Mengabadikan Rasa

Saya sedang jatuh cinta.

Ya, sepertinya saya memang sedang jatuh cinta.
Saat dada berdebar dalam antisipasi yang tidak pasti,
Apakah hari ini akan bertemu dengan dia,
Atau hanya berjumpa dengan angan-angan saja.

Ah, angan-angan.
Frasa yang membuai saya dalam keheningan malam,
Saat mendekap guling sambil membenamkan kepala dalam bantal sendirian,
Sembari angan berpikir melayang mengayalkan apa yang dia lakukan sekarang,
Lalu tertidur saking lelahnya imajinasi bekerja.

Tapi apa saya merasa capek karenanya?
Justru sebaliknya!

Impian itu yang membangunkan saya di pagi hari,
Dengan senyuman masih tersungging di bibir,
Membayangkan seandainya ada wajah lain di sisi ranjang yang saya lihat pertama kali di pagi hari.

Karena bukan dengan siapa kau tidur semalam yang penting.
Yang penting adalah dengan siapa kau bangun saat matahari menyingsing.

Karena bukan detil nama, alamat, tempat tanggal lahir, dan kata mutiara yang membuat kamu terbuai,
Yang penting adalah khayalan yang kamu ciptakan sendiri dari apa yang kamu lihat.

Karena bukan logika matematika atau ilmu baku yang dihadapi,
Yang penting adalah bagaimana rasa menjadikan hari-hari penuh kepenatan bisa terasa lebih ringan untuk dijalani.

d4045a0bb180444da8f14295b1e9721b_p_400

Betapa banyak orang yang ingin merasakan hal ini.

Ketika kamu mengeluh dalam peluh di depan kaca melihat badanmu yang belum terbentuk juga meskipun sudah berolahraga sekian lama,
Ingin saya menjadi orang yang memeluk dari belakang sambil mencium tengkuk dan berkata, “You are perfect.

Ketika kamu berbincang dan bercanda dengan teman-temanmu dalam tawa,
Ingin saya menjadi orang yang bisa membuatmu tersenyum setiap pagi dan malam.

Ketika kamu memakai sandal biru tua dan merah marun yang selalu kamu pakai,
Ingin saya mencatat setiap tanggal dan jam setiap saat saya melihatnya.

Keinginan yang tak terwujud kenyataan, selamanya tersimpan dalam folder “Wish List”,
Karena ada ketakutan untuk melangkah maju.
Takut ditolak.
Takut ambil resiko.
Takut kenyataan berbeda dari impian.

Akhirnya saya terjebak dalam perasaan sendiri.
Saya namakan perasaan ini “kasmaran”,
Yang entah berapa lama lagi bisa bertahan.
Tadinya saya pikir setelah tiga minggu perasaan ini hilang.
Namun sudah enam minggu belum juga ada tanda-tanda akan meredup.
Malah dia hadir terus secara rutin, serutin saya melihatmu hampir setiap hari.

Toh saya yakin bahwa tidak ada yang abadi.
Rasa ini pasti akan lenyap.
Entah itu saat kita akhirnya berkenalan.
Entah itu saat saya berlalu karena kesibukan.
Entah itu saat kamu pergi dalam ketidakpastian.
Entah kapan itu terjadi.

Saat itu pasti saya akan heran, kenapa saya bisa pernah blingsatan melihat kamu.
Padahal namamu saja saya tidak tahu.
Yang saya tahu cuma rasa yang pernah menggelora dan bergemuruh dalam dada.

Lalu saya akan melihat lagi tulisan ini.
Catatan kecil yang saya buat saat baru bangun pagi.
Catatan yang mengekalkan momen-momen kecil yang pernah terjadi.

Membacanya lagi, dari awal sampai akhir,
Saya akan terhenyak.

Saya pernah jatuh cinta.

heart-clipart-for-lovers

Iklan

21 thoughts on “Mengabadikan Rasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s