Mencari Kenyamanan Lewat Alasan

Sebagai seorang Tionghoa yang lahir dan tumbuh besar dalam lingkungan budaya akar cukup kuat di Kalimantan–meskipun masih jauh dari level totok, sangat mudah bagi saya untuk menemukan penerapan berbagai tabu, tradisi mitos, ragam etiket, dan nilai-nilai sejenis dalam kehidupan sehari-hari. Semua itu berlaku sejak seseorang baru dilahirkan, sampai akhirnya yang bersangkutan meninggal.

Dipegang teguh dan dijalankan oleh para tetua konservatif dengan giat, sambil terus mendoktrin generasi yang lebih muda untuk ikut melakoninya sebagai bentuk pelestarian budaya adiluhung sekaligus pendidikan karakter. Dalam hal ini, tidak ada ruang untuk membantah atas dasar alasan tertentu, mempertanyakan, mengritik, atau menolak melakukan. Karena selain bakal dianggap kurang ajar, juga dibarengi ancaman nasib buruk maupun kualat. Sesuatu yang jika terjadi atau tidak, ya tetap bakal dibilang “percaya enggak percaya lah.

Kondisi ini barangkali agak berbeda dibanding ragam kehidupan sebagian warga Tionghoa metropolitan di kota-kota besar pulau Jawa, yang relatif lebih mudah bersentuhan dengan pola pikir modern dan menafikan kekakuan demi efisiensi serta efektivitas hidup, atau dalam istilah lain; sibuk dan enggak ada waktu untuk ngurusin yang gitu-gitu.

Sayangnya, sedang ada jurang yang cukup besar antara kaum tua dan kaum muda dalam urusan menyikapi khazanah budaya ini. Selalu kita dengar, ketika kaum tua mengeluhkan sikap para anak muda yang terkesan mbalelo, kurang sopan santun, minim hormat, dan tidak mengindahkan nilai-nilai (yang dipercaya) sakral. Padahal, ada alur komunikasi dan common sense yang terputus, sehingga kedua pihak tidak akan nyambung. Yang terjadi bukan transfer budaya yang semestinya meriah dengan diskusi dan apresiasi berujung kesepahaman, melainkan doktrinasi dengan kata sakti “harus,” dan “tidak boleh.”

Almanak tradisional Tionghoa: “Tongshu”. Semacam primbon tahunan dan buku pintar metafisika. Selain berisi kalender setahun lengkap dengan detail karakteristik setiap harinya, juga memuat soal arah baik/buruk, waktu baik/buruk (untuk menikah, meresmikan rumah, potong rambut, dan lain-lain), mengenali pertanda di rumah, serta masih banyak lagi. Terbit setiap tahun, dan bisa didapatkan di toko-toko perlengkapan sembahyang Tionghoa terdekat.

Kaum muda identik dengan kepraktisan, pemikiran yang modern, tapi tetap penasaran, dan mudah digoyang oleh tren. Okelah, dalam penerapan khazanah budaya yang dimaksud di atas, pasti akan cenderung ribet dengan segala pernik-perniknya, serta dianggap kuno. Namun tetap ada celah untuk minimal dibicarakan dalam kemasan yang gaul dan kekinian. Lalu, saat ada sekelompok anak muda yang tertarik dan pengin melakukannya bersama-sama, dan berhasil menciptakan hype baru, pasti makin banyak anak muda yang juga ingin merasakan sensasi terlibat dalam–sebut saja–festival budaya.

Di sisi lain, kaum tua memang menjadi pelaku khazanah budaya tersebut, akan tetapi juga merupakan korban indoktrinasi sebelumnya. Jadi, sudah telanjur memegang teguh semuanya tanpa dibarengi pemahaman tentang anggapan, sugesti, stigma dan prasangka, kebijaksanaan dan filosofi dalam adat, serta sejenisnya. Diperparah dengan ketidakcakapan berkomunikasi termasuk untuk menjelaskan tentang sesuatu pada kaum muda. Setiap ada pertanyaan, bisa keluar jawaban pamungkas: “dari sananya ya begitu, dari zaman leluhur sudah seperti itu.” Jawaban yang nanggung dan tidak memuaskan rasa keingintahuan. Apalagi kalau ditambah celetukan “sudah, enggak usah banyak tanya.

Salah satu contohnya, wanita Tionghoa yang baru melahirkan tidak boleh keramas sampai 40 hari setelah persalinan. Bagi tetua yang kolot, pantangan ini sama sekali tidak boleh dilanggar. Padahal, selalu ada alasan dan penyebab dari segala sesuatu. Dan siapa saja berhak mempertanyakan alasannya, tanpa bermaksud untuk bersikap dramatis.

