Dalam Jeda

KITA butuh jeda. Interval antara setelah mendapatkan/merasakan sesuatu, hingga akhirnya mantap memutuskan ingin menanggapinya dengan tindakan seperti apa. Durasi masa yang cukup; cukup singkat agar kita tidak terkesan apatis dan dianggap suka mengulur waktu untuk menguapkan isu, tapi juga cukup memadai agar kita tidak menjadi seseorang yang reaksioner dan meledak-ledak tanpa kejelasan.

Selama masa jeda berlangsung, setiap orang memiliki cara menjalaninya masing-masing. Ada yang ingar bingar, namun ada yang sunyi. Pikiran mereka berusaha mengendap dalam hening, dengan beraneka pengondisian. Ada yang bertafakur secara harfiah, berdiam diri dalam kesunyian. Akan tetapi tak sedikit yang memerlukan stimulus berupa dentuman, entakan, dan gerakan besar untuk mencapainya. Selebihnya, silakan dinikmati proses maupun hasilnya.

Barangkali jeda itu juga yang dibutuhkan, dan selalu dilewati kaum pekerja muda saat ini dalam menghadapi dinamika karier. Entah mereka masih merupakan mahasiswa tingkat akhir yang sudah bisa leluasa berpindah dari satu internship ke internship lain, pekerja korporasi dengan masa kerja lebih dari satu tahun yang masih mencoba menjajaki kenyamanan diri atau mengaku masih haus ilmu baru, pekerja tetap di lini middle management dan top management yang masih berpotensi berpindah atau dibajak, maupun para pekerja lepas alias freelancer yang punya keahlian tinggi namun tidak berminat terikat. Sebab saat ini, akan sangat mudah menemui kenalan kita yang cepat banget berganti pekerjaan, dan perusahaan. Saking cepatnya sampai-sampai seakan tidak memerlukan jeda, keputusan kilat yang bisa diambil dengan alasan “mumpung masih muda.”

Saya masih ingat selama masa sekolah menengah beberapa tahun lalu, para guru, orang tua, dan siapa saja selalu memberikan pesan yang sama soal dunia kerja: “Setelah lulus, cari kerja yang bagus, yang mapan. Awet-awet di sana, jangan suka pindah-pindah. Biar bisa naik jabatan, naik gaji. Cari jenjang karier.” Sehingga saat hal-hal kurang nyaman dan kurang berkenan muncul, maka seseorang tersebut diminta untuk berjeda dengan dirinya sendiri. Bukan moro-moro minta berhenti hanya gara-gara kenaikan gaji yang di luar perkiraan, atau perasaan tidak senang dengan lingkungan dan rekan sekerja. Meskipun demikian, nampaknya nasihat di atas tidak cocok untuk semua orang. Apalagi sekarang ini, ketika generasi muda makin kentara haus pengakuan sosial dan profesional, dan pada beberapa kasus membuat sejumlah kaum (agak) tua risi lantaran anak muda dinilai haus self-entitlement. Tujuan yang kurang esensial.

Kendatipun begitu, tak bisa dimungkiri bahwa nominal dan standar kesejahteraan pun kerap memangkas jeda tersebut. Bagi Anda yang akrab dengan fenomena migrasi pekerja besar-besaran setelah pembagian THR, baik bermigrasi ke perusahaan atau ke jenis pekerjaan lain, setidaknya paham dengan skema yang terjadi. On assumption, it’s all about supplies and demands.

Dalam sebuah obrolan bersama kenalan beberapa waktu lalu.

“Saat banyak orang bekerja kantoran, otomatis bidang-bidang freelance kena power shortage. Karena butuh pekerja, nilai hasil pekerjaan pun ditingkatkan. Akhirnya, mungkin juga karena sudah merasa tidak nyaman di kantor dan sebagainya, banyak orang jadi freelancer. Begitu juga sebaliknya, saat dunia korporasi lagi butuh banyak pekerja, tapi semuanya pada jadi freelancer, misalnya, otomatis gaji yang ditawarkan mulai dari fresh graduate sampai seterusnya dinaikkan. Mungkin karena lelah soal deadline dan waktu kerja yang tidak teratur, akhirnya banyak yang jadi orang kantoran lagi. Begitu terus. Jadi siklus.”

Tidak ada vonis benar atau salah dalam kondisi ini. Semua orang bebas menjalani karier dengan cara masing-masing. Namun pastinya, jeda yang mereka perlukan sebelum menentukan keputusan, lumayan cepat dibandingkan generasi-generasi di atas mereka. Tentu saja selain para pemilik bisnis maupun investor, para wirausahawan tempo dulu maupun masa kini yang wajib diembel-embeli ~preneur, dan orang-orang yang sudah kaya sejak lahir.

Jadi, apa pun yang sedang Anda alami saat ini, nikmati saja. Termasuk yang tengah alami jeda, sambil terus bertanya kepada diri sendiri: “Sebenarnya aku cari apa di sini?

[]

Posted in: @linimasa

Tagged as: , , ,

2 thoughts on “Dalam Jeda Leave a comment

Leave a Reply