Laris Manis!

Sudah setengah jam Budi memperhatikan anak yang sedang jongkok menghadap wc umum samping Sekolahan. Sesekali matanya kembali ke sudut tergelap di seberang gerobak baksonya itu. Lain hari ada dua orang pacaran. Preman. Tukang tahu gejrot. Kali ini seorang anak berjongkok memunggunginya.

Malam ini ramai sekali. Budi kembali konsentrasi menyajikan bakso iga andalannya. Ah, paling tinggal 10 mangkok saja sisanya. Biasanya, ndak sampai sejam lagi Budi harus berkemas dan pulang. Malam ini, hanya butuh 12 menit sampai seluruh dagangannya habis. Laris manis! Padahal baru jam 10.30 malam. Ia makin semangat!

Untung Budi ndak mendengarkan orang-orang yang kasih saran supaya jualan di samping kelurahan. Di bawah lampu jalan. Kelurahan letaknya 50 meter dari Sekolahan, persis di pengkolan. Ndak strategis. Motor aja susah parkir. Apalagi mobil. Sementara pelanggannya banyak sekali yang pakai kendaraan. Yang datang pakai mobil bahkan sering pesan puluhan bungkus sekali jajan.

Sejak pindah ke depan Sekolahan, Budi membutuhkan waktu paling lama 6 jam  sampai bakso iganya ludes. Lebih singkat dua jam ketimbang tempat lama di dekat rumahnya. Kalo kata agen properti, ini soal lokasi, lokasi, lokasi!

Budi memasukkan uang hasil usahanya dalam bekas tempat kacamata yang ia temukan di pinggir jalan. Sampai rumah baru dihitung. Budi ndak hitung sendiri. Istrinya nanti yang akan hitung semua. Mencatat dan membagi hasilnya dalam beberapa sektor. Termasuk tabungan. Uang sekolah anak, makan sehari-hari dan modal untuk tiga hari kedepan tercukupi. Sudah seminggu seperti ini. Istri merangkap CFO bakso iga Budi puas sekali.

Sambil menaikkan bangku kayu ke atas gerobak, ndak sengaja ia melihat lagi ke seberang. Anak tadi masih di sana! Berjongkok dalam gelap. Bergeser sedikit. Lalu diam. Meraba-raba tanah di depannya. Lalu diam. Budi juga punya anak yang ndak beda jauh usianya. Tapi sudah tidur. Besok harus sekolah pagi. Anak siapa ini? Terlalu!

Ia tinggalkan gerobaknya. Ia bawa tempat kacamata berisi uang saja dengan satu teh botol dan sedotan karena kasian. Jalanan sudah ndak seramai jam pulang kantor tadi. Ia seberangi perlahan. Mungkin anak ini belum juga dijemput orangtuanya. Atau lupa jalan pulang. Hatinya bilang, ia harus menolong. Budi dekati si anak, dan ikut berjongkok.

dek. Rumahnya di mana?
….
dari tadi diem aja. Belum dijemput ya? Mamang anter yah?
minum dulu atuh yuk, ini Mamang bawain teh botol.
….

Anak itu masih mengenakan seragam sekolah. Berjongkok menundukkan kepala. Ndak menjawab sedikitpun ajakan Budi.

yaudah, Mamang temenin ya duduk di sini.

Budi segera bersila. Bau urin dan amis keluar dari balik wc umum tiap kali angin agak kencang berbelok dari jalan raya. Suasana jadi sepi sekali. Budi mengamati orang-orang yang berjalan melewatinnya. Mereka enggan menoleh, buang muka. Bahkan mempercepat jalannya. Seperti ndak punya hati. Anak itu masih diam saja. Hingga akhirnya ia menjulurkan tangan ke depan. Memutar kepalanya, dan bertanya:

Mang, mata saya dimana?

image
WC Umum di seberang gerobak Budi. 2013: mayat seorang anak sekolah ditemukan tanpa mata dengan perut terbuka. Diduga korban perdagangan organ.

Posted in: @linimasa

4 thoughts on “Laris Manis! Leave a comment

Leave a Reply