Ada beberapa aspek yang bisa ditinjau:

> Apakah membasahi rambut juga termasuk keramas? Apabila rambut kena percikan air, disebut keramas?
> Bagaimana dengan keramas menggunakan air hangat, dan dilakukan di siang hari yang cuacanya gerah?
> Apakah keramas di sini dilakukan sendiri? Bagaimana jika keramas seperti di salon, dan bukan dalam kondisi sekaligus mandi?

Dan khusus untuk pantangan ini, satu-satunya alasan yang saya reka sendiri adalah, wanita yang baru melahirkan memiliki kondisi fisik yang lemah. Apabila mandi sendiri apalagi dengan air biasa, takutnya bisa jatuh atau pingsan di kamar mandi. Di sisi lain, air dingin yang menyentuh kepala bisa menyebabkan kurang enak badan alias masuk angin. Fair enough, right?

Kalau pengin kreatif, soal mitos dilarang keramas ini bisa dijadikan model activation dalam peluncuran produk dry shampoo atau sampo kering. Tinggal minta afirmasi dari tetua warga Tionghoa saja, yang bisa menetapkan batasan soal “keramas yang pantang”. Tak mustahil, produk ini pun dapat dilirik para kaum ibu muda yang baru melahirkan tapi sudah sangat gerah dengan rambut bau tak tercuci selama berhari-hari.

Contoh lain, yang lebih absurd. Setelah pergi melayat, seseorang dilarang menjenguk orang sakit, bayi yang baru dilahirkan, mendatangi acara pernikahan, mendatangi peresmian tempat usaha atau rumah baru, mendatangi pesta ulang tahun, melakukan kunjungan silaturahmi saat Imlek, serta berkunjung ke tempat ibadah (dalam hal ini kelenteng maupun vihara aliran Mahayana). Alasan yang lazim soal pantangan ini adalah anggapan ada aura negatif, kesialan, duka yang melekat pada tubuh orang tersebut. Jadi cara menguranginya dengan membasuh diri menggunakan air kembang sebelum masuk rumah, atau tidak datang ke acara sama sekali. Masuk akal? Tidak. Tapi terkesan nyeremin. Orang pun takut dan enggan untuk melanggarnya. Di sisi lain, si empunya acara pasti tersinggung berat apabila dikunjungi orang yang habis melayat. Sebab sama artinya sengaja menularkan kesialan. Bahkan secara umum, sangat dilarang untuk mengucapkan kata-kata bernuansa buruk (mati, tewas, hilang, habis, putus, pecah, rusak, dan sejenisnya) dalam setiap acara bahagia.

Terus, apa alasan paling logis soal ini? Bagi saya, adalah ketidaknyamanan sosial. Perubahan emosi yang terlalu drastis bisa memberikan perasaan tidak menyenangkan bagi seseorang. Setelah bersedih-sedih saat melayat (kecuali kalau sedihnya cuma basa basi sosial doang), kemudian malah harus tertawa-tawa di acara orang lain. Sebab kemurungan itu jelas terlihat di wajah. Sehingga, lebih baik menenangkan diri. Hanya saja, saat pantangan ini dibakukan entah berapa ratus tahun lalu, tidak ada yang menyadari bahwa manusia terus berevolusi dalam berperasaan. Perkabungan tidak lagi berlangsung dalam waktu berbulan-bulan. Setelah melayat tidak bisa datang ke pesta ulang tahun? Ya enggak masalah, ke mal aja, jalan-jalan di sana. Beres perkara.

Kalau ketidaknyambungan ini dibiarkan terus, siapa yang jadi korban? Semuanya. Para orang tua akan lebih sering makan hati, memperbesar potensi alami gangguan kesehatan karena perasaan; para anak muda akan makin jauh dari kesempatan pengalaman hidup yang seru dan jarang-jarang dilakukan, serta cenderung terbiasa dengan perspektif yang dangkal; serta nilai-nilai budaya yang sejatinya unik dan menyenangkan jadi terlupakan, punah.

Sisi baiknya, selalu ada hipster alamiah dalam setiap golongan. Pasti ada tetua yang berpikiran modern, moderat dalam berpendapat, luwes dalam bergaul dengan siapa saja, dan fleksibel dengan kondisi zaman. Dengan mudah ia menjadi sosok yang disukai kalangan usia lain, nilai-nilai budaya yang pernah ia akrabi kala muda pun bisa dibagikan layaknya topik pembicaraan gaul di kafe keren. Pun ada kaum muda yang tertarik menempatkan diri di posisi para leluhurnya dulu. Bukan untuk memuja-muja masa lalu, melainkan untuk memperkaya wawasan diri, bahkan bisa menumbuhkan ketertarikan orang muda lain untuk “mencicipi”. Lihat saja beberapa program jelajah-jelajah dalam kota, ke kawasan yang biasanya hanya dipenuhi orang-orang tua.

