Teman Mantan Itu Bukan Mantan Teman

Beberapa hari yang lalu, saya berjumpa seorang teman lama di sebuah acara. Saking kagetnya karena sudah sekian lama tidak bertemu, kami langsung mojok. Tidak lagi mengindahkan acara yang kami hadiri, kami memilih untuk mengobrol dan tertawa hampir sepanjang malam.
Di sela-sela obrolan, saya berkata, “Eh, bentar. Apa kabar temenmu, UN? Udah lama gak lihat kalian jalan bareng. At least gak di-tag di Instagram atau Path.”
Jawaban teman saya, “Ya ampun, gue pun udah lama gak ketemu dia. ‘Kan gue temenan sama YK. Jadi ya pas UN putus sama YK, whichever version you believe ya, bok, siapa yang mutusin siapa, ya at the end of the day, gue temennya YK duluan. Hashtag #TeamYK gitu.”
Kami tertawa. Meskipun tak lama setelah kami berpisah dan pulang ke rumah masing-masing, saya tidak habis pikir.

Ketika dua orang memutuskan untuk mengakhiri hubungan dan berpisah, apakah hanya dua orang itu yang berpisah? Apakah ada orang-orang lain?

300 can you remain friends with your ex

Dalam kasus perceraian, atau hubungan apa pun yang mengikat secara hukum, persoalan ini kadang menjadi pelik. Apalagi kalau ada keturunan biologis. Tak jarang prosesnya berlarut-larut.

Namun dalam jenis hubungan lain yang kasat hukum, dan banyak kita alami sendiri, persoalan ini tak kalah ribet ujung-ujungnya.

Saya jadi ingat film Husbands and Wives karya Woody Allen. Film tahun 1992 ini saya tonton beberapa tahun sesudahnya, waktu sudah kuliah dan sudah mulai sedikit paham tentang jalan ceritanya. Maklum, film ini memulai ceritanya dari sepasang orang yang akan bercerai setelah lama menikah. Keputusan mereka ini mereka sampaikan ke teman-teman mereka. Alih-alih berempati, teman-teman mereka malah sibuk menganalisa pernikahan dan hubungan mereka masing-masing. Mereka pun dikacaukan sendiri dengan kebingungan mereka, harus berpihak kepada siapa. Kepada istri? Kepada suami? Tapi kalau saya berpihak ke suami, nanti dianggap tidak fair?

Husbands and Wives by Woody Allen.
Husbands and Wives by Woody Allen.

Aha! That’s the word. Fair. Atau padanan kata lainnya, “netral”. Yakin warna abu-abu itu bisa persis 50% hitam dan 50% putih? Kalau komposisinya 49% dan 51%?

Beberapa tahun lalu, I had a big breakup. Hubungan kami berjalan cukup lama. Cukup lama untuk mempunyai teman-teman yang dekat dengan saya dan mantan as a couple, not just individuals. Ketika kami berpisah, meskipun tidak ada kesepakatan, kami memutuskan untuk mengatakan langsung ke beberapa orang teman. Reaksinya, tentu saja, ada yang sedih, lalu menanyakan bagaimana keadaan sekarang, dan sejenisnya. Ada juga yang tanpa tedeng aling-aling langsung bertanya, “Aduh, terus sekarang gue gimana? I mean, I befriend you both. Aduh, kalian kan temen gue semua. Aduh …”
Jujur saja, waktu itu saya langsung ketawa di depan dia dan berkata, “Gue yang putus, kenapa malah elo yang heboh ya?”

Tapi perlu waktu ternyata untuk memahami kegelisahannya. Semakin kita beranjak tua (come on, we all are), semakin selektif kita dalam berteman. Memutuskan hubungan pertemanan tidak pernah mudah. Ada faktor kenyamanan berbeda yang hanya bisa kita dapatkan pada teman. Makanya, the older we are, the lesser friends we have, but they are only the few good ones.

Seorang teman dekat pernah mengatakan ini dengan tegas.
“Pada akhirnya, gue gak bisa netral. Never. Lebih baik gue jujur bahwa gue lebih deket ke siapa, karena pertemanan itu tergantung siapa yang bisa membuat gue nyaman. Gue lebih nyaman ngobrol ke siapa, gue lebih enak cerita atau curhat ke siapa. Itu sih. Kenal baik, of course masih kenal baik. Gue lebih senang jadi teman yang jujur, daripada harus pura-pura baik.”

article-1333112818891-1266B3EE000005DC-530160_636x312

Kalau diurai lagi the comforting factor ini, cabangnya bisa banyak. Misalnya, kesamaan dalam selera makan. Atau kesamaan hobi. Kalau dulu ketika kita masih dalam hubungan meyakini bahwa opposite attracts (yang satu suka posting foto selfie, yang satu suka posting foto pemandangan), maka ketika putus, yang terjadi ya yang seharusnya: opposite divides. Lalu teman-teman di luar hubungan yang selama ini mengamati perbedaan, pada akhirnya memilih, mana di antara kedua orang ini yang mempunyai banyak kesamaan dengan mereka, sehingga mereka merasa nyaman.
As simple as that.

Toh, pertemanan yang jujur adalah pertemanan yang bukan sekedar basa-basi.

Iklan

7 thoughts on “Teman Mantan Itu Bukan Mantan Teman

  1. Waktu pacaran pertama gue nge-gank berlima. Pas gue bubaran(yang gak terlalu baik2), semua nyalahin gue (dan mereka udah memihak tanpa mau susah2 nanya penjelasan dari sisi gue). Jadi gue gak main lagi sama mereka. Beberapa bulan kemudian mereka tau cerita yang sebenarnya (entah dari mana) trus berusaha ngajak gue main lagi. Guenya udah terlanjur males trus gak main lagi sampe sekarang. Sekarang kalo ketemu awkward gitu malahan hahahaha

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s