Saatnya yang Berkhotbah Dikhotbahi

SELAIN algojo, bisa jadi pengkhotbah atau pemuka agama–sebenarnya–merupakan salah satu profesi yang paling dilematis di dunia. Sebagai profesi loh ya, aktivitas yang bisa memberikan penghasilan. Ketika seseorang dipanggil untuk memberikan petuah-petuah bernuansa religius dan umumnya ditutup dengan rangkaian doa-doa tertentu, kemudian panitia memberikan amplop tanda terima kasih sebelum yang bersangkutan diantar pulang. Berbeda dengan sebutan pemuka agama bagi orang-orang yang menjalani kehidupan monastic, mengabdi, agak terpisah dari kehidupan sosial pada umumnya.

Mengapa dilematis? Algojo menjalankan tugas dengan membunuh orang lain. Namun apabila membangkang dan tidak mau melakukan pekerjaan karena kasihan dan sejenisnya, bisa dianggap tidak profesional, sampai dituduh melanggar hukum dan bersekongkol. Sehingga sebagai salah satu trik untuk mengurangi beban mental dari tugas ini, eksekutor hukuman mati di Indonesia terdiri dari satu tim penembak. Entah peluru siapa yang benar-benar mematikan sang terhukum, mungkin cuma petugas penyiap senjata yang tahu.

Sedangkan untuk pemuka agama, semestinya ada dilema antara apa yang dikhotbahkan dan tindakan serta perbuatan diri sendiri. Sebab bagaimanapun juga, pada dasarnya seorang pemuka agama masih manusia biasa dengan pengetahuan di bidang agama yang lebih luas, kemampuan berbicara di depan umum yang hebat dan karismatik, serta didukung bahasa tubuh yang meyakinkan. Itu sebabnya, pesan-pesan keagamaan disampaikan dengan penuh percaya diri, dan atmosfer yang dihadirkan pun dapat menular ke para pendengar. Umumnya orang-orang Indonesia kerap merasa janggal saat ceramah agama disampaikan dengan intonasi yang lemah, nada bicara yang lirih, dan tidak menunjukkan kekuatan apa pun. Namanya juga public speaking. Bedanya pada tema yang dibawakan, lokasi acara, karakteristik pendengar, dan tujuan yang ingin dicapai.

On a lighter note, dilema seperti inilah yang selalu merayap dalam pikiran setiap kali disodori jadwal penceramah, dengan stabilo kuning terang pada kolom nama. Padahal pengetahuan keagamaan cuma pas-pasan, itu pun masih dalam tahap belajar. Kendati sudah berulang kali menolak ditugaskan lantaran tidak enak hati, eh jadwal terus disampaikan.

IMG_8769
Masalah berikutnya adalah, mau bicara soal apa?

Bukannya apa, sesi tersebut bisa berujung pada lima kemungkinan:

  • Dipahami dan membawa kebaikan,
  • Tidak dipahami dan membingungkan,
  • Disalahpahami dan malah menyesatkan,
  • Tidak digubris, dan
  • Dianggap menyesatkan.

Dari lima kemungkinan di atas, syukur-syukur bila materi yang disampaikan dapat dipahami dan membawa kebaikan. Jika tidak, masih mending bila tidak digubris atau tidak dipahami. Karena setidaknya tak membuat orang lain salah mengerti dan justru melakukan hal-hal keliru. Itu artinya, kita berperan dalam keburukan dan ketidakpatutan yang dilakukan orang lain.

Untung saja, setiap sesi ceramah selalu diakhiri dengan tanya jawab dan diskusi. Agar pengayaan dan koreksi bisa langsung disampaikan. Minimal bisa mengantisipasi kalau-kalau kemudian muncul kekhawatiran tentang apa yang sudah disampaikan.

Di titik ini, boleh dibilang kesempatan untuk berkhotbah malah jadi momen refleksi dan introspeksi. Sebab tidak hanya meminta para pendengarnya untuk mawas diri, namun setiap kalimat yang diutarakan seperti berbalik ke penceramah sendiri. Mengkhotbahi, sekaligus menampar pipi sendiri. Menjadi pengingat: “kamunya sudah baik dan benar, belum?” sebelum sok menasihati, pun menyalahkan orang lain menggunakan segudang dalil yang belum tentu sudah diuji sendiri.

Toh, merasa yakin benar itu belum tentu benar-benar benar, kan?

[]

Posted in: @linimasa

Tagged as: , , ,

5 thoughts on “Saatnya yang Berkhotbah Dikhotbahi Leave a comment

Leave a Reply