(Mau) Bertanya dan (Bersedia) Mendengarkan

PERNAH dengar istilah “Triad KRR”? Sebutan ini dicetus-populerkan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), menjadi julukan untuk tiga risiko yang mengancam kehidupan remaja sebagai calon generasi produktif sebuah bangsa.

Meskipun KRR merupakan akronim dari “Kesehatan Reproduksi Remaja”, namun Triad KRR terdiri atas seksualitas, HIV/AIDS, dan Napza (jadi singkatan dalam singkatan; Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif Lainnya). Entah bagaimana penjabaran hubungan antara seksualitas dan Napza dalam spektrum perspektif BKKBN, biarlah lembaga terkait yang menjelaskannya. Yang pasti, ada ratusan orang dari segudang instansi, yang saban bulan menyambangi sekolah dan area sejenis, menyampaikan penyuluhan dan pengarahan kepada para siswa untuk:

  • Selektif memilih lingkaran pergaulan,
  • Menghindari segala perilaku menyimpang, termasuk
  • Tidak merokok dan mengonsumsi minuman keras,
  • Menjauhi narkoba, pornografi, dan seks bebas,
  • Membentengi diri dengan ajaran agama serta meningkatkan iman dan takwa, sehingga
  • (Pokoknya!) yang boleh, boleh, dan yang tidak boleh, ya tidak boleh.

Rasanya, sejak saya masih SMP sampai sekarang–lebih dari sepuluh tahun setelahnya, pesan yang disampaikan selalu sama. Itu-itu saja. Namun aneka rupa perilaku menyimpang yang dilakukan remaja, bahkan anak-anak makin menggila (menurut standar kelaziman di Indonesia). Bikin para orang tua makin berat menghela napas, makin sering mengelus dada.

Kalau sudah begini, apanya yang salah?

  • Subjeknya, atau remaja yang selalu berganti?
  • Pola pikir dan sikap remaja yang kian nekat?
  • Perubahan zaman dan cepatnya arus informasi?
  • Nilai-nilai peradaban yang bergeser?
  • Lingkungan yang makin permisif dan memaklumi, termasuk minimnya teladan?
  • Kurangnya pengawasan dan pendampingan orang tua?
  • Cara penyampaian pesan yang kurang mengena?
  • Pesan yang disampaikan kurang tepat?
  • Atau, gabungan dari semuanya?

Saya yakin, setiap poin di atas bisa menghasilkan penjelasannya masing-masing, dan cukup panjang lebar. Bahan seminar maupun sarasehan. Kemudian, sebelum saya makin terdengar seperti Pembina Upacara yang sibuk berbicara tanpa ada yang peduli–kecuali yang apes berada di barisan depan, biarlah bagian ini berhenti sampai di sini.

Lalu, apa hubungannya dengan tulisan Linimasa hari ini?

Memanfaatkan Senin pagi yang tanggal merah kemarin, boleh dong iseng nongkrong di kafe lokal. Sekitar pukul 9 pagi Wita, hampir seisi ruangan penuh dengan remaja berseragam, basian upacara bendera peringatan kemerdekaan sekolah masing-masing. Mereka berhimpun, saling bercengkerama, sambil makan dan minum.

Kalau begini situasinya, berasa wajar aja ya kan?

Ini tambahannya.

Sebagian besar siswa cowok berasap dari mulut (1). Terus, sebagian besar siswa, cowok atau cewek, santai berbicara dengan menyelipkan kata-kata menyumpah di tengah kalimatnya. Seperti: “anjing…”, “bangsat…”, dan sebagainya (2). Okelah, saya tidak terlalu ambil pusing untuk kelakuan nomor 1 dan 2. Barangkali karena pemandangan dan celetukan tersebut makin jamak saya (kita) temui dalam kehidupan sehari-hari. Toh setelah mereka akil balik dan punya KTP, mereka juga berhak untuk menjadi perokok. Kemudian soal kata-kata kasar, sudah dianggap biasa, colloquial expression. Justru seseorang sudah terkesan akrab dan nyaman, kala bisa melontarkan kata-kata tersebut tanpa sungkan dan ragu. Ya, kan?

Perhatian saya mulai terusik, saat terdengar celetukan seorang siswi SMA yang datang bersama tiga temannya (dua cewek, satu cowok). Di tengah-tengah menikmati makanan, dia ngomong gini:

Bokep itu kan ngajarin kita… Kan ceweknya cantik-cantik.

