Sepotong Kue dari Je Ef We

Berada di tengah-tengah perhelatan mode akbar, sembari mengetik di salah satu komputer di media center, sesekali mengobrol dengan direktur komersil perusahaan tempat saya bekerja. Selebriti tua muda berlalu lalang, dari mulai Atiqah Hasiholan hingga Rima Melati. Di dalam ruangan show, sedang berjalan para model di atas runway berwarna putih bersih dengan pencahayaan juga putih bersih yang sangat terang, memastikan gambar yang tertangkap kamera terlihat sempurna. Kontras dengan runway dan lighting, semua yang ada di ruangan tersebut berwarna hitam, karena harus hilang sebagai latar belakang. Tidak boleh menonjol dan tidak boleh terlihat.

Sebentar sebentar mengetik, sebentar sebentar menanggapi obrolan. Sang direktur bercerita tentang awal kariernya di perusahaan ini. Bagaimana dia adalah rekrutmen profesional pertama di perusahaan keluarga. Dan sempat menerima tekanan dari karyawan yang lebih senior. Obrolan berpindah ke situasi perusahaan sekarang. Apakah kita sudah siap lompat ke dunia digital. Kami berpandangan dan bertukar mata tahu sama tahu. Ya sudahlah. Terdiam, saya mengambil lembar jadwal acara hari ini. Show masih berlangsung dan ruang tunggu sudah mulai penuh dengan bapak bapak berbatik dan ibu ibu berpakaian formal. Oh, pantas ternyata pertunjukan berikutnya milik satu yayasan yang setiap tahun melaksanakan show untuk amal.

Pak Direktur sudah pergi untuk berjalan mondar mandir lagi. Sementara saya masih di sini agak bingung harus menulis apa. Barusan saja ketua acara (yang mana saya wakil ketuanya) baru lewat, dengan muka galak. Kejar atau biar saja? Tetapi saya mengantuk. Walau dari tadi sudah menyeruput doppio espresso ditambah air panas hingga tiga perempat cangkir, tetap saja kurang mengganjal mata.

Seorang teman sejawat duduk di sebelah dan berkata, “Lei, lu harus memutuskan deh,” saya hanya melirik sambil menggumam tidak jelas,
“Apaan.”
“Lu mau melek apa merem?”
“Sial, kelihatan banget ya?”

Kemudian percakapan dilanjutkan dengan obrolan tentang acara yang teman saya pegang dan sudah berlalu, masalah masalah kecil yang tidak terlalu berarti tetapi ada. Anekdot anekdot sepanjang acara ini berlangsung terkadang membuat tertawa, terkadang alis mengerenyit mendengarnya. Setelah itu teman saya berlalu, saya kembali mengetik sampai saya dipanggil untuk membantu memeriksa tamu yang akan masuk ke show berikutnya. Begitu kurang lebih hidup saya seminggu ini. Maafkan jika kurang bermutu.

OCTOBER 24: A model walks the runway of Indonesia Fashion Forward featuring Spring Summer 2016 collection by I.K.Y.K during the Jakarta Fashion Week 2016 in Senayan City, Jakarta.
OCTOBER 24: A model walks the runway of Indonesia Fashion Forward featuring Spring Summer 2016 collection by I.K.Y.K during the Jakarta Fashion Week 2016 in Senayan City, Jakarta.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s