Pernah Istimewa

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat seseorang yang pernah terasa istimewa di hati, menjadi biasa saja?
Dua bulan?
Dua setengah tahun?
Lima tahun?
Atau tidak pernah? Sama sekali?

Mengapa seseorang yang pernah terasa istimewa di hati, sekarang bisa menjadi biasa saja?
Apakah sudah hilang rasa penasaran setelah tahu nama dan nomer telponnya? Setelah bisa tahu dan bisa di-stalking lewat google dan peranti media sosial lainnya?
Atau setelah ilfil mendengar suaranya?
Atau setelah semua adrenaline surut seiring berakhirnya masa bulan madu di awal hubungan?
Atau ada orang lain yang mengisi hati?

Bagaimana seseorang yang pernah terasa istimewa di hati, bisa dengan mudahnya menjadi biasa saja?
Oke. Mari kita lihat pertanyaan di atas.
Apakah bisa dengan mudahnya seseorang, yang dulu namanya kita ukir dengan senyuman, sekarang menjadi sekedar nama lain yang berlalu?

Ternyata tidak semudah itu.

sad_boy_akul_tree_lonley_river_moon_breakup_hd-wallpaper-648231

Untuk seseorang yang baru ingin mengenal orang lain, rasanya waktu berjalan lama setiap hari. Ada rasa keingintahuan yang membara dari rasa penasaran. Ingin tahu siapa namanya. Berapa nomer telponnya. Begitu semua informasi sudah didapat, mulai timbul kekecewaan. Ternyata dia pernah menulis dengan gaya “alay” di Facebook temannya. Isi Instagram penuh dengan foto-foto selfie. Rekaman video karaoke suaranya yang sumbang ternyata ada di Youtube. Akhirnya, batal naksir.

Untuk seseorang yang baru menjalin hubungan dengan orang lain, rasanya waktu berjalan cepat. Sepertinya baru kemarin kenalan. Sepertinya baru kemarin mengiyakan ajakan untuk hidup bersama. Lalu kebiasaan-kebiasaan yang selama ini tidak pernah kita tahui, baik dari diri kita maupun dari pasangan kita, muncul begitu saja. Piring kotor ditaruh begitu saja tanpa dicuci. Lemari pakaian berantakan.

“Someone has to take care of this ship, but … I didn’t sign up for this! I want us to be together, to fix this together, but why do I have to do everything alone?”

Lalu, karena ingin menghindari konflik, akhirnya diam. Tidak mau berkata-kata. Takut memperpanjang masalah. Diam karena berpikir kalau tanpa suara artinya ngalah. Cuma bisa memendam perasaan. Bermain-main dengan “what ifs”. Akhirnya, menyerah pada nasib.

Untuk seseorang yang baru berpisah dari orang lain, rasanya waktu berjalan sangat lambat. Tidur dengan mata sembab. Bangun pagi dengan helaan nafas yang berat. Membuka aplikasi media sosial, ternyata tidak membuat semuanya jadi lebih baik. Seakan kesedihan ditanggung kita sendiri. Mantan masih ada di pergaulan teman-teman kita. Masih di-tag di obrolan di Path, atau foto yang diunggah di Instagram. Kadang di-mention di Twitter. Ulang tahunnya masih tercatat di Facebook. Kata siapa media sosial membuat hidup kita lebih mudah? Untuk urusan “move on” dari hubungan percintaan, ternyata media sosial menampar kita habis-habisan.

breakup-advice-for-men1

Ada ungkapan dalam bahasa Jawa yang bilang “sing waras ngalah”. Artinya, yang tidak gila harus mengalah. Mungkin ungkapan ini harus dimodifikasi. Keluarlah dari semua media sosial. Log off. Log out. Pakai prinsip “ben waras ngalah”. Sekarang artinya, biar tidak gila harus mengalah.

Tidak ada panduan berapa lama untuk ketiga skenario hidup di atas. Cuma Anda yang tahu kapan Anda bisa kembali lagi berdiri. Dengarkan kata hati. Ikuti intuisi tubuh.
Ikuti waktu.

