Sama-sama Indah

SEBAGAI makhluk berperasaan, setiap manusia pasti akan bersinggungan dengan berbagai sifat dan emosi dalam menjalankan kehidupan, termasuk soal urusan beragama. Apalagi untuk ini, hubungan yang terjadi antara manusia dan sesuatu di luar jangkauannya. Mysterium tremendum et fascinosum. Begitu istilahnya.

Ketika manusia menempatkan dirinya ibarat setitik debu di samudera semesta.
Ketika manusia menempatkan dirinya seperti bidak catur yang digerakkan oleh suratan takdir.
Ketika manusia menempatkan dirinya seperti pengembara dalam pencariannya.
Ketika manusia menempatkan dirinya sebagai hamba.
Ketika manusia menempatkan dirinya sebagai… manusia.

Patuh. Takut. Percaya. Skeptis. Merindu. Terbuai. Picik. Ekstase. Berbakti. Mengabdi. Bangga. Bahagia. Terharu. Fanatik. Kecewa. Penasaran. Pencarian. Bersemangat. Pasrah. Takjub. Hening. Tenang. Damai. Menyesal. Menghamba. Simpatik. Tertantang. Dan lain sebagainya. Positif, maupun negatif.

Ada perkiraan yang menyebut bahwa sekurang-kurangnya terdapat 4 ribuan lebih agama dan paham kepercayaan di dunia ini. Sebagian kecil dari angka itu masih bertahan dan terus dijalankan oleh para penganutnya. Konsep dan modelnya beragam. Mulai dari yang monoteisme, monoteisme Samawi dan mazhab-mazhabnya, non-theism (berbeda dengan ateisme), monisme, agnostik, politeisme, paganisme, mistisme, sampai yang berasa absurd dan terkesan primitif. Penganut semua -isme itu pasti merasakan sifat dan emosi yang telah ditulis di atas.

Saat kita kesampingkan angka 4 ribuan tersebut, kita bakal menemukan sesuatu yang berbeda. Sebab disadari atau tidak, bersedia menyadari atau tidak, ada satu sifat universal yang selalu muncul dalam kehidupan beragama apa saja. Yaitu keindahan.

Semua umat beragama berusaha semaksimal mungkin untuk mempersembahkan segala sesuatu yang indah sebagai wujud bakti, kecintaan, dan ketakjuban kepada junjungannya masing-masing, juga sesuai kaidah khusus. Luar biasanya, keindahan yang dihasilkan dari objek berbeda-beda itu, bisa dinikmati dan diapresiasi oleh siapa saja, lewat indra yang sama: mata dan telinga.

Cukup dengan melihat dan mendengarnya saja, siapa pun bisa merasakan kesungguhan hati yang disalurkan layaknya energi. Beberapa di antaranya seperti ini, yang sengaja tidak disusun berdasarkan urutan tertentu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jagat Hita Karana The one and only #Balinese #Hindu #temple (notably called #pura) in inner #Samarinda area, East #Kalimantan, #Indonesia. This is the main #gate to Utama #Mandala #hall or #Jero, the most #sacred part of the temple for particular #rituals only. The entrée requires manner, quietness, proper #fashion, and wearing #selendang (a piece of #cloth) tied on hip. In all around the country, Balinese #Hinduism is always identical with Balinese #people, and Balinese #style of #craft and #architecture. In comparison with #modern #Indian Hinduism, Hindu #Dharma (alias of Balinese Hindusm) differs in several notions but not fundamentally. Anyway, Jagat Hita Karana can be translated as "Universe of the Cause of Happiness".

A post shared by dragono (@dragonohalim) on

#Islamic #Centre of #Samarinda Claimed to be the #biggest 3 #mosque #complex in SE #Asia.

A post shared by dragono (@dragonohalim) on

Semuanya, indah.

[]

*) Semua foto diambil dari Google.

 

Iklan

3 thoughts on “Sama-sama Indah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s