Seperti anak perempuan pada umumnya (atau tidak, saya belum melakukan penelitian yang menyeluruh), saya mengalami pertumbuhan hanya selama di sekolah dasar saja. Selanjutnya, nyaris tidak ada lagi. Jadi begitu saya masuk SMP, tinggi saya hanya sedikit berbeda dari keadaan sekarang, di usia 28 ini (ehm). Lalu ketika itu saya tinggal di pedalaman nan terpencil nyaris tanpa hiburan yang berarti. Jadi harap maklum, ketika usia 13 tahun, saya mulai belajar menyetir mobil. Di waktu itu dan tempat itu terasa wajar saja terjadi. Tentunya ketika sudah bisa cukup lancar menyetir, saya tidak lantas nekad ke mana-mana sendiri, karena toh, di sana tidak ada tempat untuk ke mana-mana sendiri. Selalu ada orangtua yang mendampingi.

driving-dogs-no-time-to-explain

Tetapi sejak itu, entah mengapa saya jadi menikmati menyetir kendaraan ke mana-mana. Malah sekarang saya selalu jadi supir pilihan kalau keluarga saya pergi antar kota maupun antar provinsi, dengan catatan; adik lelaki saya tidak ikut. Kalau pun dia ikut, saya selalu jadi supir pendamping. Saya jarang keberatan, karena daripada mati gaya di perjalanan jauh, saya lebih memilih menyetir atau menjadi navigator.

Sejak memiliki rutin di Jakarta, saya jadi agak malas menyetir, kecuali akhir pekan. Untuk ke kantor sepertinya lebih praktis memilih kendaraan umum. Kalau macet bisa ditinggal untuk meneruskan dengan moda transportasi yang lain, daripada terkurung di dalam kendaraan sendiri. Saya perhatikan juga dalam perjalanan ke tempat kerja, mobil begitu banyak yang hanya terisi oleh satu orang saja. Sudah begitu masih mengeluh macet juga? Oh come on, lah, cuy, get real. Mengutip seseorang yang saya lupa siapa, you’re a part of the problem, so you better not complaining.

Karena sudah jarang menyetir, dan bisa dibilang hanya menganggap mobil hanyalah alat yang membawa saya dari poin A ke poin B, saya jadi tidak terlalu memerhatikan fungsi yang lainnya. Mobil yang dimiliki keluarga saya pun, termasuk fungsional saja, tidak ada yang mewah. Sampai akhir pekan lalu.

background

Sebuah perusahaan mobil Jerman meminjamkan mobil SUV-nya selama akhir pekan untuk dicoba. Langsung menemukan betapa nikmatnya menyetir dan seolah menyatu dengan kendaraan yang sangat intuitif dan seolah ‘hidup’. Langsung kembali sadar kalau harga memang tidak bohong (ya iyalah). Betapa hati girang ketika menginjak gas dan mobil meluncur seolah kijang yang berlari deras, terbebas dari semak yang menghadang. Pokoknya akhir pekan kemarin membuat saya teringat betapa saya senang sekali menyetir. Lalu berharap si mobil Jerman tidak kapok meminjamkan lagi di masa depan.

Menikmati kembali menyetir, jadi mengingatkan soal EnRaHa. Kata yang saya pertama kali dengar di film Happy-Go-Lucky ini seperti selalu terngiang saat saya berada di belakang kemudi. Walaupun tidak ada artinya, tetapi sang instruktur di film itu juga menyebut “the all-seeing-eye”. Dan sejak pertama kali melihat itu, saya langsung mengerti. Karena begitu kita ada di belakang kemudi, badan kendaraan seolah menjadi badan kita. Selain mata yang bisa melihat ke depan dan ke samping, kita dibantu oleh rearview mirrors untuk melihat ke belakang. Kita menjadi “the all-seeing-eye”. EnRaHa. Karena ketika di jalan, masalah kita bukan kemacetan. Hell is other drivers. Yang tidak mau mengalah ketika berpapasan di perempatan. Yang berkeras jalan 40 km/jam di jalan kosong melompong. Yang selalu berpindah jalur ketika semua mengantri. Yang berhenti mendadak tanpa menyalakan lampu sign untuk menurunkan penumpang. EnRaHa. Selalu waspada dan melihat segala penjuru. Karena tidak jarang hal terjadi bukan karena kebodohan atau ketidakwaspadaan kita, tetapi karena kelalaian orang lain. EnRaHa. Karena kita punya kepentingan dan hak di jalan raya, tetapi begitu juga orang lain yang ada di jalan tersebut. Jangan sampai kepentingan kita untuk bertanya arah ke tukang rokok jadi sumpah serapah orang di belakang yang harus mengerem mendadak dan jalannya terhalang oleh kita. EnRaHa. Karena hujan hanya beberapa tetes saja bisa membuat semua jadi seolah lupa cara mengemudi normal dan seolah berlomba bodoh saling mendahului ignorant, ingin lekas sampai tujuan. Mungkin lupa kalau mobil mereka ada atapnya, jadi hujan tidak hujan toh mereka tidak basah.

anigif_enhanced-21061-1434382767-20

(Maaf kalau random, dan maaf juga minggu lalu alpa menulis. Bahwa kekurangan adalah milik manusia dan kesempurnaan adalah milik Bunda Dorce.)

Posted in: @linimasa

9 thoughts on “EnRaHa Leave a comment

  1. bahasan menarik. terima kasih memperkenalkan istilah enraha.

    jadi makin kepincut pingin ke brasil dan segera mencari makhluk air ini di sungai amazon.

    katanya ganas banget ya.

  2. Mbak Lei Safira, selamat pagi. Aku baru 2 kali baca tulisan mbak semakin suka. Pasti aku baca berulang-ulang.
    Tulisannya seperti “cubitan” untuk diri sendiri.
    Terima kasih telah berbagi, terus menulis ya mbak.

    Salam

Leave a Reply