Malu karena Salah, Saja

KAPAN terakhir kali Anda merasa malu? Malu terhadap tindakan yang diperbuat; keputusan yang diambil; pendapat maupun isi hati yang diutarakan; dan sebagainya.

Atau, apakah masih layak mempertahankan sikap seperti ini di tengah-tengah laju kehidupan yang kian bebas dan permisif? Dengan prinsip apa pun bisa dilakukan (bebas dari perasaan malu berlebihan), selama tidak merugikan orang lain atau melanggar hukum. Lagipula kian banyak yang berpendapat bahwa makin tebal muka, makin tenang hidup seseorang, lantaran tidak harus diombang-ambingkan drama perasaan sendiri. Setelah menghadapi sesuatu, bisa langsung melengos melanjutkan yang harus dikerjakan.

Entah apa teorinya, tapi banyak yang mengaitkan rasa malu pada diri seseorang dengan kebijaksanaannya mempertimbangkan segala sesuatu, dipengaruhi lingkungan dan budaya sekitarnya, tabiat atau pembawaan, serta moralitas dan sederet norma-norma sosial.

Soal kebijaksanaan seseorang dalam bersikap, kerap identik dengan usia. Para bocah SD, misalnya. Tidak akan ragu untuk secara harfiah mandi bareng bersama teman-temannya di sungai, dalam kondisi (hampir) telanjang bulat dan seringkali campur. Malu kah mereka? Sepertinya mereka belum menganggap ketelanjangan sebagai sesuatu yang pantas bikin malu. Barangkali hanya ada dua hal yang mendominasi pikiran: mau berenang biar senang, baju jangan basah biar tidak kena marah.

Yang penting nyebur!
Tidak punya kostum tim loncat indah, yang penting nyebur!

(Malu=tidak valid)

Beda halnya dengan bocah-bocah SD yang tinggal di kawasan perkotaan, yang mungkin sudah diinisiasi soal ketelanjangan sejak kecil. Jadi, boro-boro berenang bareng copot baju, bahkan sehabis mandi pun bisa langsung merasa risi dan malu apabila tidak ada handuk untuk melilit tubuh. Kemudian para orang tuanya pun langsung berceletuk: “kan kamu masih anak-anak?”, atau ”don’t grow too fast.” Tanpa sadar bisa jadi mereka sendiri yang menanamkan pemahaman seperti itu kepada buah hati.

(Malu=valid)

Sebaliknya, dulu, adalah hal yang tidak lazim dan aneh apabila cewek yang mengutarakan perasaan atau nembak cowok. Dengan perasaan malu-malu manja berbunga-bunga, para cewek berusaha menyembunyikan perasaan sukanya kepada seseorang, tapi tetap ingin menarik perhatian dan get noticed secara bersamaan. Malang ceritanya, apabila si cowok tidak peka dan justru berpasangan dengan orang lain. Menyisakan si cewek yang menyesal dan hanya bisa meratap dalam kesedihan. Alasannya, cewek adalah orang yang dikejar dan diperebutkan. Itu sebabnya, mahar atau maskawin pun kebanyakan dibayarkan pihak cowok ke “lawannya”.

(Malu=valid)

Kini keadaan sudah berubah, seperti Paskibra yang melakukan manuver balik kanan; berbalik 180 derajat.

Dalam soal asmara dan taksir menaksir, rasa malu-malu kucing malah dibuang jauh-jauh. Karena ibarat pesta diskon tengah malam sampai 90 persen, siapa cepat dia dapat. Bahkan tidak hanya itu, makin banyak cewek yang beranggapan bahwa terserah saja, apakah isi hatinya berbuah cinta atau hanya sampai terucap di bibir, yang penting mereka sudah berani untuk melampiaskan perasaan yang berkecamuk di dalam dada. Lebih plong dan lega. Yang penting si dia tahu.

(Malu=tidak valid)

Nah, kalau sudah berpacaran, perasaan malu dipengaruhi semua faktor di atas plus moralitas. Bagi Anda yang berpengalaman, pasti masih ingat bedanya berpacaran dengan orang yang anteng dan adem ayem, dan dengan orang yang agresif. Kadar malunya berbeda.

Ada yang baru bisa berciuman, di kencan pada bulan ketiga. Namun ada juga yang sudah saking biasanya, sampai-sampai di akhir kencan perdana pun sudah diwarnai pagutan ala Perancis. Ada yang menyambutnya dengan gembira ria, dan ada pula yang malah risi dan malu, bahkan mempertanyakan sikap pasangannya. Dan sikap agresif ini tidak melulu dimiliki sang cowok, sebab sudah makin banyak cewek yang terbiasa. Menjadi sebuah kesepahaman yang “ah ngapain sih pake diomong-omongin?” Termasuk lewat tulisan ini. :p

(Malu=tidak valid)

Masih perlukah rasa malu dipertahankan dalam konteks ini? Ya barangkali masih, kalau selepas serangkaian bermadu kasih yang terjadi selama ini, ternyata hubungan mesti kandas di tengah jalan. Tak peduli kemampuan ciuman yang dahsyat, pelukan yang hangat dan menenangkan, kehadiran yang membuat nyaman, namun pada akhirnya pernikahan berlangsung dengan orang lain yang barangkali memang bukan pacar-materials, tapi spouse-materials. Pasti ada sedikit rasa malu, minimal malu kepada diri sendiri.

