Maria Doesn’t Need Fixing

Paling tidak, bukan dari orang lain. Semoga lumayan banyak yang paham akan referensi ini, apalagi The Sound of Music kan tampil musikalnya di Jakarta.

With that side glare, you can fix me anytime, Captain Von Trapp.
With that side glare, you can fix me anytime, Captain Von Trapp.

Akhir pekan lalu, saya dan partner sedang ingin hiburan ringan, karena itu kami memilih menonton film The Intern. Saya sudah siap dihibur oleh hal-hal klise khas komedi Hollywood, walaupun saya baca resensi film ini cukup positif. Belum lagi interaksi antara Robert DeNiro dan Anne Hathaway yang katanya sangat meringankan suasana hati.

Ketika karakter Jules (Hathaway) muncul dan diperkenalkan, saya membatin kalau karakter ini pasti perempuan karier khas Hollywood. Terlalu sibuk, logis, tak punya waktu untuk hubungan pribadi, apalagi berkencan dan cenderung dingin, tentunya high maintenance. Saya cukup senang ketika ternyata Jules digambarkan sebagai seorang Ibu dari satu anak, dengan suami yang jadi stay at home dad (SAHD). Tentunya dipastikan di narasi kalau keputusan untuk jadi SAHD itu dibuat oleh suaminya yang kariernya pun sebelumnya bagus, tetapi dia ingin memberikan kesempatan untuk Jules merintis perusahaan startup-nya ini. Beruntungnya! Pikir saya ketika itu, iri.

(Saya kira sampai tahap ini sepertinya harus memberikan spoiler alert buat yang belum menonton The Intern.)

MICam

Kemudian saya diberikan beberapa kejutan lagi oleh Nancy Meyers, seperti kekurangan waktu Jules untuk melakukan hal-hal “khas ibu” karena pekerjaannya (saya 100 persen merasa terwakilkan). Orang lain (terutama ibu lain dari sekolah anaknya) yang merasa berhak menghakiminya karena dia terlihat lebih memilih pekerjaan dari anak (Oh Odin). Ketika Jules menggerutu soal ini, sumpah di waktu yang sama saya juga melakukannya. Terlalu sering film yang menggambarkan kalau perempuan itu adalah pendukung dari perempuan lain, walau kenyataan yang sering terjadi, kita adalah pengkritik paling tajam dari kaum kita sendiri. Terutama kalau melihat sesuatu yang berbeda dengan nilai yang dipercayainya.

Kemudian ketika kita sebagai penonton juga mendapatkan kalau suami Jules ternyata berselingkuh dengan salah satu ibu di sekolah anaknya itu (!). Dan bahwa ternyata Jules sudah tahu hal ini cukup lama (saya sudah pernah katakan ini, dan akan saya tekankan lagi, kalau pria itu sering estimasi berlebihan kemampuan mereka berbohong), dan walau dia marah ke suaminya, dia agak menyalahkan dirinya yang terlalu sibuk (khas perempuan bekerja sekali deh, saya sampai agak sedih di adegan ini). Kejutan berikutnya adalah kata-kata penyemangat yang sangat feminis dan membantah rasa bersalah Jules malah keluar dari karakter Ben (DeNiro), pria lanjut usia yang penonton pikir punya nilai dan pandang hidup yang kuno. Ben meyakinkan kalau ketidaksetiaan suaminya sama sekali bukan salah Jules. Dia hanya melakukan apa yang harus dia lakukan, dan itu bukan tanpa persetujuan suaminya dari awal. Tentunya seperti film Hollywood pada umumnya, film ini pun berakhir bahagia. Suami Jules mengakui kesalahan dan menyesal, lalu berjanji akan memperbaiki hubungan mereka, kalau Jules mau memaafkannya. Jules pun bisa terus mengelola perusahaannya dibantu oleh Ben yang bijaksana.

Keluar dari teater dengan tersenyum, saya tidak bisa berhenti berpikir. Kalau saja karakter Jules adalah seorang pria. Sukses membangun perusahaan startup miliknya, punya anak yang lucu dan istri cantik. Pasti tak ada yang berkomentar soal kebiasaan buruknya. Atau betapa dinginnya dan sulit terbuka secara pribadi. Pasti ketika penonton mengetahui istrinya selingkuh, tidak ada satu pun yang dalam hati menyalahkan, termasuk ketika dia memutuskan untuk meninggalkan istrinya yang tidak tahu rasa terimakasih itu, untuk pacaran dengan karakter Ben (kalau di film versi ini, seorang perempuan dan jauh lebih muda).

Huh.

Iklan

6 thoughts on “Maria Doesn’t Need Fixing

  1. Untungnya, character traits si Jules ini dikembangkan dengan baik oleh Nancy Myers seiring berjalannya cerita. Lumayan untuk menutupi 10 menit pertama di mana Anne Hathaway terlihat sangat akting. It’s like she tries so hard to be Jules.

    Suka

  2. maka akan ada film dgn premis: pria sukses karir yg fashionable dan cerdas plus punya keluarga yang harmonis memutuskan berselingkuh dengan pria lain karena rasa penasaran itu seperti dahaga. dan jiwa petualang pada setiap pria menginginkan keluar dari zona nyaman, meski egonya mengatakan: pilih yang aman.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s