Sebagai catatan, saya tidak sengaja menguping (kayak kurang kerjaan aja). Kalimat itu dilontarkan sebagai bagian dari perbincangan biasa, terdengar lancar, lantang dan tanpa kesan malu-malu. Mudah-mudahan saya salah dengar, soalnya bukan apa, lantaran si pengucap adalah cewek usia remaja, yang sudah mendapatkan akses pada pornografi dan kemungkinan besar tanpa dibarengi penjelasan berimbang dari yang berkompeten. Dari kalimat yang ia lontarkan, asumsinya, yang ia maksud “ngajarin” adalah bagaimana para AV Stars tampil sebagai aktris, riasannya, penampilannya, atau lainnya.

Foto diambil dari posisi nongkrong, dan cewek SMA duduk di kursi paling ujung.
Foto diambil dari posisi nongkrong, dan cewek SMA duduk di kursi paling ujung.

Rokok, bagi sebagian pihak, bisa termasuk dalam kategori “Zat Adiktif Lainnya” pada Napza. Dengan ini, para remaja yang saya lihat kemarin pagi, rata-rata sudah berpotensi bersinggungan dengan salah satu dari Triad KRR. Berarti, seharusnya ditanggulangi, kan? Apalagi dampaknya jelas. Minimal, menyita sekian persen dari uang saku yang mereka dapatkan dari orang tua.

Pornografi, jelas berhubungan dengan seksualitas. Scara, tujuan produksi, pemasaran, dan penyebarluasannya adalah untuk menstimulus syaraf. Membangkitkan fantasi; bikin tegang. Namun saat dikonsumsi remaja, atau siapa pun tanpa pemahaman dan kesiapan isi kepala, bisa menyebabkan kesalahpahaman, ketidakmampuan mengendalikan hasrat (ini yang bikin pornografi gampang dijadikan kambing hitam untuk meningkatkan kasus pencabulan, perkosaan, dan pelecehan seksual), termasuk meningkatnya angka seks tanpa tanggung jawab dan di bawah umur, yang secara legal melanggar hukum negara (berbeda dengan seks pranikah di usia dewasa, dalam kondisi tertentu, sehingga secara teknis tidak berdampak pada pidana). Pastinya, pornography is not sex education.

Silakan cari tahu sendiri deh, dan sudah banyak beredar di Internet, soal mispersepsi-mispersepsi seksualitas yang dikira fakta gara-gara bokep. Misalnya: kelokur di lokur adalah salah satu metode kontrasepsi (hello… Do You know about pre-cum?); the squirting partner is a sign of male’s sexual prominence; moan is a sign of pleasure (repeat after me: P-A-I-N); size is everything, dan masih banyak lainnya. Syukur-syukur sih kalau habis nonton bokep malah bersemangat untuk nge-gym atau olahraga, terinspirasi bisa punya bentuk tubuh ideal macam para pemainnya. Tapi ya mustahil banget ada orang nonton bokep kayak nonton video motivasi kebugaran tubuh.

Sekali lagi, jangan lupa, setelah mereka berusia dewasa (17 tahun ke atas), secara hukum mereka berhak membeli rokok, dan mengkonsumsi segala bentuk pornografi.

Usia memang bertambah, akan tapi persepsi mereka terhadap rokok dan pornografi ya tetap sama: sama-sama bikin “enak”. Bahkan menjadi adiksi, yang kemudian barulah dibahas pakai politik dan debat kusir oleh para pakar, saat para remaja tersebut sudah berusia 25 tahunan ke atas. Sudah jadi kebiasaan yang lengket. Telanjur. Telat. Perihal ini pula, tidak tepat bila mencela dan menghina para perokok maupun penikmat bokep di usia dewasa mereka. It’s on their own consent.

Kalau sudah begini, izinkan saya memukulratakan, bahwa para siswa yang merokok dengan leluasa dan mafhum dengan pornografi tadi, setidaknya sudah tiga kali mendapatkan penyuluhan bertema sama di sekolah. Mereka akan sama seperti siswa-siswa lainnya, yang duduk, menyimak penjelasan sampai selesai, dan memberi ilusi kepada narasumber maupun pihak sekolah seolah mereka sudah paham dan seiya sekata dengan materi penyuluhan yang disampaikan.

