Pekan Penuh Kenangan

SEBENARNYA, ada banyak hal yang dapat dan ingin dibagi dalam piket Linimasa hari ini. Tapi seperti biasa, saking banyaknya, sampai-sampai bingung dan blank mau menyampaikan apa, serta dengan cara apa. Jadi, boro-boro deh mikirin soal faedah dan hikmah yang bisa dipetik (jambu kali… dipetik).

Akan tetapi, setidaknya ada tiga hal yang patut saya syukuri secara khusus dalam sepekan terakhir. Pertama, Samarinda akhirnya diguyur hujan deras, yang walaupun dibarengi dengan pemadaman listrik dan beberapa efek samping tidak menyenangkan lainnya, namun tetap begitu menggembirakan setelah kekeringan selama sekitar tiga bulan.

Kekeringan yang sampai bikin air laut masuk (intrusi) ke Sungai Mahakam; keran mampet karena PDAM menghentikan sementara produksi air bersih, apalagi sumur-sumur pun tak lagi bisa diandalkan. Tak kalah penting, hujan deras diharapkan bisa mengatasi kabut asap yang mengganggu selama ini. Meski di sisi lain, banjir mulai kembali terjadi di mana-mana. Mudah-mudahan, hujan deras serupa juga jatuh di provinsi lain pulau Kalimantan dan Sumatera.

Kedua, ada banyak pengalaman baru yang meninggalkan kesan menarik. Dari bagaimana menjalani hidup yang penuh agenda tanpa perangkat telekomunikasi; jadi susah menghubungi dan dihubungi padahal banyak janji. Mengikuti Sunday service atau kebaktian sebuah gereja progresif yang sangat menyenangkan, dan–menurut saya–berhasil menjembatani jurang kesenjangan antara kaum muda dan spiritualitas modern dengan persepsi yang universal. Serta merasakan berada dalam lingkar positif orang-orang yang berusia lebih muda, namun memiliki kaliber yang sudah luar biasa. Sedikit banyaknya, kali-kali kehebatannya bisa nyiprat. Lumayan.

Perkara menjalani hidup tanpa perangkat telekomunikasi, jelas bukan kejadian yang diinginkan. Bukan pula bermaksud untuk menjauhkan diri dari dunia luar maupun pengalihan digital seperti kayak sedang menyepi. Hape satu-satunya kecemplung. Ya sudah, wasalam. Kalau sudah begini, mau tidak mau harus bisa sintas dalam kehidupan sosial dengan segala keterbatasan dan upaya pinjam-meminjam.

Berbeda halnya dengan pengalaman menjadi bagian dari jemaat ibadah pagi yang terselenggara sedemikian rupa, dan berlangsung hanya sekitar 90 menit secara tepat waktu. Sebagai seorang pembelajar Buddhisme ortodoks, it was an awakening experience. Sangat terasa bahwa kebaktian tersebut benar-benar humanity friendly, dan anak muda banget terkait konsep dan fokus perhatiannya.

Dimulai dari hal-hal fana, seperti desain dan tipografi yang digunakan dalam berbagai media penunjang kebaktian, lagu-lagu pujian yang dinaikkan, sampai khotbah yang disampaikan. Karena itu, tak heran bila aula lokasi kebaktian selalu penuh setiap sesinya. Ribuan orang selalu berusaha untuk tidak ketinggalan, kendati boleh dibilang hampir tidak ada ritual kaku yang dijalankan kala itu. Sampai-sampai agak merasa ironis pada diri sendiri, lantaran untuk pertama kalinya berlari memburu tempat duduk kebaktian. Tindakan yang tidak pernah dilakukan kalau ke vihara selama ini.

Berikutnya, kita pasti sama-sama setuju bahwa ide kreatif dan inspirasi positif tersebar di mana-mana dan bisa ada pada siapa saja. Percaya atau tidak, the positivity and inspirations overwhelmed me. Terlampau banyak aura positif dan pendorong semangat yang ditularkan dari orang-orang tersebut. Sebuah pengingat yang baik untuk terus belajar dan berusaha meningkatkan kemampuan. Kalau sudah begini, urusan yang tersisa hanyalah antara saya dan diri saya sendiri. Siap lebih maju, atau tetap ingin merasa seperti remah-remah rengginang.

Ketiga, akhirnya berhasil bertemu dengan hampir semua kakak-kakak penulis Linimasa, Jumat lalu. Hampir, lantaran dari delapan, masih kurang satu. Entah (ya sudahlah ya…), kapan bisa ketemunya.

Serunya terasa macam tweet-ups seperti beberapa tahun lalu. The real tweet-ups. Ketika tweets tergantikan dengan obrolan, avatars tergantikan dengan paras, emoticons tergantikan dengan ekspresi wajah. Seru, bisa bertatap muka dan berinteraksi langsung dengan orang-orang yang dikagumi.

1efe600a99a4d69d3e7d27ffc29aba33
Lengkap dengan barbuk-nya. :p

Terima kasih untuk semua pengalaman ini. 🙂

Oh ya, selamat Hari Sumpah Pemuda bagi Anda yang merayakan.

Sumpah, jangan jadi sampah.

[]

Posted in: @linimasa

12 thoughts on “Pekan Penuh Kenangan Leave a comment

Leave a Reply