Kalimat Itu!

Hey, lunch bareng yuk besok?
Bro, I’m flattered, but I am married.

Dude!

Aku paham! kamu punya citra yang harus dijaga. Pria menikah dengan karir yang gilang-gemilang. Kamu ingin seisi bumi ini tau kalau kamu seorang heteroseksual tulen yang dicintai agama, negara dan sanak keluarga. Ndak boleh ada celah sedikitpun untuk orang lain meragukan preferensi seksualmu.

Tapi, tolong–TOLONG!–demi apapun di langit dan bumi ini, waktu aku ajak makan siang, jangan mulai dengan “kalimat itu!”

Iya, kalimat “Bro, I’m flattered, but…” itu lho.

Gini, aku udah kenyang denger “kalimat itu.” Dalam. Segala. Versi. dan. Situasi. Entah sedang santai atau rusuh karena begitu sibuknya harus menghajar ratusan penjahat di sebuah flat dan ndak sempet makan siang bareng. Seperti kalau aku ajak Iko Uwais persis waktu dia seruangan dengan Mad Dog. Dalam hal ini, Iko Uwais punya justifikasi yang sah untuk membalas dengan “kalimat itu!” Dan aku bisa terima dengan lapang dada.

Aku juga paham. Kamu cuma mau mengklarifikasi keadaan. Bikin semuanya jelas di depan dan ndak menimbulkan salah sangka. Pastinya, aku akan menghormati inisiatif mulia itu jika diperlukan. Tapi, apakah emang perlu?

Sekarang, gimana kalau situasinya beda. Misalkan, kamu pria menikah, dan aku seorang perempuan, dan aku ajak makan siang. Apakah kamu akan menjawab ajakan tadi dengan mengingatkan lagi soal status pernikahan kamu? Kalau iya, baiklah, silakan mulai dengan “kalimat itu.” Kalau ndak, kenapa jadi perlu?

Apakah setiap aku ajak makan siang atau ngopi atau nonton The Raid, berarti aku berharap pelukan atau kecupan atau BDSM?

Bro, I’m flattered, but…

Flattered? Um… Why? It’s just a fucking lunch!

Kenapa harus beranggapan bahwa aku akan meniduri kamu di Warung Mang Didi? Sempit, Bro!

Lagipula, apa ada cara lain untuk mengajak kamu makan siang? Atau, adakah kombinasi kalimat yang tepat dari “lunch” dan “yuk” yang ndak setara dengan “ngentot?” Oh, mungkin aku yang salah nyusun kalimat. Apa sebaiknya aku mulai dengan, “Listen, Bro, I’m totally gay, and have no romantic interest in you, and promise not to let you experiment with me even should the situation arise, but… ?

Atau, sebaliknya. Kamu yang ajak aku makan siang, lalu aku jawab, “Bro, I’m flattered, but I just need to remind you how fabulously gay I am. So gay, in fact, that I would love nothing more than to publicly trick you into making love to me atop a Sambel Lalab. That being said, I could use a cucumber right now. Let’s go!

Mungkin kamu pikir aku ndak tau dan ndak peduli kamu sudah menikah. Kecuali kamu Iko Uwais, AKU TAU!

Ok, aku ndak peduli. Tapi AKU TAU!

Look at me as a person, not as a gay. Kalau homoseksual bukan masalah, mari kita makan siang. Kalau homoseksual adalah masalah buat kamu, jangan mulai dengan kalimat “Bro, I’m flattered, but…“, tapi langsung aja “Bro, maaf saya pengecut!

Hormati diri sendiri, dan kami semua. Bubuhi sedikit harga diri. Sedikit tata-krama. Menjadi gay ndak selalu mudah. Kami sering disalahpahami. Kenali kami lebih dulu sebelum kamu berasumsi. Sayangnya kami ndak berpikir tentang kelamin kamu sesering yang kamu sangka. Atau, dalam hal ini, sesering kamu memikirkan kelamin kamu sendiri.

Ah, bisa aja kamu justru yang ndak paham. Ndak tau gimana harus bereaksi kalau seorang homoseksual ngajak makan siang. Baiklah. Agar hubungan kita berjalan lancar, satu hal yang harus diingat kalau ada seorang homoseksual ngajak makan siang: Act like a human being.

Dan untuk “kalimat itu,” jawabanku selalu:

image

Iklan

2 thoughts on “Kalimat Itu!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s