Di posisi ini, alangkah baiknya jika indoktrinasi atas semua yang dilarang-larang itu, diubah saja. Terutama untuk para remaja-remaja kita.

Banyak anak muda yang tahu merokok itu tidak baik, lengkap dengan alasan-alasannya. Tak sedikit pula yang sepakat bahwa pornografi itu harus dihindari, karena jorok, menjijikkan, dan sebagainya, kadang juga lengkap dengan argumentasi mengenai kerusakan jaringan otak akibat paparan selama sekian hari. Hanya saja, mereka tetap merokok, meski diam-diam. Apalagi kalau nonton bokep, enggak mungkin nobar, karena pasti awkward. Trus, para orang-orang dewasa, penyuluh, dan mereka yang merasa bertanggung jawab pada moralitas anak bangsa, hanya bolak balik menyerukan “JANGAN MEROKOK! JANGAN NONTON PORNOGRAFI! JANGAN LAKUKAN SEKS BEBAS!” dan sebagainya, dan sebagainya. Semua merupakan kata perintah, dengan tanda seru. Pada saat ditanya “kenapa?” Jawabannya hanya “POKOKNYA ENGGAK BOLEH!” Meninggalkan sang manusia belia di persimpangan ketidaktahuan, dengan pertanyaan yang menggantung, dan bersiap menjelajah sendiri.

(Seruangan dengan bocah ini, saat nongkrong di lokasi berbeda, sepuluh bulanan lalu.)

Namun pernahkah siap menyediakan waktu, perhatian, dan simpati, dengan bertanya “Kenapa sih kamu merokok? Kenapa sih kamu nonton pornografi? Kenapa kamu lakukan seks bebas?”

Menyediakan waktu untuk mendengarkan, menyediakan perhatian untuk benar-benar memahami, dan menyediakan simpati untuk mencoba berdiri dari posisi si empunya penjelasan. Sehingga yang berlangsung kemudian bukan penghakiman, tapi diskusi untuk mencoba berbagi pemahaman, memperpendek gap antara si orang dewasa dan si remaja.

Sayangnya, kita terbiasa berada dan tumbuh kembang di lingkungan yang membungkam pertanyaan, terlebih yang sensitif-sensitif macam di atas. Yang lebih suka bilang “ndosah tanya-tanya, nanti bikin malu”, ketimbang “kalau kamu ada yang dibingungkan, tanya mama/papa ya. Jangan orang lain.” Akhirnya, jadi gampang ndak-nyamanan, sampai dewasa.

Mengambil contoh siswi yang bicara soal bokep tadi. Dia cewek (lazimnya, konsumen pornografi didominasi oleh cowok), dan dia bisa mengutarakan hal tersebut secara lantang di depan teman-teman satu geng (berarti, dia merasa nyaman berada dalam lingkaran tersebut).

Coba saja ketika ada orang lain (dari luar geng), yang lebih tua (guru, maupun lainnya), atau yang asing (penyuluh dari instansi luar sekolah), berbicara soal pornografi kepadanya, pasti dia akan bersikap normatif. Menjawab “iya”, untuk pertanyaan yang umumnya harus dijawab “iya”, begitupun sebaliknya. Sekadar lip service, biar tidak memalukan diri sendiri, takut dicap yang macam-macam. Malangnya, kebiasaan keliru ini bertahan sampai dewasa, menyusun kepribadian yang sejatinya membohongi diri sendiri. Voila! Karakter kebanyakan manusia Indonesia.

Ironisnya, manusia adalah tempatnya kesalahan, tapi tidak ada satu pun manusia yang suka dengan perasaan ketika disalahkan. Pasalnya hanya ada hukuman, minim pembelajaran. Jadi, ujung-ujungnya, banyak yang berlomba melempar, mengubur kesalahan, atau malah menghilang, ketimbang mengakui kesalahan untuk serendah-rendahnya dipermalukan. Termasuk untuk soal ini.

Ingin tahu, bertanyalah. Setelah bertanya, simak, dan komunikasikan. Harap diingat, mereka masih remaja. Harusnya, kita yang (mengaku) sudah dewasa berusaha memahami mereka, bukan memaksa mereka untuk memahami kita.

Sebaik-baiknya hasil akhir sebuah komunikasi adalah mengerti, bukan menghakimi.

[]

Iklan

One thought on “(Mau) Bertanya dan (Bersedia) Mendengarkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s