(Malu=valid)

Dengan contoh yang agak selebor. Di dalam tempat clubbing, dalam kondisi yang masih agak sober, di meja depan ada seseorang yang berulang kali melemparkan pandangan mengundang. Kemudian, dengan keberanian dan membuang rasa malu, akhirnya berlanjut dengan sekecup dua kecup. Entahlah jika nanti bisa berlanjut ke sesi berikutnya, untuk kemudian bangun dan tidak baper. Kalau begini, masih perlu malu? Toh, dua-duanya juga sudah siap mengantisipasi sensasi yang bakal terjadi.

(Malu=tidak valid)

Mengenai persepsi hidup yang tengah ngetren saat ini: Spornosexual. Perlukah para pria dan wanita pemilik tubuh atletis dan proporsional malu untuk tampil dengan pakaian berpotongan khusus, yang mengekspose otot maupun lekukan dambaan banyak orang? Pamer perut kotak-kotak, dengan gaun yang backless, atau malah selfie topless dengan penuh kebanggaan seperti yang sering dilakukan istri John Legend, Chrissy Teigen di Instagram-nya. Siapa tahu menginspirasi orang lain untuk mulai hidup sehat dan rajin berolahraga.

Chrissy Teigen dan John Legend. Cuplikan video klip “All of Me”.

Lagak-lagaknya, banyak dari mereka sudah tidak malu lagi untuk menampilkan tubuh minim balutan. Yang dilihat pun bagus juga. Berbeda kasusnya dengan Justin Bieber yang pamer pantat entah apa motifnya.

(Malu=tidak valid)

Begitu juga yang ditandai lewat sejumlah proyek fotografi belakangan ini. Ketika para pemilik tubuh yang kurang sempurna, tidak malu untuk menampilkan kondisi fisik apa adanya. Seperti menampilkan para veteran Amerika Serikat yang masih berusia muda dan bertubuh bagus, namun harus mengenakan kaki palsu karena insiden bom di medan perang Timur Tengah. Proyek ini bertujuan untuk membangkitkan nasionalisme.

Sang veteran. Foto: dailymail.co.uk

Ada pula proyek yang menampilkan foto-foto para wanita penyintas kanker payudara. Mereka tampil tanpa penutup dada, namun dengan ekspresi senyum yang menenangkan. Seolah berkata: “You’ll be okay.” Pesan menguatkan hati bagi para pengidap atau penyintas kanker serupa yang tidak mustahil tengah meratapi kekurangan dirinya.

Serupa, ada proyek fotografi yang menampilkan wanita beragam ras dan figur fisik, yang bersedia difoto sesuai kenyamanan masing-masing. Tujuannya untuk menunjukkan bahwa semua wanita itu cantik, dan karenanya tidak ada satu pun yang pantas diintimdasi, diolok, dikucilkan, atau dihina karena fisiknya. Dari yang malu-malu, akhirnya menjadi terkemuka. Konsep rasa malu pun dijungkirbalikkan, bahkan menumbuhkan semangat positif bagi orang lain.

(Malu=tidak valid)

Bergeser ke lingkup kantor. Dalam rapat evaluasi bulanan ternyata divisi yang Anda pimpin memiliki kinerja yang relatif buruk. Menjadi bahan persidangan di meja pertemuan. Pilihan yang bisa Anda ambil adalah merasa malu dan berusaha melampiaskannya dengan berdiam diri tanpa argumentasi, melemparkan kesalahan pada hal-hal teknis lain, atau Anda tidak peduli dengan sikap malu dan justru malah menerima kenyataan ini dengan wajah tegap. Bahkan kerap dilanjutkan dengan komitmen untuk berusaha menjadi lebih baik lagi di periode berikutnya.

Apabila begini, perlukah bersikap malu? Kalau saya secara pribadi sih, mending diakui ketimbang ditutup-tutupi. Namanya juga tanggung jawab.

(Malu=tidak valid)

Masih dalam lingkup kantor. Lain halnya dengan tindakan teman sekantor yang ternyata tidak malu-malu untuk mencari muka, menjilat pantat, dan menjegal kolega demi membangun reputasi dan citra diri. Sedikit banyaknya, Anda pasti pernah bertemu dengan orang yang punya perangai seperti ini. Entah apa pun alasannya bersikap demikian, apakah karena pertimbangan untuk dapat naik jabatan maupun mengamankan kedudukan, atau memang orangnya nyebelin, atau karena alasan ekonomi demi menanggung biaya hidup anak dan istri yang sedang sakit.

(Malu=tidak valid)

Ya, apa pun contoh kasusnya, mungkin sudah merupakan ketentuan zaman apabila rasa malu mulai dikesampingkan. Kalaupun masih dipertahankan, perasaan tersebut tetap ada bukan untuk dijadikan selimut tempat kita meringkuk dan bersembunyi dari momok-momok yang keluar dari kolong ranjang. Melainkan untuk dihadapi dan dijalani konsekuensinya. Ketimbang malu dan diam sampai berpuluh-puluh tahun, mending diutarakan meskipun belum jelas apa hasilnya.

Lagian, sekarang sudah masanya setiap orang dipersilakan memberdayakan akal budi dan pikirannya masing-masing secara maksimal. Namun tentu saja, benar atau salah sebuah pilihan yang diambil, risiko ditanggung penumpang. Selalu ada terms and conditions applied. Berani memutuskan bertindak, (seharusnya) berani pula bertanggung jawab menghadapi dampak yang dihasilkan. Jadilah manusia yang seutuhnya.

Jadi, masih perlukah bersikap malu? Kalau saya sih, iya, perlu. Malu kalau berbuat salah, yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Tambah malu lagi, kalau ternyata ga nyadar sudah melakukan perbuatan salah itu. Ibarat punya otak tapi ditinggal di rumah doang.

[]

Iklan

6 thoughts on “Malu karena Salah, Saja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s