DIET: Yang Setiap Hari Yang Berarti

Seorang teman, banyak teman sebenarnya, terutamanya perempuan, selalu mengeluh soal berat badannya yang tak turun-turun. Beragam metode diet sudah dicoba. Southern Diet, Beverly Hills Diet, Paleo, Warrior Diet, Juice Diet dan puluhan jenis diet. Di wikipedia pun tertulis lebih dari seratus jenis diet. Apalagi belakangan ramai tersedia catering yang menyajikan makanan sesuai dengan diet yang diinginkan. Tinggal bayar, makanan pun dikirimkan ke depan pintu. Ada yang sekali kirim langsung untuk 3 kali makan, pagi siang dan malam. Dan yang lebih mahal tentunya yang tiga kali pengiriman sesuai waktu makan.

Dari sekian banyak teman yang sudah mencobanya, ada yang berhasil menurunkan berat badannya. Untuk kemudian naik lagi. Ada pula yang tidak berhasil sama sekali. Malah ada yang berat badannya bertambah. Lingkar pinggang dan perut yang selalu menjadi masalah, tak kunjung mengecil. Padahal sudah mati-matian menjalankan diet yang sepertinya lumayan menyiksa itu, ditambah olah raga yang lumayan keras. Ada yang lalu menyerah “sudahlah ah jalani saja hidup seperti sebelumnya”. Dan banyak pula yang maju terus pantang mundur mencoba metode diet lainnya. Yang benar mencapai dan menjaga berat dan bentuk tubuh sesuai keinginan, sepertinya masih bisa dihitung dengan sebelah tangan.

Penulis bukan penganut salah satu jenis diet. Pun ingin menganjurkan ke pembaca. Penulis suka masak dan makan sendiri. Bentuk tubuh penulis pun jauh dari ideal. Tak gemuk tapi juga tak kurus. Hanya kalau ada acara reuni SMP/SMA, penulis cukup bersyukur. Setidaknya perut belum buncit. Dan sepanjang hidup penulis belum pernah terjangkit penyakit serius. Di usianya yang menjelang separuh usia rata-rata manusia di bumi. Penulis hanyalah pengamat dan mencoba menganalisa soal diet ini. Dan berikut adalah hasil pengamatan. Benar salah, sementara atau selamanya hasil pengamatan ini, tak tahu juga.

Diet, bukanlah soal mengganti secara drastis untuk kurun waktu tertentu. Tapi soal mengubah cara hidup. Bukan soal tipe diet, tapi gaya hidup. Dan kalau kita bicara soal hidup, artinya yang bisa diaplikasikan sepanjang hidup. Misalnya, nasi. Yang sering dihapuskan dari diet. Dianggap sebagai sumber gula yang tinggi penyebab penumpukan lemak. Tapi mungkinkah kita menghapus nasi sama sekali di restoran Padang? Makan Rendang tanpa nasi? Kalau pun bisa sepertinya terlalu menyiksa. Atau sama sekali tidak makan nasi, tapi minum kopi dengan susu kental manis seperempat gelas. Apa bedanya? Gula tetap masuk ke dalam tubuh.

Diet Tahu Diri. Adalah diet yang sepertinya bisa diaplikasikan untuk sepanjang hidup. Diet ini tidak membuang dan menyarankan jenis makanan apa pun. Semua boleh dimakan. Mau makan nasi bakmi dan roti? Makanlah. Asal tahu diri. Sadar bahwa jenis makanan itu mengandung gula yang tinggi. Artinya, untuk beberapa makanan berikutnya harus diimbangi dengan asupan sayur yang lebih banyak. Atau, makan siang hari ini di RM Padang lengkap dengan lauk pauk bersantan dan berlemak dan sayurnya adalah daun singkong yang sudah dimasak dan didiamkan cukup lama. Nikmatilah. Tapi makan malam mungkin bisa dieliminasi. Makan sekedarnya saja.

Ada teori “makan pagi seperti raja, makan siang seperti rakyat dan makan malam seperti pengemis”. Teori yang cukup mudah dan sebenarnya masuk akal. Pagi – siang tubuh memerlukan energi. Makanlah makanan yang bisa memberikan energi. Bukan yang membebaninya. Sementara malam tubuh akan beristirahat. Makanlah makanan yang membantu tubuh untuk beristirahat. Makan malam berlebih hanya akan membuat tubuh bekerja ekstra keras. Dan bisa jadi membuat lemas saat bangun tidur.

