Yang Penting Terasa

Semangkok indomi rebus dengan tiga cabe rawit diiris tipis itu rasanya lebih pedas dari dua cabe rawit.  Lazim. Nah, sekarang tanyakan ke seluruh ibu-ibu di seantero negeri, mana yang lebih pedas antara indomi dengan tiga cabe rawit dibandingkan dengan empat cabe rawit. Jangan heran, jangan terkejut jika jawabannya adalah lebih pedas tiga cabe rawit.

Alasan? Karena ganjil. Ini soal klenik? Ndak sejauh itu.

Ini soal persepsi. Dalam alam pikiran sudah terbentuk bahwa yang ganjil lebih pedas dari yang genap. Seperti sayap lalat yang tercebur pada segelas kopi. Jika celupkan juga sayap sebelahnya, maka itu adalah penawarnya.

Ini persepsi? Atau ilmiah yang belum dapat dibuktikan? Terserah. Dan ternyata persepsi menjadi penting dalam tataran praktek sehari-hari.

persepsi/per·sep·si/ /persépsi/ n 1. tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu; serapan: perlu diteliti — masyarakat terhadap alasan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak; 2. proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui pancaindranya;

memersepsikan/me·mer·sep·si·kan/ v membuat persepsi tentang: kewajiban seorang atasan akan menonjol jika bawahan ~ atasannya sebagai orang yang memikirkan dan memperjuangkan kepentingan bawahan.

Persepsi muncul dari indrawi kita. Belum tentu benar tapi dirasa. Lebih penting  yang dirasakan dari pada fakta yang ada. Inilah sebabnya mengapa anak muda jomblo mengeluhkan mengapa perempuan cantik habis keduluan oleh pria yang mereka persepsikan brengsek. Karena perempuan pada dasarnya menyukai pria yang dirasakan membuatnya nyaman. Bahkan tingkat kenyamanan ini pun terserah kepada persepsi masing-masing perempuan. Maka hidup pada akhirnya adalah saling silang antar persepsi.

Anak buah yang bekerja giat tapi susah bicara di hadapan umum, akan jauh dari populer dan dipersepsikan tidak keren dibandingkan pekerja muda yang tampil prima, di rapat banyak bicara dan aktif, walaupun pada dasarnya dalam bekerja, misalnya membuat laporan dan kedisiplinan  mereka ndak terlalu bagus.

Jika kita datang ke bos dan bilang  dalam bekerja selalu bagus, giat dan faktanya memang begitu, akan kalah dengan anak buah yang sebetulnya ndak jelas kerjanya namun diceritakan oleh orang yang sangat dipercaya oleh bos kita  bahwa dia bekerja lebih baik dari kita, maka yang terjadi adalah bos kita lebih percaya pada pekerja yang diceritakan itu.

Persepsi memang selalu tercampur dengan nilai percaya. Atau  malah lebih gawat: persepsi dibentuk juga atas pondasi apa yang ingin kita percayai. Persepsi bukan saja soal  pancaindera, tapi juga hati.

Persepsi yang terlalu besar, tanpa diimbangi daya nalar yang logis akan berbahaya bagi jiwa. Selain itu juga akan berbahaya dalam pola pikir kita. Sesat semenjak dalam pikiran. Persepsi yang selalu lebih dominan daripada fakta. Apa misalnya?

Kecenderungan manusia Indonesia untuk Ad hominem. Pola pikir yang mencampur adukan beberapa variabel penilaian yang sejatinya ndak ada hubungannya sama sekali. “Masnya itu kalau kerja bagus lho. Tapi ndak saya naikkan pangkat, soalnya pasti dia ndak layak jadi manajer. Lha wong sampe sekarang belum nikah. Dia pasti terlalu berat ke pekerjaan dan susah membagi waktu. Ndak layak jadi calon bos dia “. Sesat pikir ini menimbulkan gagal paham. Argumentasi orang kebanyakan yang dibentuk hanya karena karakter atau kondisi seseorang yang sejatinya ndak ada hubungannya dengan apa yang sedang dibahas.

“Ibu itu cantik ya. Karirnya tokcer lagi. Tapi aku sih ndak mau jadi bosnya. Walaupun selalu bela anak buah di hadapan bos lain, tapi suaminya malah sering banget lho ditinggal ke luar negeri. Dia kan suka liburan sendirian kemana-mana.”

A :  “Suaranya bagus ya. Lagunya juga enak. Bikin semangat kerja nih, gue.

B :  “Ya udah, beli albumnya gih.”

A :  “Ndak ah. Dia gay.”

Persepsi dibangun bukan atas apa yang kita kumpulkan pelan-pelan berdasarkan fakta yang ada. Persepsi bisa timbul seketika hanya karena apa yang ingin kita percaya. Sebelum persepsi muncul sejatinya ada penyematan identitas yang masih menggantung dan belum resmi benar atas segala sesuatu (tapi agar  mudah kita contohkan saja atas diri  seseorang).  Orang tatoan itu biasanya nakal, badung. Jika ternyata rajin sholat berarti itu pengecualian. Atau dianya lagi caper. Jika si tatoan itu ternyata menghamili anak orang, maka dalam pikiran kita, akan secara otomatis bilang dan meyakini penyematan pra identitas itu dengan fakta yang membenarkan dan menegaskan: “O pantes lah, dia kan tatoan. Pasti brengsek. Bego aja tuh ceweknya ndak nyadar dari dulu.”   

Soal persepsi yang dianggap penting ini menjadikan proyek pencitraan sebagai cara instan dan paling mudah. Karena pada dasarnya persepsi bukanlah semacam  pertanyaan yang harus dijawab dengan fakta. Persepsi adalah pertanyaan yang harus dijawab dengan persepsi lain yang cukup meyakinkan. Soal citra soal percaya. Soal keyakinan yang bukan ditopang berdasarkan hal nyata. Apalagi fakta. Persepsi muncul dari sesuatu yang maya. Sesuatu yang tak perlu jelas asal dan bentuknya.

 

Persepsi itu…

yang penting terasa.

 

 

 

 

Iklan

3 thoughts on “Yang Penting Terasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s