-buruknya, fakta adalah bekal kita memutuskan kebenaran. Kita perlu fakta untuk bertindak. Menjadi lebih baik atau sekedar menyingkap cakrawala. Di sisi lain, fakta juga bisa sangat menyakitkan. Membuka luka lama. Membangkitkan macan tidur. Fakta adalah Kotak Pandora untuk setiap pembohong di bumi ini.

Maka, ndak kurang dari pelaku 10 November sendiri jadi sorotan. Bung Tomo rasialis sejati. Pembantai warga keturunan. Pengecut yang absen di laga pertempuran. Imam Bondjol adalah ketua ISIS abad ke-19 di Sumatera. Menyebar teror ke Mandailing Natal. Mengorbankan ribuan orang Batak dan Minang atas nama kemurnian Islam. Soekarno mendaftarkan ratusan orang kepada pemerintahan Asia Timur Raya. Menyakiti sekian banyak perempuan. Mendeklarasikan diri sebagai pemimpin seumur hidup. Soeharto berani turun dalam kecamuk Bosnia-Serbia. Membebaskan status petani melampaui kelas buruh di jamannya. Mencapai swasembada yang hampir ndak mungkin terjadi di negeri manapun di masa sekarang. Gajah Mada membantai rombongan kerajaan Sunda. Mengakibatkan friksi etnis yang bertahan ratusan tahun ke depan di pulau Jawa. Gerakan Bersiap Agustus 1945 hingga Desember 1946. G/30S 1965. Malari 1974. Reformasi 1998. Dalam hal ini, fakta mampu merobohkan satu bangsa yang berjaya berlandaskan rekayasa.

Proses selanjutnya, mengakui. Ndak gampang. Ndak akan pernah gampang, karena kita manusia. Alam mengajarkan kita proses evolusi. Cara paling aman dan nyaman untuk berubah. Alam juga menceritakan soal revolusi. Melalui bencana bumi, kosmos, dan wabah. Cara tercepat dan memakan banyak korban untuk berubah. Peristiwa di atas adalah revolusi kecil bikinan manusia. Terjadi dalam waktu singkat, juga jatuh banyak korban. Tapi belum tentu mendorong perubahan, selama manusia punya pilihan untuk menyangkalnya. Alam ndak memberikan manusia kemewahan untuk memilih. Akui dan berubahlah, maka kita akan jadi lebih baik.

Kalau memang kita mau bersaksi atas kebenaran. Seorang pahlawan bagi satu kaum, bisa jadi penjahat untuk kaum lainnya. Berlaku juga sebaliknya. Atas kesadaran bahwa setiap kemenangan berdiri di atas darah. Maka, pastikan semua Pahlawan adalah seseorang yang menang dengan menumpahkan darahnya sendiri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s