Uang dan Waktu

image

Uang. Aku adalah salah satu penggemarnya. Kita bisa melakukan banyak hal dengan uang; membeli sesuatu, mempengaruhi orang, membuat perbedaan dalam kehidupan orang, makan, minum, semuanya. Dalam undangan pernikahan sengaja dituliskan: “Tanpa mengurangi rasa hormat, kami akan sangat berterima kasih apabila tanda kasih sayang yang akan diberikan tidak berupa cinderamata atau karangan bunga,” sehingga orang tau bahwa kita lebih suka hadiah uang. Kita tau betul orang yang memuja uang–bahkan seluruh keberadaan mereka dibangun di sekitar menemukan uang, menghabiskannya, atau ndak kehilangan sedikitpun dari apa yang sudah mereka hasilkan. Uang adalah bagian penting dari kehidupan dan bahkan jika kita ndak suka, uang secara nyata membuat dunia berputar.

Dalam bidang usaha, kita akan menggunakan uang sebagai alat ukurnya. kita menghitung nilai ekonomi dari aset dan kewajiban. Untung dan rugi. Apapun yang ndak bisa diterjemahkan dalam istilah moneter, ndak akan menambah atau mengurangi nilai perusahaan. Dalam kasus ini, untuk mengukur kesuksesan bisnis, uang adalah nilai tukar yang utama.

Simpulan bisnis di atas sayangnya menular pada pelakunya. Manusia lalu mengkultuskan uang sebagai nilai pribadinya. Seperti bisnis, manusia juga mengalami untung dan rugi. Namun, uang bukanlah nilai tukar yang utama.  Mata uang utama bagi manusia adalah waktu.

Waktulah komoditas terbesar manusia. Semua orang, ndak peduli tua atau muda hanya memiliki sejumlah waktu seumur hidupnya. Ndak bisa beli lebih dari itu. Kadang-kadang orang bertanya, “Apa yang bisa kita berikan untuk orang yang memiliki segalanya?” Jawabannya selalu sama: waktu. Waktu merupakan hal yang paling berharga yang kita bisa kita dapatkan dan berikan.

Jika Anda seorang pekerja di Jakarta. Silakan bikin skema gaji per jam. Lalu kalikan dengan waktu yang Anda habiskan untuk bekerja. Termasuk menuju dan pulang dari tempat kerja. Lalu kurangi dengan gaji bulanan Anda. Itulah nilai yang Anda buang tiap saat. Karena belum ada bisnis yang betul-betul berkomitmen untuk membayarkan sejumlah waktu untuk pegawainya. Sebaliknya, mereka senang betul kalau waktu pegawainya dikonversikan dengan uang yang akan dihitung dengan teliti lewat absensi dan gaji.

Entah berapa rupiah dikeluarkan manusia untuk membeli waktu. Lewat botox, operasi plastik, injeksi enzim dan hormon, atau sekedar memakai cream malam. Waktu memberikan pelajaran dan kesabaran untuk manusia. Ia membentuk ruang berkembang yang nilainya ndak bisa dihitung dalam satuan harta. Kita punya sedikit waktu untuk mencapai cita-cita. Dan begitu banyak waktu untuk ndak mengejarnya. Dari sini, istilah “buang waktu” terdengar seperti pelecehan. Bahkan lebih gila dari buang uang.

Selama waktu bisa menghasilkan uang dan uang ndak bisa ditukar waktu, sebaiknya mulai berhitung ulang. Karena satu jam di kemacetan nilainya jauh berbeda dengan satu jam bersama anak tercinta.

Iklan

3 thoughts on “Uang dan Waktu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s