Berkompromi dengan Hidup

ADA ungkapan, entah punya siapa, yang mengatakan:

Dengan merasakan lapar, seseorang bisa benar-benar menikmati makanan dan rasa kenyang.

Dengan merasakan haus, segelas air putih saja terasa begitu menyegarkan.

Dengan merasakan penderitaan, seseorang bisa benar-benar menghargai sesederhana apa pun kebahagiaan.

Kalimat-kalimat di atas memang terkesan religius, namun pada dasarnya merupakan kondisi universal yang pasti dialami siapa saja tanpa peduli latar belakangnya. Prinsip keseimbangan. Boleh dibilang begitu. Ketika batas antara label positif dan negatif begitu rancu. Ketika yang gelap perlu dimunculkan, agar yang terang dapat terlihat. Ketika datangnya berkah patut disesali, dan munculnya musibah tak mesti diratapi.

Begitu juga dalam kehidupan modern yang tengah kita geluti saat ini. Sepertinya, banyak dari kita yang perlu meninjau ulang apa yang sebenarnya diperlukan, dan apa yang selama ini selalu kita hindari, serta mempertanyakan alasan dengan sehakiki-hakikinya. Kemudian, mari saling menyesuaikan.

Terkadang, kita memerlukan liburan untuk menyadari betapa menyenangkannya tenggelam dalam kesibukan di kantor maupun di kampus. Untuk kemudian saking sibuknya, lagi-lagi membuat kita merasa perlu rehat sejenak dengan berlibur. Terus menerus begitu, dan kerap tidak disadari secara berulang-ulang. Toh, apabila keseharian kita tak ubahnya suasana liburan (bangun siang; bebas ke mana-mana saat waktu kantor; jelajah mal dan kafe untuk meeting sambil menongkrong, plus foto-foto lucu untuk diunggah ke Instagram; mudah punya waktu untuk nonton bioskop; dan sebagainya), bisa jadi ada gereget dan kesan yang kurang saat berpelesir. Kelamaan liburan juga bisa bosan. Apalagi kalau kita diberkahi dengan kemudahan untuk bertamasya, misalnya dengan tidak perlu berpayah-payah mengumpulkan uang sebelum sanggup melakukan serangkaian perjalanan. Kecuali kalau pekerjaannya memang dilakukan dengan berjalan-jalan.

Terkadang, kita mesti mencoba untuk menjalani kehidupan sehari-hari tanpa ekspektasi berlebihan. Meski bukan berarti luntang-lantung tanpa arah yang jelas, tetapi menyesuaikan ekspektasi dengan kemampuan kita menghadapi apa yang bakal terjadi. Lantaran selama ini, banyak orang diajarkan untuk berani berharap setinggi-tingginya, dan didorong untuk berusaha sekuat tenaga agar bisa mencapainya. Namun tetap saja nasib orang siapa yang tahu. Saat ekspektasi meleset dari realitas, banyak yang lupa dibekali ilmu menghadapi kenyataan sampai akhirnya malah terpuruk berkepanjangan.

Terkadang, kita perlu kembali bergaul dan berhimpun dengan orang yang selama ini dianggap konyol, ndakjelas, dan biasa-biasa saja. Bersekutu dengan orang-orang hebat, inspiratif, positif, dan penuh semangat (baca: ambisius) jelas bermanfaat, membuat kita ikut terdorong ke arah yang lebih baik. Tapi bagaimanapun juga, kita tetap memerlukan masa rehat otak, sebuah jeda, durasi untuk bebas menikmati hal-hal absurd yang barangkali hanya bisa dinikmati tanpa terlalu banyak menganalisis. Kembali merasakan betapa menyenangkannya tertawa terbahak-bahak enggak pakai mikir, tanpa harus nyimeng.

Terkadang, kita kembali diingatkan bahwa untuk bisa mendapatkan tidur lelap yang nyenyak dan menyenangkan, salah satu caranya adalah dengan berlelah-lelah fisik dalam pekerjaan. Sayangnya, kebanyakan pekerjaan zaman sekarang malah melelahkan batin, membuat pikiran enggan diistirahatkan. Terus menggelora untuk dipacu demi mencapai daftar hal-hal yang tak berkesudahan. Laiknya sekumpulan kuda liar yang sengaja diberi bergalon-galon minuman penambah tenaga. Membuat pertanyaan sepele: “sebenarnya kamu mau cari apa sih?” terasa begitu dalam dan relevan untuk direnungkan berulang-ulang.

Terkadang, kita perlu untuk sesekali mencicipi kegagalan, terlebih jika hari-hari kita selalu dipenuhi dengan perburuan prestasi dan kesuksesan, yang kerap dijalani dengan obsesif dan ambisius sampai-sampai tidak peduli kanan kiri. Bukan sebagai pembenaran, akan tetapi kegagalan adalah hal yang manusiawi. Ibarat bola karet yang dilemparkan kuat-kuat ke bawah, untuk kemudian berpotensi melambung lebih tinggi sesuai hukum aksi-reaksi. Tapi lewat momen kegagalan juga, kita bisa santai sejenak dan kembali tersambung dengan indra kita sepenuhnya. Saat benar-benar menikmati makanan kegemaran karena rasanya, saat benar-benar menikmati grup musik favorit karena suara khasnya, saat benar-benar mengerahkan raga dan hati kala bercinta, saat benar-benar menikmati hidup karena aneka rupa isinya. Toh, satu-satunya kegagalan paling besar yang patut kita sesali sehebat-hebatnya adalah gagal bernapas.

…dan terkadang, kita perlu mendengar playlist seperti berikut ini siang-siang. Selamat tengah minggu. 🙂

[]

Iklan

7 thoughts on “Berkompromi dengan Hidup

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s