Bagaimana Mengetahui Lelaki?

 

“Itu hanyalah sebuah celah sepele, di antara dua paha.. sungguh ia ilusi, segala rahasia seks yang kau bayangkan itu cuma ruang kosong .. tak ada apa-apa di dalamnya, sama sekali tak ada apa-apa .. “

Henry Miller

Terlalu banyak kisah cinta ditulis oleh penulis perempuan. Nadanya romantis. Menye-menye. Atau terkadang biar terlihat feminis, justru dibuat filosofis. Dalem. Hingga bingung. Pembaca kagum. Karena bingung. Otaknya ndak nyampe?

Bagaimana dengan penulis lelaki namun mendayu-dayu. Orientasi seksuil yang menyukai sesama lelaki, baik terselubung atau nyata-nyata. Banyak juga.

Karena memang perempuan dan lelaki lebih memiliki minat untuk berbagi.

Bagaimana mengetahui perasaan lelaki straight yang jarang sekali bahkan benci menulis. Para perempuan banyak menerka kepribadian lelaki semacam ini lewat filem. Juga novel. Atau cerita teman.

Lelaki biasa dianggap ndak jauh dari selangkangan pikirannya. Lelaki biasa itu bau setan. Keringetnya lebih mirip kondektur bis daripada pilot. Apalagi jika masih ABG. Bagimana dengan gerak-geriknya. Bagaimana cara mereka berpikir tentang banyak hal. Apa pendapat mereka. Apakah lelaki semacam ini lebih menyukai buah dada daripada menghapal reaksi redoks. Apakah lebih menyukai Pamela Anderson, Raline Shah atau Chelsea Islan.

Padahal bisa saja dengan mudah bisa dilihat dari tulisan-tulisan di linimasa.

Tengok saja tulisan Fa dan Lei. Itu adalah contoh mudah bagaimana perempuan menulis.

Bagaimana dengan lelaki yang menyukai curhat? Tengok saja kumpulan tulisan Glenn. Atau Gandrasta. Juga Nauval.

Mau yang lakik banget, maka baca baik-baik tulisan Dragono Halim. Lelaki baik-baik. Dalem. Atau lelaki kekinian? Tengok tulisan Agun. Mereka menulis dengan sudut pandang Manusia > Laki-laki > Minat.

Sebetulnya tidak jauh beda gaya menulis setiap orang dan hubungan antara jenis kelamin, orientasi seksual dan gaya penulisannya. Masih belum jelas apakah ada penelitian yang cukup serius untuk membedakan penulis LGBT dan penulis dengan orientasi seksuil penyuka lawan jenis.

Apakah pola pikir manusia begitu ditentukan oleh seks? Saya ndak tau. Menjeneralisir suatu kaum karena persentuhan kita pada satu individu yang dapat dianggap mewakili kaum tertentu adalah tindakan prematur yang gegabah.

Seorang RoySayur tidak mewakili kaum lelaki berkeluarga. Dragono Halim tidak mewakili perjaka cina yang begitu Buddhis dan Indonesianis. Agun bukan mewakili dan dapat menggambarkan pikiran pria lajang hampir lapuk dan menyukai informasi terkini dunia hiburan, baik musik, filem, maupun novel terkini.

Tiap individu lahir dari sejarahnya sendiri-sendiri. Selalu ada variabel berbeda yang dilewati setiap individu. Apakah orang tua mereka bercerai. Apakah perceraian saat mereka masih anak-anak, ABG atau setelah dewasa. Apakah Ibu mereka ibu rumah tangga. Apakah mereka anak tunggal. Apakah mereka selalu menghemat. Apakah hidup mereka dipenuhi nuansa halleluya atau bau kemenyan. Apakah sarapan di rumah menjadi kebiasaan. Apakah suara piring pecah, bentakan dan KDRT dialami di masa usia dini. Apakah mereka pernah disodomi. Apakah saat hari raya pernah merasakan mudik. Dan banyak variabel lain yang sejatinya sedikit-demi sedikit membentuk pola pikir sesaat. Cara menghibur diri. Bertahan dengan keadaan. Menyukai akan sesuatu. Mencintai sesuatu. Lalu menjadi kebiasaan. Watak. Nasib dan akhirnya Takdir.

Bagaimana jodoh menyelinap di antara pola pikir dan garis hidup? Saya ndak tahu, tapi yang jelas, jodoh itu adalah terminologi pembenaran sekaligus hal gaib yang selalu menjadi kambing hitam. Ndak cocok agar mudah bilang saja ndak jodoh. Jika suka banget tapi ada hal mengganjal, maka bilang saja atas nama jodoh maka kita bertahan. Jika mau menolak cinta orang lain, katakan saja memang kita belum jodoh.

Cara mengetahui sifat seseorang terkadang dilalui dengan mengetahui zodiaknya.

“Gua mah apal baget dah sama cowok Aries”.

“Wih, cewek Lo sagitarius? ati-ati aja”.  

Masalah apakah zodiak memang mempengaruhi watak seseorang dan dapat dipastikan secara ilmiah atau ndak, itu soal lain. Minimal ada panduan. Ada cercah harapan. Ini semacam pertemuan antara sifat kepo naluriah dan pembenaran berdasarkan zodiak.

JUga dengan cara lain misalnya hari pasaran.

“Gilak yak, ternyata Roysayur itu lahir Sabtu Pahing. Ati-ati, pasti anaknya egois abis.” 

Padahal cara terbaik mengetahui sifat lelaki adalah dengan menyelami langsung. Zaman sekarang mudah sekali berinteraksi lewat whatsapp. Intip Path. Atau jika mau lebih akurat, ajak ngorol dirinya sesering mungkin. Kontak mata. Gestur tubuh. Cara mengambil keputusan. Berpendapat. Dan memilih atas beberapa alternatif yang kita tawarkan pada akhirnya akan mengerucut pada kalimat:

“Oh, ternyata anaknya begini”–  di dalam hati

Ada juga yang melepas rasa penasaran setelah sepakat untuk tidur bareng. Entah lah apa arti tidur disini.

“Pas gue bareng dia, baru deh kerasa banget kalo gue bisa sayang sama dia.”  

“Dia baik, tapi pas di atas ranjang, kayanya gua kagak bisa bareng dia deh. Anaknya egois. Lagian titinya kecil.”

Tentu saja langkah ini akan dilaknat orang tua kolot. Atau akan dilaknat perasaan sendiri yang masih sensitif akan norma kepantasan. Apalagi dosa. Kembali lagi pada kita sendiri, sejauh mana kita mengartikan batasan-batasan tertentu dalam berhubungan.

Bisa saja saya menulis lebih banyak lagi soal beginian. Tapi tentu saja pandangan umum bahwa lelaki sejati malas curhat harus tetap dipertahankan. Bahwa yang namanya lelaki banget itu bagusnya cool dan pendiam. Jarang banyak ngomong. Apalagi rajin menulis.

Maka saya sudahi dulu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

+ bonus.

Saya ndak paham kenapa orang rela nonton Bon Jovi, padahal masa kini jauh lebih banyak lagu yang layak didengar.

Iklan

2 thoughts on “Bagaimana Mengetahui Lelaki?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s