Karena Menangis itu Enak dan Perlu

“Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.

Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.”
— Sapardi Djoko Damono

Semenjak kecil saya selalu diajari orangtua bahwa anak lelaki itu dilarang menangis. Karena lelaki itu jantan. Karena lelaki itu akan menjadi pemimpin. Karena lelaki itu hatinya harus keras. Menangis itu hina. Menangis itu lemah. Tak berdaya. Jangan menangis! Lawan!

Saat usia sekolah dasar, ketika saya kalah adu pukul dengan teman sebaya, saya dilarang menangis oleh kakak. Saya paksa untuk bertahan. Walau pada akhirnya saya menangis diam-diam di kamar mandi sembari membersihkan luka. Pada saat akan masuk SMA, saya gagal masuk sekolah favorit. Saya begitu sedih dan ingin menangis. Tapi saya malu. Ayah saya menghibur. Saya berhasil tidak menangis selama hari pengumuman. Bangun tidur keesokan harinya, air mata saya menetes. Saya merasa gagal. Ketika saya ndak berhasil masuk fakultas yang saya idam-idamkan, ketika saya mendengar Ibu kecelakaan di kampung halaman, ketika saya harus pulang mendengar Kakek saya meninggal, dan ketika-ketika lainnya yang seharusnya saya berhak menangis sejadi-jadinya, saya tak menangis. Menangis spontan itu dilarang.

Akhirnya saya menangis juga. Namun selalu di lain kesempatan.

“Apakah seorang pria pantas menangis?” Saya selalu mempertanyakannya ketika saya meneteskan air mata. Perihal menangis pun perlu diperjelas lagi. Menangis karena sedih atau gembira. Juga terharu.  Sah-sah saja saking terharunya pria terlihat menangis. Begitu pun saat gembira.

Lantas, bagaimana jika seorang pria menangis karena bersedih?

Bagi saya menangis adalah semacam doa. Memberi kesempatan pada raga dan rasa untuk mengadu dan melepas lelah. Karena menangis adalah bagaimana tubuhmu berbicara ketika mulutmu tidak dapat menjelaskan rasa sakit yang kamu rasakan. Doa kepada siapa? Pada siapapun. Harapan yang dihembuskan ke udara. Melayang-layang. Entah jadi apa. Bisa jadi akhirnya tak menjadi apa-apa kecuali luka.

“kau yang selalu bisa membuatku tertawa justru yang paling bisa membuatku menangis…”
— Sanie B. Kuncoro

Agak curang memang dunia yang kita jalani ini. Perempuan menangis dianggap biasa. Bahkan jika boleh sembari merauang-raung. Semakin kencang semakin feminin. Itu anggapan sebagian orang. lalu para lelaki akan berlomba-lomba melakukan adegan FTV, misalnya tergesa-gesa menyodorkan tisu. Adegan lanjutannya membantu mengusap air mata. Alternatif lain, menyodorkan dada. Lalu mengusap punggung dan bagian belakang kepala. Lalu membelai. Ini khusus bagi pria yang memiliki kedekatan dengan perempuan yang menangis. Jika tidak, pria itu yang dijamin menyusul ikutan menangis.

Bagaimana anggapan masyarakat kepada pria yang menangis? Banci! Pria sejati itu bikin nangis anak orang. Bukan sebaliknya. Pria sejati itu air matanya full terus. Ndak pernah sempat dipakai.

Jika putus cinta? Pura-pura tabah saja. Atau pergi ke dukun. Atau mabuk. Oh ya, merokok pun masih wajar. Asal jangan menangis.

Bagaimana jika pria jatuh dari sepeda dan terluka? Segera bangun. Tegakkan kepala. Jatuh itu soal biasa. Semakin banyak luka di dengkul dan sikumu pertanda kamu lelaki yang masa kecilnya bahagia. Jangan pernah menangis karena merasa sakit. Kamu akan kalah.

Lalu bagaiman jika kamu harus menangis karena memang sakit sekaligus sedih? Ahahahaha! Cupu! Laki-laki itu ndak boleh sedikitpun meneteskan air mata. Yang boleh menangis hanya Audi. Atau Mira, Dewi, Siska, dan Sita. Silakan semalaman. Tapi tidak untuk Jono, Bambang, Wicak, Adi, apalagi Jokowi.

Pria boleh menangis. Tanpa syarat. Pria juga bagian dari makhluk hidup yang dalam kelopak matanya terdapat kelenjar air mata. Tentu saja air mata manusia. Bukan buaya. Lelaki menangis tentu saja ada sebabnya. Menangis adalah reaksi alamiah. Sama seperti tertawa, marah dan takut dan jijik.

Beruntunglah saya yang tak menganggap tangisan seorang pria adalah aib. Menangis sajalah. Karena menangis itu enak dan perlu.

“dalam diriku mengalir sungai panjang,
darah namanya;
dalam diriku menggenang telaga darah,
sukma namanya;
dalam diriku meriak gelombang sukma,
hidup namanya;
dan karena hidup itu indah,
aku menangis sepuas-puasnya”
— Sapardi Djoko Damono (Hujan Bulan Juni)

Pertanyannya, “kapan terakhir kamu menangis?”

Jakarta, 05092015

bonus.

“Make You Feel My Love”

When the rain is blowing in your face,
And the whole world is on your case,
I could offer you a warm embrace
To make you feel my love.

When the evening shadows and the stars appear,
And there is no one there to dry your tears,
I could hold you for a million years
To make you feel my love.

I know you haven’t made your mind up yet,
But I will never do you wrong.
I’ve known it from the moment that we met,
No doubt in my mind where you belong.

I’d go hungry; I’d go black and blue,
And I’d go crawling down the avenue.
No, there’s nothing that I wouldn’t do
To make you feel my love.

The storms are raging on the rolling sea
And on the highway of regret.
The winds of change are blowing wild and free,
You ain’t seen nothing like me yet.

I could make you happy, make your dreams come true.
Nothing that I wouldn’t do.
Go to the ends of the Earth for you,
To make you feel my love
To make you feel my love

*- Adele

Iklan

19 thoughts on “Karena Menangis itu Enak dan Perlu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s