Shinta

Masih ada tiga bangku kosong di baris ke empat. Aku dan seorang perempuan bergegas menduduki tempat itu bersebelahan. Kami berdua ketinggalan pembukaan Guru Wali Kelas soal jadwal pengayaan menghadapi ujian akhir kelas 6 SD.

Pembagian rapor ujian tengah semester ini lumayan membosankan kalau Mamanya Chelsea ndak duduk di sebelahku. Ia mengambil alih perhatian dari guru walikelas yang sibuk membuat biaya daftar ulang Rp. 50 juta seolah masuk akal untuk orangtua murid. Diantara gemuruh kaget dan protes seisi ruangan, Mamanya Chelsea terus bercerita soal keluarga besarnya.

image

Untuk perempuan berumur 39 tahun, Shinta, cukup cantik. Ibu dua anak ini mengenakan kemeja panjang viscose dan celana linen yang sama putih. Kerudung corak koral berbahan katun menutup rapi kepala hingga menjulur ke dada. Menenteng Louis Vuitton Speedy 30 Damier Ebene Canvas dengan sedikit celah untuk kepala botol Aqua 330ml. Semerbak Dior Poison masih berada di tahap middle notes. Artinya, ndak lebih dari 30 menit lalu ia menyemprotkan parfum itu. Mungkin di mobil saat perjalanan ke Sekolah. Anak sulung Shinta, Chelsea, sekelas dengan anakku Sekar. Info lain sepanjang pidatonya di bangku sebelah antara lain:

Chelsea susah bangun pagi. Hal ini dialami hampir semua anak kelas 6 SD. Kemungkinan besar, 30% dari mereka pergi sekolah hanya dengan sikat gigi atau berkumur. Suaminya, pernah harus pesan taxi karena ada meeting di kantor pusat Bank Mandiri. Sementara mobil mesti antar sekolah. Chelsea bisa seharian nonton Youtube. Selama manusia terkoneksi dengan internet, hal ini susah dihindari. Shinta cuma membolehlan Chelsea pegang ponsel di akhir pekan karena suatu hari tagihan kartu kredit ayahnya meledak akibat ratusan transaksi apple store. Dan lainnya. Dari soal Kacang Dua Kelinci hingga kabut asap di Riau. Chelsea dan papa Ardi (Suami Shinta) sekarang menunggu di Mall Ciputra. Ndak jauh dari Sekolah.

Akhirnya rapor anak kami dibagikan. Shinta lebih pendiam kali ini. Perhatiannya terpecah antara lanjut cerita dan mendengarkan panggilan guru wali kelas. Setelah rapor di tangan. Ia langsung buka halaman nilai-nilai dan membahasnya satu-satu. Membandingkan nilai UTS Chelsea dan Sekar. Menunjuk-nunjuk catatan wali kelas di buku rapor. Komentar panjang lebar. Buatku, keakraban kami sudah masuk botol NuGreen Tea Low Sugar ke dua dengan sisa seperempat dari penuh. Lalu, ia tunjuk kertas rapor Sekar.

“Wah harus diperbaiki nih nilainya.”
“Iya. Mudah-mudahan UAS nanti lebih bagus.”
“Di rumah harus diajarin beragama juga anaknya. Jadi nilai moralnya bisa meningkat.”
“Nilai moral? Ini nilai praktik agama lho…”
“Ya sama aja!”
“Oh gituu… Eh iya, aku penasaran. Papanya Chelsea namanya Ardi kan ya?”
“Iya bener.”
“Masih kerja di Mandiri?”
“Masih. Kenapa?”
“Ndak apa-apa. Aku cuma inget aja, Ardi ndak pernah pake kondom…”

Iklan

5 thoughts on “Shinta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s