Mencari Koneksi

Sudah lama sekali sejak terakhir kali saya jatuh cinta. Sampai lupa rasanya. Lupa apa yang membuat rasa tertarik pertama kali, sehingga ingin tahu lebih banyak. Lupa rasanya terobsesi ingin stalking orang ini hingga semua halaman yang keluar ketika Google namanya saya buka satu per satu. Siapa tahu bisa dapat informasi baru tentang dia. Lupa betapa serunya membaca satu per satu post di blog-nya hanya untuk mengerti lebih dalam lagi tentang kepribadiannya. Sungguh lupa perasaan itu saking lamanya.

Apa sih, yang membuat kita tercetus rasa tertarik ke seseorang? Seperti yang saya pernah tulis, kalau saya sering menanyakan mengenai suka atau tidaknya dia terhadap film horor. Tetapi toh, bukan berarti semua fans film horor saya merasa cocok, bahkan akrab. Apalagi ketika di luar dari subyek itu kita seperti kehabisan pembicaraan. Ternyata dia referensi bacaannya mirip dengan kita? Bukan jaminan saja, siapa tahu dia cuma punya, tetapi belum membaca lewat dari halaman dedikasi. Bahkan ketika membaca saya suka heran kalau dua orang bisa memiliki cara pandang yang sangat berbeda mengenai sebuah buku – padahal fiksi sederhana. Contohnya serial Harry Potter. Jadi apa, dong?

large

Sepertinya jika ditanyakan setiap orang pasti memiliki jawaban berbeda. Bahkan bisa jadi satu orang, per kasus juga berbeda jawabannya. “Karena dia cakep, kak.” atau tidak jarang mendengar, karena dia yang paling gigih mendekati dan tidak mudah menyerah. Atau seperti partner saya yang mengatakan ketertarikannya pertama ke saya karena saya menunjukkan ketertarikannya pada dia. Jadi, mana duluan, ayam atau telur?

Kalau anak muda (bukan seperti saya yang anak tua) boleh memiliki kriteria ini itu, yang ketika saya masih cukup belia malah agak sinis memandangnya. Tetapi begitu mencapai usia ini kok saya malah berpikir kalau memiliki kriteria itu masuk akal dan akan memudahkan proses screening. Tentunya dengan satu syarat penting: jangan sampai jatuh cinta. Begitu sudah naksir, namanya kriteria dan proses seleksi bubar semua. Tetapi siapa yang bisa menyalahkan kalau saya romantis? Bahkan di usia segini pun, saya masih ingin merasakan lagi jatuh cinta. Mungkin kali ini tidak buta, melek saja, karena semakin tua, semakin banyak pertimbangan. Masih ingin merasakan rasa ingin bercerita yang begitu deras, sehingga kita harus meneleponnya dan berbicara bermenit-menit tanpa ada dead air. Atau sebaliknya, dengan senang hati memandang wajahnya dan mendengarkan dia bercerita dengan senyum di mulut. Rasa ingin membagi senang dan suka. Ingin menyentuh kulitnya. Ingin membuat resensi verbal dari buku yang baru kita baca atau film yang baru kita tonton dan mendengar pendapat dia soal subyek itu. Masih banyak keinginan yang sulit terhapus walau di usia pertengahan ini (middle age, maksudnya).

Salahkan film Disney Princess? Tetapi saya tidak ingin diselamatkan, saya bisa menyelamatkan diri saya sendiri, anak saya dan mungkin beberapa orang lagi. Terkadang saya hanya ingin ditemani, dengan seseorang yang spesifik, tetapi juga umum. Maaf kalau jadi curhat.A-Single-Man-scene-a-single-man-22583324-604-327

Iklan

9 thoughts on “Mencari Koneksi

  1. Hallo, kak Leila 🙂
    Ada obyek untuk dirindu, untuk dibagi cerita memang terlihat menyenangkan ya. Tapi katanya sih, menikmati kesendirian itu indah juga. Ah, rumput tetangga memang selalu lebih hijau dari milik sendiri :”

    Suka

  2. kok ya pas akhirnya marathon baca postingan linimasa di saat-saat seperti ini…

    saat kebangun. entah kenapa. dan sadar ga punya obyek untuk dikangenin.

    dan pengen punya. yang sederhana. tapi berasa luar biasa…

    ah manusia

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s