Kota dan Kualitas Hidup Kita

IMG_0040

Beberapa hari yang lalu saya sempat bertanya melalui akun twitter, apa kira-kira yang dapat dilakukan warga kota dalam rangka mewujudkan kehidupan kualitas kota yang lebih baik.

Beberapa orang menjawab. Agar kota dan kita bisa hidup mesra hingga akhir hayat bisa dilakukan dengan mendorong kesadaran kesukarelawanan. Melakukan sesuatu karena ‘ingin’ dan mendapatkan bahagia sebagai manfaatnya. Membiasakan menggunakan moda transportasi umum, menjaga kebersihan, dan menjadi pendengar yang baik bagi teman yang membutuhkan.

Pertanyaan wajar bagi saya yang merindukan kota kita tinggal adalah kota yang hidup dan menghidupi warganya. Hidupnya kota karena warganya. Hidupnya warga karena kotanya. Ukuran hidup disini adalah kualitas hidup yang membuat warga kota menjadi lebih baik, lebih bermartabat, jauh lebih beradab dan bisa jadi ini agak berlebihan: lebih berbahagia.

Majalah monocle edisi Juli/Agustus 2015 menurunkan hasil surveynya dari seluruh penjuru dunia soal ini. Judul besarnya adalah “Quality of Life 2015”

Ada banyak tambahan kriteria dalam menentukan mana kota yang dianggap begitu merawat dan memanjakan warganya.  Misalnya, berapa harga sewa rumah dan biaya hidup dilihat dari harga rumah dengan tiga kamar tidur sampai dengan segelas kopi di kedai kopi lokal, segelas anggur, dan makan siang memadai. Selain itu survey memperhitungkan lanskap kota. Berapa jarak kota ke laut, pegunungan, juga mempertimbangkan kemungkinan berenang di kolam renang umum saat makan siang, bukan saja sebagai kemungkinan melainkan sebagai aktivitas yang senantiasa dilakukan warga.

Ada juga kriteria apakah ada Perda soal kewajiban menggunakan helm bagi pengguna sepeda, polisi yang melakukan patroli dengan jalan kaki di pusat keramaian.

Tokyo
Tokyo
Paris
Paris

Hasilnya adalah kota Tokyo sebagai juaranya. Kemudian disusul  Kota Wina, Berlin, Melbourne, Sydney, Stockholm, Vancouver, Helsinki, Munich dan ke-10 adalah Zurich. Bagaimana dengan kota Paris? Kota ini berada di urutan 15.

Kota Tokyo dihuni oleh 9,1 juta jiwa. Angka ini belum termasuk kota satelit di sekitarnya. Tingkat pengangguran kota ini 5,2 % untuk usia muda dan secara rata-rata hanya 3,8% pengangguran. Bandaranya melayani 123 rute internasional, pengguna sepeda sebagai bagian dari transportasi pribadi sebanyak 19,5% warga dewasa. Untuk makan siang yang enak di Tokyo menghabiskan 7,5 euro. Bagaimana dengan jumlah perpustakaan yang dapat diakses warga? Ada 225 perpustakaan yang tersebar di seluruh penjuru kota.

Berapa harga sewa bulanan satu apartemen ukuran studio di Tokyo? 720 euro. Bagaimana dengan dunia media? Tokyo memiliki 6 koran lokal harian. Memiliki 131 museum, 335 layar bioskop, 587 galeri seni. Toko buku indie tersebar sebanyak 1383. Jumlah restoran yang masih bertahan bahkan makin laris manis sebanyak 4617 restoran. Bagaimana dengan kehidupan malam? Bar tutup tepat pukul dua pagi di hari Sabtu. Tokyo dan pantai berjarak 12 km, namun untuk pantai yang keren membutuhkan perjalanan 60 km menuju Pantai di Hayama.

Segelas kopi di kedai lokal sebesar 3 euro, segelas wine 4,9 euro. Bagaimana dengan daur ulang limbang sampah? Rata-rata kota ini mampu mendaur ulang hingga 23% sahmpah warganya.

Apa hal menarik lainnya dari Tokyo? Konsep arsitektur kotanya yang selalu dengan semangat gratis untuk semua. Warga kotanya menyukai sepeda dan menikmati udara segar di taman.

Tokyo tidak hanya ganteng. Kota ini juga terkenal bersih, toleran, sopan, mempersilakan orang asing untuk tetap anonim. Warga asing boleh ikut tradisi mandi  di pemandian umum.

Bagaimana dengan kota dimana kita tinggal. Apakah beberapa ukuran penilaian sebagaimana yang dipergunakan monocle dapat juga diterapkan bagi kita dalam menilai kota tempat tinggal? Tentu saja.

Namun, setelah pagi ini berita soal ‘Paris Attack’ bermunculan, jari saya limbung. Hati saya langsung pingsan.  Ternyata,  ada hal lain yang tak terukur dan sulit dibaca oleh alat ukur apapun. Walaupun soal toleransi muncul sebagai bagian dari perhitungan namun ada soal lain. Sepertinya faktor “hal lain” ini justru menjadi semakin signifikan.

Paris dan Eiffel. Jakarta dan Monas. Paris dengan Imigran. Jakarta dengan kaum urban. Walikota Paris seorang perempuan bernama Anne Hidalgo. Pemimpin Jakarta seorang Tionghoa bernama Basuki Purnama.

Dengan masalah yang hampir serupa. Jurang antara si kaya dan si miskin. Soal pandangan agama dan radikalisme. Soal selera politik, soal latar belakang pendidikan dan keseuaian dengan pekerjaan. Soal asal-usul daerah dimana warga masing-masing dilahirkan.

Paris di bulan Januari lalu dikejutkan dengan penyerangan akibat guyon satir Charlie Hebdo dan kemudian pembunuhan warga di pusat perbelanjaan komunitas yahudi di Paris. Kota ini mirip Jakarta, dimana warga kota yang benar-benar tinggal di pusat kota hanya 2,3 juta jiwa. Sisanya sebanyak 11,9 juta bermukim di area metropolitan kota sekitar. Siang riuh, Malam tak begitu.

Jadi, pertanyaan saya akan kembali seperti apa yang saya sampaikan di awal.

Apa arti kota dimana kita tinggal?  Bagaimana caranya kita mewujudkan kota yang ideal bagi warganya?

Jika punya tambahan kisah atau ide, silakan sampaikan dalam kolom komentar.

Iklan

4 thoughts on “Kota dan Kualitas Hidup Kita

  1. Jepang, negara produsen kendaraan bermotor ITU masyarakatnya sangat mencintai sepeda.
    Samsung, pernah dengar owner Samsung tidak terlalu suka menggunakan perangakat selular.

    Indonesia,
    Dimana kayu Dan Batu jadi tanaman, ….

    Note :
    I’m not do satire,
    I’m just no idea.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s