#PrayForParis, Rasa Memiliki yang Manusiawi

Sejak pertama kali masuk ke dunia periklanan, ada satu pertanyaan yang sering saya lontarkan ketika kumpul-kumpul: “brand apa yang kalau dihilangkan akan bikin loe sedih atau merasa kehilangan?” Ada 3 jawaban besar yang keluar, Indomie, Teh Botol dan Blue Bird. Ada beberapa brand lain yang disebutkan tapi saya lupa.

Kalau ditanya alasannya, beragam pula.

“Ya gimana ya, dari kecil gue nyalain kompor pertama buat masak Indomie.”

“Gue gak bisa sehari apalagi seminggu gak minum Teh Botol. Kayak ada yang kurang!”

“Blue Bird itu di benak gue ya taksi terbaik lah di Jakarta. Transportasi umum impian pertama gue  waktu gue pertama kali naik gaji.”

Intinya, semua mengarah pada sejarah kehidupan. Bagaimana brand-brand tersebut telah mengambil bagian yang berarti dalam hidup. Bahkan berhasil menciptakan ketergantungan. Sehingga di alam bawah sadar tercipta kesan bahwa tanpanya, kelangsungan hidup kita terganggu.

Bukan pekerjaan mudah untuk brand-brand tersebut bisa masuk ke dalam kehidupan. Bukan saja menawarkan produk yang baik, tapi juga berguna. Bukan saja berguna, tapi konsisten. Bukan hanya konsisten tapi terus menerus berinovasi. Pembeli harus merasa menjadi yang utama. Penting. Segala komplen dan masukan harus ditangani dengan profesional.

Kedekatan inilah yang mahal. Rasa memiliki inilah yang tak ternilai dari sebuah brand. Mirip dengan pacar yang kita cintai sepenuh hati. Saat putus, kita merasa kehilangan. Dengan catatan kalau kita benar mencintainya selama berpacaran. Dalam evaluasi nilai sebuah brand, “rasa memiliki” menjadi paling bernilai. Lebih bernilai dari harga pabrik dan kantor. Dari rasa memiliki itu pula, mempengaruhi pergerakan sahamnya. Rasa memiliki itu pula memiliki daya menggerakkan yang dahsyat.

Demikian pula dengan brand “PARIS”. Paris sejak awal berdiri telah membangun posisinya sebagai kota yang romantis. Kota fashion. Kota seni. Kota yang harus dituju bagi para pencinta keindahan. Bagaimana menara Eiffel selalu diproyeksikan dengan keanggunan. Karena identik dengan keindahan, maka Paris bukan hanya berhasil membangun rasa memiliki, tapi juga rasa melindungi.

Warga Jakarta pun sudah “diakrabkan” dengan kota Paris. CCF (Centre Culturel Francais de Jakarta) aktif melakukan edukasi, terutamanya bagi yang ingin belajar bahasa Perancis. Festival Film Perancis sudah masuk ke dalam agenda pencinta film di Ibukota. Novel dan film berlatar belakang Paris pun banyak beredar. Ingat film Eiffel I am In Love? Bagi para pengembara dunia, berfoto dengan latar belakang Menara Eiffel seperti sudah kewajiban. Pencinta fashion? Tak perlu diragukan. Paris menjadi kota yang dituju. Pencinta makanan? Datanglah ke bazaar makanan, hampir bisa dipastikan ada makanan yang berasal atau diinspirasikan oleh kota Paris. roti Perancis (Baguette), siput (Escargot), apalagi bagi para peminum wine. Jangan lupa… Anggun C. Sasmi. Penyanyi kebanggaan Indonesia yang berkarir di Paris. Bahkan menjadi tamu kehormatan peragaan busana Jean Paul Gaultier.

open-house-institut-francais Cover_Eiffel icha_paris_1986024218800_1447381192-19_9_FSP sexy-anggun

Menjadi wajar ketika serangan di kota Paris terjadi kemarin, menggerakkan banyak netizen. Dalam hitungan jam, sudah ada image yang menyatakan bela sungkawa. Ada pula yang menyampaikan analisanya, ada yang ikut mengutuk, tagar #SaveParis #PrayForParis dan sejenisnya pun bermunculan. Banyak avatar pun diganti dengan simbol Peace dan Menara Eiffel. Tak sedikit yang menampilkan foto-foto perjalanannya di Paris sebagai tanda ikut berbela sungkawa. Singkat kata, rasa memiliki telah berhasil dibangun oleh kota Paris. Bahkan bagi yang belum pernah berkunjung atau tidak bisa berbahasa Perancis.

