Jasa Tanpa Tanda

Beberapa minggu yang lalu, saya membaca buku non-fiksi “The Kabul Beauty School” karya Deborah Rodriguez. Ceritanya tentang perjuangan penulis buku ini membuka sekolah kecantikan di Kabul, Afghanistan. Kenapa disebut perjuangan? Karena kejadiannya tepat setelah 9/11, yaitu di paruh pertama tahun 2000-an. Afghanistan dikuasai kaum Taliban, yang berarti keberadaan kaum perempuan nyaris dianggap tidak ada. Deborah bertutur tentang perjuangannya mengangkat kehidupan kaum perempuan di Kabul lewat sekolahnya ini.

Meskipun bukan buku yang sempurna, namun cerita demi cerita yang dituturkan Deborah cukup membuat saya betah membaca buku ini sampai selesai. Ada satu hal yang menggelitik.

Di beberapa bagian awal buku, Deborah dengan jujur mengungkapkan bahwa tidak ada perempuan yang tidak mau terlihat cantik. Di balik cadar yang mengurung perempuan Afghanistan dari ujung kepala sampai ujung kaki, mereka tetap perlu dandan. Mereka tetap ingin tampil bak seorang putri dengan sasak rambut yang disemprot belasan botol hairspray. Kenapa?
Because it makes us look good, and feel good. Everybody wants to feel good about themselves. Bahkan ketika the good look itu harus ditutup sekalipun.

Saya tersenyum sendiri di bagian ini. Tiba-tiba saya ingat cerita almarhumah Nora Ephron, sutradara film Sleepless in Seattle dan You’ve Got Mail. Di salah satu tulisannya, dia pernah bilang begini:

“So, twice a week, I go to a beauty salon and have my hair blown dry. It’s cheaper by far than psychoanalysis, and much more uplifting.”

Sementara dulu pernah ada teman yang heran dan menuliskan status ini di Facebook:

“We will never know the exact science of what creambath actually does to our head. But, man! It always feels good after having one!”

hair

Nggak, saya tidak pernah berteman dengan almarhumah Nora Ephron. How I wish. Tapi keduanya mengungkapkan hal yang sama. Semua orang punya keperluan hakiki untuk merasa enak, nyaman dan tentram terhadap dirinya sendiri.
Dan sumber pemenuhan kebutuhan ini sering kali datangnya dari mereka yang terlihat “remeh”. Tukang potong rambut, tukang pijat, tukang masak, dan penyedia jasa lainnya.
Padahal, coba kita pikir.
Kalau kita pulang setelah business trips sekian lama, kadang yang kita cari pertama kali adalah tukang pijat langganan, bukan pasangan domestik. Kecuali memang pacaran atau menikah dengan tukang pijat yang masih mau memberikan jasa pijat cuma-cuma kepada pasangan.
Kalau kita pulang setelah traveling sekian lama, kadang yang kita cari pertama kali adalah masakan rumah, dan bukan sekretaris kantor.

free-massages-therapist-clips-art-511814

Mendiang boss saya pernah menulis, bahwa setidaknya ada dua orang yang paling susah dicari kecocokannya dengan kita, yaitu hairdresser (penata rambut), dan tailor (tukang jahit). Waktu membaca tulisannya, saya teringat sama ibu saya. Sampai beberapa tahun lalu, ibu masih tetap menjahitkan baju Lebarannya ke tukang jahit langganan. Padahal si tukang jahit ini hampir selalu telat dalam memberikan hasil jahitan. Komentar ibu selalu sama, “Sudah cocok, mau gimana lagi? Dia tahu lho ukuran badanku dari jaman SMA sampai sekarang!”

tailor-clipart-tailor_p

Kalau sudah bicara kecocokan, logika apapun pasti akan runtuh dalam menganalisanya. Dan kecocokan ini tidak bisa terbangun begitu saja. Perlu chemistry dan waktu yang lama dalam membangunnya.

Makanya, profesi penyedia jasa ini tidak lagi bisa kita anggap remeh. Malah profesi-profesi ini yang terbilang tangguh dalam ketidakpastian masa depan.
Mungkin sudah saatnya sekolah bisnis dan ekonomi juga membekali mahasiswanya dengan soft skill sampai dirasa mumpuni. Bukankah jauh lebih seksi melihat ekonom yang jago menjahit daripada sekedar berkutat dengan angka? Dan kalau profesi utama yang menjadi tumpuan roda ekonomi kehidupan tiba-tiba lenyap, maka kita masih punya kemampuan lain sebagai cadangan. Idealnya begitu.

Idealnya lagi kalau saat ini Anda bisa merekomendasikan tukang jahit pria ke saya. Belum ada yang cocok soalnya. Ada ide?

Iklan

4 thoughts on “Jasa Tanpa Tanda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s