Namun sebaliknya, tidak sedikit juga ada anak muda yang kadung terindoktrinasi, bertindak jauh lebih kuno ketimbang sekelilingnya, totok parah melebihi zaman. Usia doang yang muda, gaya hidup kelihatannya gaul, pendidikan lumayan tinggi, namun dalam urusan menjalani hidup malah purbakala, dan sok iye banget. Mau ngapa-ngapain harus lihat tanggal dan hari baik, jam bagus, serta menggunakan warna tertentu. Duh, halo…

Khusus buat anak muda yang bersikap seperti ini, titip catatan deh, biarlah cuma cinta yang seringkali tidak pakai logika, jangan sampai menyebar ke hal-hal lainnya. Apabila enggak ketemu alasan kuat untuk melakukan sesuatu, coba bikin sendiri. Kalau sudah dibikin-bikin jatuhnya tetap enggak jelas dan tak nyaman, bersikaplah layaknya orang modern.

Juga buat anak muda Tionghoa masa kini, ndak usah sok-sokan begini begitu atas nama budaya leluhur kalau nulis dan ngucap nama Cina sendiri aja belum bisa.

Buat bonus, berikut ini beberapa tabu atau mitos Tionghoa yang entah dari kapan tahun adanya, dan terus dipercaya sampai sekarang baik dengan atau tanpa alasan. Ada yang berasal dari anggapan, ada yang menggunakan metode menakut-nakuti, ada juga yang sama sekali tidak jelas.

  • Potong kuku malam-malam bisa mengundang hantu datang.
  • Menikah dengan seseorang yang selisih usianya tiga dan (apalagi) enam tahun bisa berujung pada kesialan. Sebaliknya, menikah dengan selisih usia dua dan (apalagi) empat dipercaya bakal lebih beruntung dan bahagia.
  • Angka-angka yang dianggap bagus adalah 3, 6, 7, 8, 9, juga kombinasi 18 dan 168. Sedangkan angka yang melambangkan keburukan adalah 4.
  • Kalau menyapu tempat usaha, harus tidak melewati garis pintu utama. Jadi, sampah atau debu yang disapu dalam ruangan, disekop di dalam. Sedangkan waktu Imlek, sama sekali tidak boleh menyapu.
  • Kalau makan buah pir, jangan dibagi ke orang lain.
  • Tidak boleh memberi hadiah jam dinding atau jam besar, terutama dalam peresmian atau pembukaan tempat usaha.
  • Jangan menangis di hari Imlek.
  • Jangan bersiul atau bertetabuhan di malam hari.
  • Jangan baca buku apabila sedang menjaga toko atau tempat usaha.
  • Makan tidak bersih, menyisakan butiran nasi di piring, akan membuat si pelaku bakal bersuamikan pria dengan wajah berbopeng-bopeng.
  • Jangan melayat dengan mengenakan busana merah.
  • Jangan datang ke acara-acara bahagia (pernikahan, ulang tahun, dan sebagainya) dengan busana warna putih atau hitam.
  • …dan masih banyak lainnya.

Anyway, selamat libur semuanya. 🙂

[]

Posted in: @linimasa

2 thoughts on “Mencari Kenyamanan Lewat Alasan Leave a comment

  1. Untuk poin “jangan bersiul di malam hari”, sepertinya tidak eksklusif cuma berlaku di budaya Tionghoa, ya? Atau mungkin asalnya dari budaya Tionghoa, lalu diadaptasi oleh budaya lain? Kebetulan tahun lalu nonton film pendek buatan anak2 Makassar, judulnya “Jangan Bersiul di Malam Hari”. Tentang anak yang kangen bapaknya yang sudah pergi, lalu dia bersiul tiap malam. Sama ibunya dilarang, karena bisa mengundang setan. Eh ternyata ibunya pun kangen dengan suaminya, lalu diam2 bersiul. Menarik. Dan setelah nonton film itu, baru tahu ada kebiasaan seperti itu. Lalu ditambah baca tulisanmu ini, jadi tambah tahu kalau ini ternyata bagian dari mitos Tionghoa. Interesting.

    1. Kayaknya sih kebetulan sama, atau berasal dari alasan yg sama. Mikirnya sih begini, selain ngganggu waktu istirahat, bersiul malam-malam kedengarannya bakal seram-seram gimanaaa gitu.

      Kali…

Leave a Reply