Jembatan dari kota Paris ke berbagai kota lain di dunia, tidak tercipta dalam satu malam. Bertahun lamanya. Dengan upaya dan dana yang tidak sedikit. Jembatan ini pula yang kemudian dipertanyakan, kenapa tidak ada #PrayforLebanon, Gaza, Syria dan lainnya yang bahkan memakan korban lebih banyak. Jawabannya bisa dipastikan karena “jembatan” yang tidak pernah dibangun. Rasa memiliki yang belum ada. Apalagi keakraban. Yang tentunya disebabkan karena negara-negara itu sedang berkecamuk. Sehingga kita belum pernah menikmati Festival Makanan Lebanon, atau Festival Film Gaza apalagi Pusat Edukasi Syria. Misalnya…

-ibbG9yT  vs  11209401_897350477009036_6415169007560729641_n

Salahkah jika warga dunia terasa lebih bersimpati kepada serangan di Paris? Sepertinya bukan soal salah atau benar. Lebih ke kewajaran. Manusiawi. Karena manusia hanya akan bereaksi hebat pada hal-hal yang akrab dengan dirinya. Pada kedekatan. Bahwa kemudian dinilai sebagai kelatahan semata, sepertinya tidak semudah itu juga untuk latah kalau tidak ada rasa memiliki. Trend sulit menjadi trend tanpa kemampuannya untuk bisa diadaptasi.

Lagian, apa yang diharapkan oleh mereka yang “mengkritik” kehebohan #PrayForParis? Untuk bersimpati pada setiap petaka yang terjadi di dunia, sepertinya kemustahilan. Hampir setiap hari terjadi. Haruskah kita peduli pada semua? Di saat yang bersamaan, upaya membungkam dengan “yaudah biasa-biasa ajalah”, akan menggiring pada sikap masa bodoh, apatis dan tidak peduli.
Kedekatan Paris dan dunia sudah terlalu dekat. Bahkan keinginan untuk ikut-ikutan masuk ke dalam gerbong kereta yang dipenuhi oleh banyak orang, adalah kewajaran. Bukankah kita selalu merasa lebih nyaman bersama ketimbang sendiri?

Yang mungkin sebaiknya menjadi pertanyaan yang jawabannya hanya ada di batin kita masing-masing adalah, seberapa jujur dan tulus kah kepedulian kita. Apa pun bentuk kepedulian, apa pun tindakan yang kita ambil, ketulusan menjadi kunci utamanya. Kepedulian yang datang dari hati, tak memerlukan pengesahan dari siapa pun. Ikut-ikutan saja pun tak ada salahnya, selama tulus juga ikut-ikutannya. Tidak semua harus jadi leader dan tak ada leader tanpa follower.

Rasa memiliki ini juga yang menjadi tantangan utama, bahkan tujuan utama brand. Dan manusia. Iya, manusia. Bukankah manusia ingin memiliki dan dimiliki? Bukankah manusia ingin ada yang melindungi saat diserang. Ingin ada yang menolong saat terjatuh. Dan bahkan ingin dikenang saat sudah tiada. Menjadi orang baik saja, sepertinya belum cukup. Untuk bisa membangun rasa memiliki, seseorang harus pula “berguna” bagi sekitarnya. Kalau perlu bagi negaranya. Tidak ada jalan pintas untuk membangun ini. Diperlukan ketekunan, inovasi dan terpenting konsistensi. Kalau mau belajar dari Perancis yang konsisten membangun kedekatan dengan warga Jakarta sejak 1900.

Iklan

5 thoughts on “#PrayForParis, Rasa Memiliki yang Manusiawi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s