Kawan Lama

Mengantuk, di sebuah airport negara antah berantah. Lounge terisi penuh dan semua sumber listrik terisi. Pikiran biarkan saja melayang sedikit diberi dukungan oleh secangkir kopi susu yang barusan disesap karena tidak tahu lagi harus melakukan apa. Teringat cerita adik tentang seorang teman lama kami.

“Dia terlihat lelah,” kata adik,”mungkin kamu harus coba menyambung komunikasi dengan dia lagi.”

Terdiam mencoba mengingat apa yang menyebabkan kami putus komunikasi. Tidak sepenuhnya putus karena masih ada teman yang sama biasa mengabari kami keadaan masing-masing. Tetapi sudah bertahun-tahun tidak berjumpa. Kemudian teringat salah satu proyek teman ini yang luar biasa ambisius, dan membuat kami teman-temannya khawatir ketika mendengar dia akan menjalankannya. Dan yang ditakutkan pun terjadi, proyeknya gagal dan banyak pihak merasa dirugikan. Sampai kini pun teman saya itu masih membayar kerugian tersebut. Baik dengan material maupun sedikit demi sedikit kembali membangun namanya di lapangan pekerjaan yang selama ini ditekuninya.

Sejak dulu teman ini memang cukup keras kepala. Jika sudah ada yang diingininya sulit rasanya berbicara dengannya walau terkadang siapapun merasa keinginannya tak masuk akal. Tidak jarang rekan yang berusaha bicara akhirnya justru menimbulkan konflik. Tetapi biasanya tak lama pertemanan kembali hangat. Tapi entah mengapa beberapa tahun belakangan ini tidak demikian. Padahal yang sering terjadi adalah rasa maklum dan keinginan kompromi juga rasa mudah memaafkan yang tak terbatas dirasakan untuk seorang sahabat. Seperti juga seorang kekasih, sahabat – bagaimana sering dia membuat kesal atau gemas – selalu berada di tempat istimewa di hati. Mungkin karena itu saya teringat lagi kepada teman saya ini. Mungkin saya tidak bisa menghakiminya dari mimpi yang dia punya. Terkadang kita tidak bisa memilih mimpi kita. Hanya bisa memilih mengejarnya dengan terbuka atau sambil diam diam saja. Teman saya tentunya bukan termasuk yang ingin semua di sekelilingnya paham soal mimpinya. Tidak salah juga.

Antara alam sadar dan alam mimpi, terbayang hari-hari yang kami isi dengan percakapan yang panjang dan tawa berderai. Juga nyanyian yang sering menghiasi malam kami. Baik di karaoke maupun di mana pun kami duduk. Ternyata kerinduan ada.

Maka diputuskan dua hal: saya akan menghubungi teman saya dan mengajak berjumpa dalam waktu dekat. Dan saya akan ambil kopi susu lagi. Kali ini yang kekuatannya ganda.

Iklan

2 thoughts on “Kawan Lama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s