A Hug a Day Keeps the Doctor Away

Ndak mungkin kalau saya bilang bahwa ngewek sebaiknya jadi corporate culture perusahaan di Indonesia. Paling pol ya saya akan berujar bahwa pelukan adalah sesuatu yang baik, dan seharusnya menjadi budaya kerja perusahaan. “Kenapa ndak dijadikan kultur keluarga saja?” Otentuiya! Ciri khas Teletubbies berkomunikasi adalah cara terbaik keluarga dalam berinteraksi. Itu mah wajib atuh.

Beberapa minggu yang lalu saya menyempatkan diri makan siang bersama OB kantor. Benar-benar makan siang bersama. Mengajak sejak jam 11.45 wib hingga kembali ke kantor satu jam berikutnya. Bukan sekadar kebetulan bertemu di warung makan yang sama. Namun pertemuan di meja makan yang direncanakan. Sebetulnya bukan hanya OB karena OB perempuan turut serta. Makan siangnya pun biasa saja: soto padang dan semesta printilannya.

Dalam perjamuan makan siang tersebut, saya berusaha mengenal setiap rekan makan saya. Salah satunya, OB perempuan yang paling muda. Sebut saja namanya Siti. Dia kelahiran tahun 1994.  Sudah punya anak satu. Usianya setahun. Menjadi OB perempuan karena terpaksa. Lulus SMA dia lanjutkan kuliah. Bukannya tugas kampus yang menjadi fokusnya, Siti lebih menyukai berpacaran. Saking getolnya pacaran, akhirnya berbuah manis. Dia terlambat datang bulan untuk kesekian bulan.

Si Pria, bukan teman kuliahnya. Namun rekan sejawat sesama alumni SMA. Seumuran dan saat itu si Pria telah bekerja di konter hape. Hidup masih ikut orang tua.  Maka, ketika kabar manis itu datang bahwa dirinya super-duper keren bisa menghasilkan buah hati, si Pria merinding disko. Singkat cerita si Pria Kabur. Menghilang entah kemana. Bisa jadi numpang sana-sini ke rumah kenalan dan sanak Saudara.

Orang tua Siti murka mengetahui anaknya berbadan dua. Maka, mereka segera mendatangi rumah si Pria. Memaksa orang tua si Pria untuk menjadi besan mereka. Karena si Pria nyata-nyata bukan percetakan. Hanya perusahaan percetakan saja yang bisa dengan leluasa bilang pada khalayak: “Isi di luar tanggung jawab kami”.

Lantas dengan segera dan syukuran secukupnya, mereka dinikahkan. Si Pria dipaksa pulang saat dirinya entah ada dimana, yang penting pulang dan bertanggung jawab.

Selanjutnya mereka hidup bersama di rumah orang tua Siti. Si Pria kembali bekerja di konter hape. Namun berbeda toko semula. Semua kebutuhan keluarga sejatinya masih disokong orang tua Siti. Gaji bulanan si Pria, habis untuk ongkos dan rokok. Siti cuti kuliah, untuk sementara.

Beberapa bulan kemudian, ketika bayi itu lahir, si Pria riang gembira. Apalagi Siti. Bagaimanapun juga dia bahagia menjadi seorang Ibu. Namun, kebahagiaan itu hanya sementara waktu. Si Pria merasa tugasnya telah paripurna. Maka, tanpa pamit, dirinya kembali pergi. Entah apakah untuk kembali atau tidak.

Orang tua saya butuh dia untuk akta kelahiran anak saya, Pak“, Siti menjawab atas pertanyaan saya kenapa jika memang tak ikhlas menikahi kamu, harus dipaksa.

Dia sebetulnya pernah cerita pacarnya ada lima“, Siti menjawab atas pertanyaan saya kenapa jika sama-sama cinta kok ndak bersama. Atas jawaban itu, saya berpikir dan mulai tergoda untuk alih profesi menjadi penjaga konter hape. JIka ada mbak lucu dan minta diserpis (hapenya), saya bisa lihat nomer hapenya dan lanjut “usaha”.

Dari kecil saya ndak pernah dipeluk. Nyaman rasanya ada teman lelaki yang minta sesuatu dari saya. Apalagi saat memeluk“, Siti menjawab pertanyaan saya mengapa bukannya kuliah malah lebih banyak pacaran.

Jawaban yang di luar dugaan. Peluk. Pelukan. Dipeluk. Memeluk. Berpelukan. Dekap erat yang merangsang hormon dan menenangkan pikiran. Apalagi perasaan. Pelukan secara alamiah dan ilmiah terbukti menularkan getar rasa. Nyaman. Mencegah kesepian. Tekanan darah lancar. Hilangkan rasa takut dan mencegah stres.

Atas jawaban Siti terakhir, saya jadi langsung mengingat kejadian tadi pagi. Apakah saya sudah memeluk kedua putri saya?

Saya sungguh cemas. Alasannya jelas: ndak mau banget jika saya punya menantu penjaga konter hape.

Iklan

7 thoughts on “A Hug a Day Keeps the Doctor Away

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s