Sebelum mengganti atau mengubah pola makan, ada baiknya kita membaca dan mencoba memahami Circadian Rhythm. Ritme tubuh setiap hari. Apa yang terjadi dengan tubuh kita jam per jam. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Sehingga kita bisa menyesuaikan dengan asupan makanan kita. Dengan memahaminya, apa pun diet yang kita pilih, akan kita jalani dengan pemahaman dan kesadaran. Ini pun bukan tak bisa dilanggar. Saat diajak kuliner malam ke Glodok, masa sih harus ditolak?! Atau kasian oacar karena Anda tidak makan popcorn sambil nonton di bioskop. Nikmati saja. Toh kita tidak sedang berupaya menjadi cover menshealth atau miss bikini 2016.
Yang terpenting saat kita menikmatinya, kita sadar apa yang sedang kita lakukan untuk tubuh kita. Termasuk, apa yang harus kita lakukan saat tubuh mulai memberikan tanda-tanda melar. Atau mulai turun cukup drastis sehingga terlalu kurus.

Jangan pernah sekali pun membandingkan tubuh kita dengan orang lain. Setiap orang punya bentuk dan kebutuhan tubuhnya sendiri-sendiri. Ada yang tidak bisa mengolah gula dengan baik, sehingga harus mengurangi asupannya. Ada yang tidak bisa menerima protein sehingga harus dikontrol. Ada tubuh yang pandai mengelola biji-bijian, ada yang bodoh. Dengarkan apa kata tubuh kita. Percayalah, tubuh selalu memberikan tanda-tanda sebagai cara berbicara kepada kita sebagai pemiliknya. Tanda-tanda itu bisa berupa gatal-gatal, jerawat, migren, demam, mata berat atau badan menjadi lemas dan lainnya. Saat tubuh berbicara, segera ingat-ingat beberapa makanan terakhir. Terlalu tinggi gula? Karbo? Atau perasa? Kurang sayur dan buah?

Hanya dari pengamatan dan pengenalan tubuh yang terus menerus itulah kita bisa semakin mengenal tubuh kita dan akhirnya menemukan diet yang sesuai dengan tubuh kita. Setelah kita mengenalnya, sepertinya kita tak lagi perlu untuk diet sesaat. Tapi mengganti pola dan gaya hidup. Bukan sesaat tapi selamanya. Berkesinambungan. Sepertinya itu lebih penting.

Kalau kita perhatikan pola hidup kakek nenek kita yang hidupnya sehat sampai ajal menjelang, mereka punya satu kesamaan: pola hidup teratur. Makan di jam yang sama. Tidur di jam yang sama. Dan semuanya pada porsi yang sewajarnya. Apakah mereka makan nasi? Ya makan. Tapi tidak lantas tambah nasi berpiring-piring. Makan gula? Ya makan juga. Tapi tidak menggila semua harus manis. Sepertinya satu lagi kelebihan mereka, kebanyakan mereka makan makanan dari rumah. Seorang paman yang sekarang sudah tiada, selalu menyempatkan pulang ke rumah untuk makan siang. Atau membawa bekal dari rumah. Ketimbang makan di restoran. Apakah makanan di restoran tidak baik? Ya tidak juga. Tapi selamanya apa yang terjadi di balik dapur restoran tidak mungkin setransparan dapur rumah. Apalagi kalau bicara soal kebersihannya.

Ingin memulai Diet Tahu Diri ini? Mulailah dengan mengenal tubuh sendiri. Setelahnya dengarkan tanda-tanda yang diberikan oleh tubuh. Tak perlu ada jenis makanan apa pun yang harus dihindari apalagi dimusuhi. Selalu ingat apa yang terjadi saat orang berpuasa? Makan jadi menggila saat jam buka. Sama halnya dengan saat keinginan akan gula dan makanan lainnya. What you resist persist.

Does-Your-Body-Type-Influence-How-You-Respond-To-Dieting-and-Training-660x354

http://gymflow100.com/does-your-body-type-influence-how-you-respond-to-dieting-and-training-video/

Iklan

3 thoughts on “DIET: Yang Setiap Hari Yang Berarti

  1. Sebenarnya sedang melakukan hal ini sih, Glenn. Gak persis sama. Cuma lebih sadar, kalau pas hari break gak olahraga, berusaha gak makan banyak. Makan ‘agak’ banyak justru pas hari berolahraga. Entah itu disebut cheating ato enggak, atau malah kebalikannya. Tapi ya memang badanku merespon dengan cara seperti itu. You’re right, our body can always tell.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s