Mungkin di Lain Waktu…

superthumbBerawal dari memori lama yang mendadak muncul kembali. Lalu timbul juga ke permukaan pertanyaan apakah ada yang pernah mengalami hal yang sama? Seseorang yang menjadi bagian dari hidup, perasaan yang kuat tanpa status, kemudian memang harusnya tidak terjadi dan berlalu begitu saja. Mungkin sudah berlalu bertahun-tahun, bahkan lebih dari satu dekade, tetapi tanpa kita bisa mengendalikannya, kebersamaan itu tak jarang terkenang kembali. Mungkin justru karena tidak dijalankan, tidak pernah tahu kekurangannya atau kebiasaan mengganggu darinya, seolah di pikiran kita dia akan menjadi seseorang yang sangat ideal. Tetapi biarkan saja begitu, mungkin itu yang terbaik. Saya pun mendengar cerita senada dari dua teman saya.

Fika

Ketika baru putus dengan pacar karena dia selingkuh, sepupuku mengenalkan aku dengan seorang pria. Waktu itu aku baru masuk kuliah dan kepercayaan diri yang awalnya saja sudah tidak baik, sedang buruk karena dikhianati. Pria yang dikenalkan ini sangat baik dan manis, juga ganteng. Sebenarnya aku suka, tapi pikiran ketika itu adalah; masa iya sih dia bisa naksir aku. Tapi kemudian dia sering telepon, mengajak bertemu dan jalan jalan. Dia pun jadi pendengar yang baik atas keluhan patah hatiku. Saat itu dia sedang kuliah di Australia, tapi bahkan ketika sudah kembali, dia masih sering menelepon jarak jauh. Paling tidak seminggu dua kali. Ketika komunikasi kami sudah berjalan cukup lama, dia pun bertanya, “Kita kenapa nggak pacaran aja ya?” Saat itu aku sudah suka sekali dengan dia, tetapi tetap rendah diri dan tidak bisa percaya kalau orang seperti dia bisa suka padaku. Tetapi aku juga selalu ingin mengobrol dan dekat dengan dia, dan hal ini berjalan hingga lebih dari satu tahun.

Sampai akhirnya dia kembali ke Jakarta dan mendatangiku untuk berkata, kalau dia ingin jadi pacarku. Dan aku harus memberikan jawaban sekarang, ya atau tidak sama sekali, karena dia merasa tidak sanggup meneruskan hubungan kalau tidak ada kejelasan dariku. Ketika itu aku benar-benar tidak logis, pikiranku dikuasai rasa minder, dan merasa kalau dia hanya kasihan denganku. Aku tidak mengindahkan sayangku padanya, dan bagaimana ketika kami bersama terasa nyaman sekali. Aku berkata tidak, lebih baik kita tidak usah bertemu lagi. Dia pun meninggalkanku. Dan itu terakhir aku melihatnya.

Hampir setahun berlalu dan dia sama sekali tidak pernah menelepon atau berusaha menghubungiku lagi. Karena penasaran dengan kabarnya, aku pun bertanya kepada sepupu yang mengenalkan kami. Dia tiba tiba meminta maaf, karena tidak langsung memberi tahu aku, bahwa beberapa bulan yang lalu, pria itu meninggal karena kanker yang sudah cukup lama diidapnya. Aku tidak tahu harus berkata apa. Apalagi ketika aku mendapatkan surel darinya yang ternyata draft-nya dititipkan ke kakaknya untuk dikirim post humous (mudah mudahan saya benar menggunakan istilah ini). Di surel itu dia mengatakan kalau kecewa bahwa aku tak percaya padanya. Dia juga minta maaf kalau tidak bercerita soal penyakitnya, karena dia tidak mau aku merasa wajib menemaninya. Di penghujung surel dia mengatakan kalau aku tak perlu takut dengan relationship, tapi perlu takut ke zombie dan serial killer.359c54909c2d42cb4beae1bbf7d69dbf

Linda

Ketika itu saya sedang berada di dalam hubungan yang buruk, yang saya tidak tahu bagaimana jalan keluarnya. Salah satu sahabat saya mengajak saya dan adik perempuan saya untuk hang out di satu acara di sebuah cafe yang ketika itu sedang trendi. Sahabat saya itu berniat mengenalkan seseorang ke adik saya, menurutnya. Siapa tahu jodoh. Sayangnya ketika itu adik saya sedang ada kekasih, sehingga pria ini tidak diindahkannya. Karena sahabat saya tak lama pamit pulang, dan adik saya asik sendiri, akhirnya saya mengobrol dengan sang pria yang ternyata seorang pengacara. Kami mengobrol seru karena menemukan banyak kesamaan. Sekarang saja saya lupa, apa kesamaannya. Tetapi kami akhirnya bertukar nomer ketika pulang dari sana.