Time waits for no one. Waktu tidak menunggu. Waktu berjalan terus saat Anda mengumpulkan keberanian untuk menyapa orang yang Anda suka. Waktu berlalu saat Anda merenungi hubungan yang berjalan lambat. Waktu berlari saat kita menangis.
Ikuti saja apa mau waktu. Kita masih harus bekerja untuk menghidupi diri. Kita masih harus menjaga kesehatan dengan berolahraga. Kita masih harus makan. Kita masih harus bertemu keluarga dan teman, syukur-syukur yang bisa membuat tertawa.

Dan waktu yang kita pakai untuk melakukan hal-hal ini, akhirnya akan membuat kita mampu melanjutkan hidup. Awalnya tidak mudah. Orang yang sudah lama tidak naik sepeda, pasti akan kagok harus naik sepeda lagi. Orang yang sudah lama tidak lari pagi, pasti akan njarem kakinya di dua hari pertama. Toh lama-lama akan terbiasa.

Dan idiom “lama-lama akan terbiasa” akhirnya hanya bisa efektif kalau kita menikmati hidup. Tidak ada panduan waktu yang sahih, kapan perasaan yang pernah kita sampirkan ke orang lain bisa berakhir. Dua minggu? Dua bulan? Dua tahun? Tidak ada yang sama di setiap orang. Dan di setiap orang yang pernah berhubungan dengan kita pun, waktunya tidak sama.

Each and everyone we meet will leave different kind of marks. Some are pure scars. Some are just distant memories.

Mungkin kita tidak akan sadar dengan perubahan status dari kelas “istimewa” menjadi kelas “biasa”. Tahu-tahu, hati kita tidak berdesir lagi mendengar lagu jaman pacaran dulu diputar di radio saat kita berada di dalam taksi. Melihat namanya di media sosial bersama teman-teman Anda bak melihat rangkaian kata-kata tak bermakna apa-apa. Seperti melihat deretan nama-nama di papan pengumuman ujian masuk perguruan tinggi. Tidak semuanya harus kita kenal.

Di situlah kita bisa berdamai dengan diri sendiri. Di situlah terasa biasa saja akhirnya.

Karena dari hidup yang biasa, akan ada sesuatu yang luar biasa nantinya.

Pasti.

(Courtesy of ejiinsight.com)
(Courtesy of ejiinsight.com)
Iklan

27 thoughts on “Pernah Istimewa

  1. Udah 3 tahun , pas lost contact dan terhubung lg debar jantung msh sama ,apa ini yg dinamakan cinta dan dia istimewa ? Padahal sudah sama2 tak berteman di sosmed :/

    Suka

  2. media sosial tak pernah serumit yang digambarkan di atas buatku ._. tapi jauh lebih rumit lagi, kenapa? mau pakai instagram/path/twitter/fb sekaligus, aku harus mengganti hape biasa ke smartphone, jauh lebih mahal harganya.
    Lalu kalau pake smartphone, harus pakai kartu yang on 24 jam, kalau pake kartu biasa malah gak bisa jalan aplikasinya. Bayangkan berapa nominal uang orangtuaku yang kuhabiskan selama memakai smartphone xD belum lagi, alat canggih ini membuatku tak bisa jauh2 darinya, setiap saat harus dicek, kalo gaada kerjaan liat2 akun orang, bolak balik liat profil ke timeline ke profil ke timeline dst… -_- buang2 uang, buang tnaga dan buang waktu :3

    kenapa jadi bahas smartphonenya?
    karena aku belum pernah merasakan punya orang istimewa seperti yang dibilang di atas, apalagi yang pernah istimewa x”D wkwkwkkw
    aku juga ingin hatiku berdesir saat melihatnya/? ceilaahh xD dan memilih menjauhi medsos karena cinta, bukan karena kehabisan kuota wkwkkwk :v
    fufufuufuu…nyasar ke mari gara2 nyari tugas anti marketing /curcol/

    Suka

  3. Baru sempet bacaaa… dan beberapa hari yang lalu lagi bikin draft blog yang kurang lebih isinya tentang ‘mantan’ dan media sosial. Langsung aku beresin ah draft-nya hihihi thanks for writing this, Nauval >.<

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s