Irama dan Alasan (d/h Rhyme and Reason)

Mungkin ada hubungannya dengan usia, tetapi saya suka pola dan rutinitas. Pola membuat saya merasa aman, sehingga saya bisa membuat garis garis yang tak kasat mata di kepala dan menghubungkan hal-hal yang sepele, sehingga menjadi suatu bentuk yang bisa saya mengerti. Kalau Anda pernah melihat saya sedang diam dengan mata memandang ke barang yang tidak ada seperti berpikir keras, itu kemungkinan saya sedang membuat pola di kepala saya. Atau mungkin juga saya sedang menimbang apakah saya perlu ke toilet atau bisa menahannya setengah jam lagi.

Contoh kecil dari pentingnya pola adalah, serial TV. Saya paling suka bagian awal dari sebuah serial, di mana kita diperkenalkan dengan karakternya, dan diberikan informasi mengenai latar belakang mereka. Dari sini diharapkan kita mengerti, kalau karakter ini berbuat sesuatu, apa proses logika dan pengambilan keputusan yang dilakukan, dengan sejarah hidup dan latar belakang yang dimilikinya. Satu serial biasanya mengandung beberapa karakter yang saling mengisi dan melengkapi jalan cerita yang terjadi, dan mereka biasanya memegang peran masing-masing yang sesuai dengan “sifat” yang sudah dibangun dari awal. Walaupun tidak jarang ada terjadi pertukaran peran, atau kejadian yang di luar karakter, biasanya ada penyebabnya yang membuat para penonton manggut-manggut, “ooo iya sih, kalau gue jadi dia, gue juga bakal bantai semua keluarganya di sebuah pesta pernikahan.” (Kalau Anda bisa empati dengan Lord Frey, lebih baik kita tidak berteman saja). Saya menonton serial Mr. Robot walau belum selesai, dan saya agak terganggu dengan ketidakadaan pola di sana.

Really, Elliott?
Really, Elliott?

Mengenai latar belakang karakter, tidak bisa lebih jelas lagi, karena Mr. Robot adalah salah satu serial di mana kita bisa mendengar inner monologue sang karakter utama. Tetapi apa yang dikatakan oleh monolog tersebut selalu tidak konsisten dengan apa yang kita lihat di layar. Pembangunan karakter juga terlihat agak asal, dengan banyak karakter minor yang dikupas lebih dari seharusnya, dan sebaliknya, karakter mayor yang dibuat sangat stereotipikal dan kilse. Sifat dan quirks para karakter ini pun ditarik dan dipasang sesuai maunya pembuat serial. Hari ini Elliott jadi sociopath yang tidak tahu bagaimana bicara dengan manusia, tapi esoknya dia ternyata mampu merayu seseorang untuk melakukan yang dia mau, hari ini dia genius yang sangat kalkulatif sehingga nyaris tidak pernah membuat salah dalam hidupnya, besoknya dia melakukan kesalahan yang begitu bodoh dan melarikan diri dari kesalahan itu dengan ngobat. Kemarin saya mengajukan kasus saya ini kepada Agun, dan dia sempat membela Elliott dengan, “namanya juga junkiebut it sounds like a plot cop out to me. Jadi intinya saya juga penasaran untuk lihat finale dari serial ini. Bisa jadi sang penulis jagoan sekali sampai saya belum menangkap rhyme and reason dia. Atau memang Sam Esmail gaya menulisnya seperti seorang yang hidup dengan ADD. Berarti saya memang tidak cocok.

Agent Broyles is not impressed.

Soal rutinitas. Saya dulu sering mengamati rutinitas Ayah saya dan berkomentar dalam hati, apa dia tidak bosan dengan rutinitas sehari-harinya yang sama terus. Pagi hari setelah sembahyang, dia akan jalan pagi. Kembali dari jalan pagi sarapan telur setengah matang, toast dan kopi. Kemudian beliau mandi dan berangkat ke kantor. Besoknya begitu lagi, sama persis. Sehingga kalau Ibu saya ke luar kota, yang pertama ditanyakan beliau pasti, “yang menyiapkan sarapan saya siapa?” dan saya cukup sering mengemban “tanggung jawab” tersebut. Kalau diajak sarapan di luar rumah pun Ayah saya suka agak bingung, dan akhirnya lebih sering menolak. Dengan alasan, “Nanti kopinya ndak enak.” Siapa nyana kalau saya kurang lebih jadi mirip beliau. Kalau saya sudah merasa aman dengan komposisi makanan tertentu, saya akan membawa bekal ke kantor dengan makanan tersebut sampai saya tidak bisa memakan lagi karena bosan. Tetapi saya tentu tak sekaku Ayah saya, kalau ada yang mengajak makan siang dan kebetulan jadwal saya memungkinkan, dengan senang hati saya menyimpan bekal saya dan makan di luar (bukan kode) ruangan kerja saya. Terkadang di pekerjaan kita memang sering terjadi hal-hal yang di luar ekspektasi, atau di luar zona nyaman kita, sehingga mungkin secara emosional saya ingin ada yang menanti saya, sesuatu yang familier, walau itu hanya berbentuk sekotak makan siang yang saya sudah tahu isinya apa.

Iklan

4 thoughts on “Irama dan Alasan (d/h Rhyme and Reason)

  1. Anancastic… mungkin juga karena ayah anda terlahir di jaman sulit yang membutuhkan disiplin tinggi dalam bertahan hidup. Nenek dan bapak saya seperti itu, tapi saya generasi setelahnya tampak berantakan, di hati mengaku OC, dalam kenyataannya OC sebagai bungkus untuk narsisme.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s