Salam dari 40+

Mulai dari “angkatannya Titik Puspa”, “generasi ORBA” sampai “pernah sebangku sama Muchsin Alatas” adalah sedikit dari rentetan candaledek ketika saya memasuki usia kepala 4. Teman-teman itu rupanya memang semakin dekat semakin dalem nusuknya. Kalo perlu bunuh di tempat. Di saat yang bersamaan, mereka pun sering bertanya “apa sih rasanya above 40?” Entah karena pengen tau, penasaran atau lagi-lagi candaledek itu tadi.

Bekerja di dunia periklanan memungkinkan saya untuk bergaul dengan yang lebih muda (baca: usia 20-30an). Meeting bareng, brainstorming, sampai makan siang bersama. Ada beberapa yang jadi sahabat tapi lebih banyak yang menjadi rekanan kerja saja. Bekerja dengan mereka, membuat saya bisa membandingkan kedua zaman. Saya adalah generasi kaset – CD – mp3. Dari analog ke digital.

• Lebih Sering Sakit

Gak tau kenapa, generasi millenials yang sering bersinggungan dengan aku itu lebih sering sakit. Mulai dari penyakit biasa seperti flu, batuk bersin, diare, sampai penyakit menetap seperti kolesterol, diabetes bahkan jantung. Penyakit favorit mereka? Maag.

Tentunya saya pun tak lepas dari penyakit-penyakit itu. Bahkan saat menulis ini saya lagi berjuang melawan diare. Dan banyak teman-teman seangkatan yang sudah terlebih dahulu menghadap Yang Punya Hidup. Kalau buka Facebook, ada 3 penyakit yang sering menghinggapi: kanker, jantung dan perceraian. Ok, yang terakhir bukan penyakit deh.

Tapi dibandingkan dengan saat saya berusia 20-30, sepertinya saya (atau kami) lebih jarang sakit. Apalagi sampai tidak masuk kantor. Dibanding sekarang, sepertinya lebih sulit untuk mendapatkan “formasi lengkap”. Selalu ada saja yang absen. Semoga alasan sakit beneran ya 🙂

Di bagian ini, saya bersyukur aja. Waktu saya masih generasi Millenials, sepertinya tidak sesering ini sakitnya. Sampai sekarang ya rata-rata sehat lah. Alhamdulillah.

• Lembek dan Pelan

Ok, tentunya ini bukan generalisasi. Saya hanya bisa menyimpulkan dari yang saya temukan. Rata-rata anak millenials sekarang memiliki gerak yang lebih lamban. Gerak tubuh mereka seperti berat sekali. Jari dan jempol mereka lebih lincah memainkan tombol hp. Istilah lagi “PEWE” (posisi wuenak) sering menghampiri. Tubuh mereka tampak lembek. Tak berhubungan dengan ukuran gemuk kurus loh ya. Bahkan yang tinggi langsing pun tubuhnya seperti jelly saat berjalan.

Ada yang rajin berolahraga, tubuh mereka pun tampak fit. Dalam satu kantor, jumlah yang fit bisa dihitung dengan sebelah tangan. Dan sebagian besar dari mereka mengeluh punya masalah dengan berat badan. Beruntung sekarang olahraga sepertinya sedang ngehits. Banyak yang mulai berolahraga sebagai kebutuhan.

Padahak dibandingkan generasi sebelumnya, berolahraga lebih sulit dari sekarang. Belum ada CFD, gym hanya untuk yang kaya, peralatan olahraga terbatas hanya ada di Pasar Baru itu pun kebanyakan bola, informasi minim, idola kami saat itu Fahmi Fahrezi dan Berty Tilarso yang sering nongol di TV.

• Gula dan Gula

Kalau angkatan saya adalah angkatan MSG, maka sekarang adalah angkatan Gula. Siapa yang inget Chiki, Anak Mas dan nikmatnya pertama kali mencicipi Mi Goreng instan, mereka adalah angkatan MSG. Kalau sekarang sepertinya lebih banyak gula.

Coba saja perhatikan kalau ke bazaar kawula hipster ibukota. Pisang, digulain. Donut, digulain. Coklat, digulain. Bahkan daging pun dibalur karamel, yang tak lain gula gosong. Saat meminum kopi pun lebih banyak yang suka kopi bergula tinggi. Rasa pahit perlahan menjadi musuh mereka. Coba aja liat pedagang somay. Yang memilih Pare paling angkatan saya atau di atasnya.

Tapi dengan semakin semangatnya mereka berolahraga dan mudahnya akses informasi internet, gerakan anti gula kini semakin tumbuh kembang.

• Lebih Sering Takut

Kalau dibilang anak muda harusnya generasi yang “fearless”, sepertinya tidak sepenuhnya benar. Saya sering mendengar kata “takut’ dari mulut mereka. Takut diomelin boss, takut ditolak klien, takut diputusin pacar, takut salah, takut miskin, takut kalah… Bahkan mengajukan surat resign pun bisa takut.

Hal ini diperburuk dengan kesulitan membedakan mana “berani” dan mana “nekad”. Masing-masing generasi pasti punya takutnya sendiri-sendiri. Tapi percayalah, semakin tambah usia, saya semakin sedikit takutnya. Malah cenderung cuek. Terlebihnya berani mengutarakan pendapat yang berbeda. Di sini kadang saya merasa lebih muda hahaha.

• Internet Membuka Wawasan?

Bahwa internet bisa membuka wawasan dan pengetahuan, benar adanya. Sudah terbukti. Untuk semua pengguna terutama generasi digital? Belum tentu.

Begini kisahnya… Internet menawarkan banyak hal dan informasi. Generasi millenials menyikapinya untuk mencari informasi pada hal-hal yang mereka sukai dan minati saja. Selebihnya yang tidak menjadi minat mereka akan mereka tinggalkan. Contoh mudahnya, di media sosial ada tombol unfriend, unfollow, unshare yang memungkinkan orang untuk memilih. Sebagian besar hanya akan memilih yang “setuju dan sepakat” dengan mereka saja.

Selain membatasi, hal ini bertentangan dengan Sun Tzu Art of War 🙂 Untuk memenangkan semua pertarungan, kita harus bisa melihat dan membaca gerak gerik lawan. Kalau perlu bahkan berteman dengan lawan.

Istilah “Pengetahuan Umum” pun sepertinya semakin menipis. Ada yang tidak tau bentuk Bunga Melati. Kalau wanginya sih tau. Kan banyak perfumenya dijual. Bahkan film pemenang Oscar sekalipun sekarang hanya menjadi minat pencinta film. Bukan lagi acara yang ditunggu seluruh umat.horizon-110710-02

Seorang teman berkata “matahari itu paling indahnya saat terbit dan terbenam. siang mah diliat juga kagak.”

 

Iklan

2 thoughts on “Salam dari 40+

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s