Saya lupa apakah saya atau dia yang lebih dahulu menghubungi setelah itu. Kami pun berjanji untuk bertemu lagi. Di sebuah restoran di sudut Menteng yang sepi kami pun berjumpa dan mengobrol lama sekali. Dan itu pun terulang kembali. Di tempat yang sama lagi. Hingga berkali-kali, setiap kali waktunya pulang rasanya berat sekali melepasnya. Sampai saat pertemuan ke berapa entah saya lupa, ketika waktunya pulang dan kami berjalan ke mobil, tiba-tiba saya berurai air mata, dan mengatakan kalau saya tak ingin pulang. Terlepas semua beban di hati saya, ketidakbahagiaan yang rasanya hilang jika bersama dia. Ketika itu dia tidak mengatakan apa-apa, hanya memeluk saya erat, kemudian mencium saya dengan hangat. Kami pun berciuman lama.

Sejak saat itu saya rasanya semakin terobsesi. Mungkin dia merasakan yang sama, mungkin juga tidak. Hidup saya seperti berselimut awan yang memabukkan dan semerbak harum. Kami pun selalu membuat janji untuk bertemu, walaupun tidak bisa terlalu sering. Dan selalu hanya berdua, tanpa ada orang lain. Jika bertemu rasanya kami tidak bisa berhenti saling menyentuh dan memegang. Walaupun kami menjaga agar selalu di tempat umum, sampai suatu hari, entah mengapa saya merasa nekad dan mengajaknya untuk bertemu di sebuah kamar hotel. Kami pun menghabiskan waktu berjam-jam di sana, tapi tidak sampai berhubungan seks, entah apa alasannya saya pun sudah lupa. I was so high on infatuation. Belum pernah saya merasakan hal seperti itu secara fisik kepada seseorang.

Setelah kejadian itu, tiba-tiba seperti ada tuas yang dinyalakan di kepala saya, dan entah mengapa saya berpikir kalau mungkin sebaiknya kami tidak bertemu lagi, dan mungkin saya harus menyelesaikan masalah saya dengan pasangan saya yang sedang dirundung kemelut ini. Anehnya, dia pun tidak menghubungi saya lagi. Dan saya juga tidak mencari. That’s it. Clean break. Bertahun-tahun kemudian saya pernah melihat dia di salah satu mall. Tidak terlalu berubah, hanya sedikit gemuk. Lalu salah satu rekan saya sempat berkantor di tempat yang sama dengannya, dan bercerita kalau dia telah menikah dan memiliki anak-anak yang lucu. Jika sedang iseng, saya juga suka Google namanya, ingin tahu apa yang terjadi dengannya.original

Posted in: @linimasa

21 thoughts on “Mungkin di Lain Waktu… Leave a comment

  1. Ah, waktu memang gila. Tuhan sedang menggunakan kuasa penuhnya terhadap kita. Waktu seperti ini bisa membuat jantung berketuk dengan ritme diluar kelaziman. Bertanya-tanya apa yang akan terjadi berikutnya.
    Ehehehe.. saya ngawur ya mbak? Dimaafkan ya :p

  2. cerita yg pertama… kenapa sama? 🙁
    waktu tau kabar dia meninggal, yg pertama dateng itu rasa menyesal. kadang mikir, kok kaya sinetron banget.

    yeah, timing’s a bitch.

  3. Mbak Lei, salam kenal. Ini rangkuman bagian kehidupan yang terlalu sakit untuk di kenang, terlalu sayang untuk di lupakan. Setiap jiwa setidaknya pernah mengalami sekali atau dua kali.. Matur nuwun sudah bercerita sederhana namun indah.

Leave a Reply