Lembur lagi. Sudah 12 hari total lembur Billy sampai sekarang. Pekerjaan barunya sangat menyita waktu. Ia berpikir untuk sekedar menyelesaikan satu bulan saja. Ndak kuat. Malam ini yang paling parah. Billy baru selesai jam 1 dini hari. Hari lain, rata-rata jam 11 malam ia baru bisa meninggalkan kantor.

Bukan hanya waktu. Billy juga harus meninggalkan anak istrinya. Ia mengontrak rumah kecil, 25 km dari rumahnya  sekarang. Ia sengaja pilih kontrakannya itu karena murah, lengkap dan akses yang nyaman. Cukup satu kali angkutan umum atau taxi dari kantor. Berhenti di depan komplek Lembah Indah yang baru dibangun. Jalan turun sekitar 5 menit. Sampai!

Rumah lain menawarkan harga lebih setengah dari gaji bulanan Billy. Atau ngekost seperti kawan-kawan lainnya. Tapi, lokasinya cukup jauh dari kantor. Seandainya dekat pun, padat dan kumuh. Billy sudah melakukan observasi yang jitu sebelum memutuskan kontrak. Dana dan waktu jadi dua faktor paling berpengaruh. Selebihnya soal membiasakan diri, pikirnya.

Ada dua hal yang sedikit mengganggu. Pertama, komplek Lembah Indah sebagian besar berdiri di atas lahan sengketa. Perusahaan properti Lembah Indah memenangkan kasus perebutan lahan yang berkecamuk 8 tahun. Selama sengketa berlangsung, ndak kurang dari 5 orang korban meninggal dunia. Mereka adalah warga yang bersikeras atas hak-haknya. Lalu, perusahaan dengan dukungan aparat melakukan teror intensif. Dari sekedar mengancam, menyebar fitnah, melakukan pembakaran, sampai penculikan di jalan. Kematian mendorong beberapa orang meninggalkan rumahnya. Hingga akhirnya, setahun lalu, pengadilan memenangkan perusahaan properti Lembah Indah atas tanah dan hak usaha diatasnya. Billy memandang ada potensi konflik di masa depan. Meski Lembah Indah hanya akses, tapi sekali tempat itu ditutup, ia harus menambah satu kali angkutan umum untuk berhenti di sisi jalan lainnya. Perhitungan efisiensinya akan terkoreksi sekitar 15% per bulan.

Kedua. Billy sebetulnya ndak mau ambil pusing soal ini. Tapi, Komplek Lembah Indah masih belum juga mengoperasikan lampu penerangan jalan. Padahal jalan sepanjang lembah itu sudah rapi dengan aspal kualitas prima dan tiang penerangan dari gerbang komplek sampai pintu keluar bagian belakang.

Tepat hari ke tiga ia menuruni jalanan komplek, ia merasa ada yang membuntuti. Langkah kakinya terdengar kembar. Dua miliknya. Dua lainnya entah milik siapa.

Hari ke lima. Pukul 11.15 kejadian yang sama terulang lagi. Ia mendengar langkah kaki yang bukan miliknya. Dekat sekali. Billy mengubah caranya melangkah. Ia gunakan ujung kaki untuk menapak. Berjinjit untuk mengurangi suara yang ditimbulkan sepatu. Dan iya yakin, suara itu adalah gesekan sandal diatas aspal. Sontak ia membalikan kepala ke belakang. Melihat apa yang ada di belakangnya. Mengandalkan bantuan cahaya bulan untuk menemukan pelakunya. Dan Billy, ndak menemukan siapa-siapa. Ia lakukan hal sama di malam-malam berikutnya. Tanpa hasil. Sampai Billy ndak lagi peduli. Ia sudah cukup lelah dengan lemburnya.

Malam ini, Billy turun dari taxi jam 01.10 di depan gerbang komplek Lembah Indah. Ia melihat cahaya. Lampu jalan sudah menyala! Berarti satu masalah terpecahkan, pikirnya. Mau pulang jam berapapun, jalanan komplek sudah terang benderang.

Ia menolak tawaran supir taxi untuk mengantar sampai pintu belakang. Billy segera masuk dan menyusuri jalanan yang biasanya gelap tiap malam. Ia bisa lihat deretan rumah-rumah mewah setengah jadi. Mereka lebih layak disebut villa karena ukuran luarbiasa besar dengan konstruksi modern paling diminati. Dengan harga ndak murah, pastinya.

Baru sekitar 50 meter berjalan. Mata Billy tertarik dengan satu rumah di sebelah kiri. Arsitekturnya cantik. Ia punya kaca lebar yang menjulur dari atas ke bawah. Lampu jalan membuat rumah itu semakin menarik perhatian. Lalu, Billy berhenti. Memicingkan mata. Memastikan apa yang terpantul dari kaca rumah itu.

Sekarang ia tau kenapa selama ini ia tidak melihat siapa yang membuntutinya. Meski sudah menoleh ke belakang. Ia dibuntuti sesuatu yang berjarak sekitar 5 cm di belakangnya. Bukan seseorang. Tapi sesuatu yang hanya tampak pinggang ke bawah…

image

Posted in: @linimasa

1 thought on “Lembur Leave a comment

Leave a Reply