Kesempatan Bukan Dalam Kesempitan

Apa pelajaran berharga yang pernah diberikan Ayah kepada Anda?

Kalau pertanyaan itu ditujukan ke saya, jawabannya tentu saja banyak dan beragam. Tapi salah satu pesan Ayah saya yang masih terngiang di kepala adalah, “bukan pekerjaan yang kamu cari. Tapi menciptakan pekerjaan buat orang lain yang kamu cari.”

Sebagai orang dewasa, seperti saya dan Anda yang sedang membaca ini, kalimat di atas mudah dipahami. Kalau dilakukan, itu urusan lain. Tapi pernahkah terbayang kalimat itu dicerna oleh anak yang belum lulus SD?

Dulu, waktu saya kecil, orang tua saya sering bepergian keluar kota. Acap kali Ayah harus dipanggil dinas mendadak di luar provinsi. Ibu adalah pedagang yang kerap mengambil barang kulakan di kota lain, yang jarak tempuhnya bisa berjam-jam. Kalau sudah begitu, mau tidak mau saya harus berdiam di rumah bersama pembantu, atau dititipkan ke anak-anak kost di rumah kami.
Meskipun begitu, orang tua saya tidak pernah lupa satu hal.
Mereka akan menitipkan uang ke saya dan kakak saya. Bukan sekedar titipan uang. Ada secarik kertas berisi alokasi penggunaan uang tersebut. Misalnya, sekian rupiah untuk diberikan ke pembantu buat belanja di pasar. Sejumlah rupiah yang diberikan ke tukang kayu saat dia datang. Lalu ada beberapa rupiah lain untuk bayar listrik. Maklum, waktu itu belum ada smartphone atau pager. Kontrol mereka hanya bisa dilakukan lewat telepon rumah. Itu pun tidak bisa dilakukan setiap saat.

Kami tidak berpikir panjang. Kami hanya melakukan apa yang diminta sesuai dengan apa yang telah dituliskan. Sesekali mereka mengingatkan, “jangan lupa, tanya ke mbok, belanjanya habis berapa. Uang kembaliannya kamu pegang.”

Dasar anak kecil, kadang saya lupa bertanya. Tapi dia yang tidak pernah lupa memberikan uang kembalian. Uang kembalian itu saya taruh dengan uang yang sudah dialokasikan sebelumnya. Kalau pun terpaksa diambil untuk keperluan lain, misalnya, membayar tagihan langganan koran yang kurang jumlahnya, nanti harus dilaporkan.

Kebiasaan ini terhenti saat saya menginjak remaja dan harus tinggal terpisah dari orang tua. Sejak saat itu pun, saya selalu tinggal sendiri. Namun di saat kami bertemu, kadang-kadang saya merasa heran, kenapa orang tua saya “nekat” memberikan tanggung jawab sedemikian besar ke anak kecil.

Jawaban Ayah saya selalu sama.

“Itu maksudnya Papa ngajarin kamu supaya manage uang dengan baik. Mencatat pengeluaran dengan baik.”

“Kalo itu sih, ngerti. Yang nggak ngerti, apa hubungannya sama bikin kerjaan buat orang lain?”

“Kalo Papa dan Mama lagi pergi, yang masakin kamu siapa? Terus dia beli bahan masakannya di mana? Itu baru makananmu. Lalu apa kamu bisa benerin lampu teras rumah yang mati dulu? Dan kamu nggak perlu jalan beli koran. Dia nganter setiap hari. Kadang-kadang kamu malah titip sekalian beliin majalah Bobo dari dia. Itu kan artinya kamu nggak bisa melakukan semuanya sendiri. Ini baru yang praktis ya. Kita itu nggak bisa hidup sendiri. Di setiap pendapatan kita, ada pendapatan buat orang lain. Tinggal kita pilih, mana yang baik, mana yang kita perlukan.”

Saya masih diam. Dalam beberapa kesempatan, selalu saya tanyakan lagi. Sampai suatu ketika, Ayah menambahkan.

“Itu kan basic. Gimana kamu bisa nyiptain pekerjaan buat orang lain, kalau kamu nggak bisa manage duit?”

Lalu saat saya menuliskan kembali cerita ini, saya baru ngeh.

Everything begins at home, indeed.
Even creating jobs for others.

Father-Son (Courtesy of twosomeforever.blogspot.com)
Father-Son (Courtesy of twosomeforever.blogspot.com)
Iklan

2 thoughts on “Kesempatan Bukan Dalam Kesempitan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s