Jangan Nanggung, Indonesia

visual

Menawarkan keragaman kepada dunia yang hiruk pikuk dan serasa berputar semakin cepat, bukan hanya ketinggalan zaman, tapi juga membingungkan. Tidak fokus sehingga tidak ada yang menancap di pikiran dan hati.  Itulah sepertinya yang selama ini terus menerus ditawarkan oleh Indonesia ke dunia. Keragaman budaya, seni, kuliner dan lain-lain. Bagaimana keragaman yang sebenarnya adalah kekayaan ini bisa menjadi kekurangan?

Di bidang kuliner, kalau mendengar kata Jepang, makanan pertama yang akan disebut adalah Sushi. Thailand? Tom Yum. Malaysia? Nasi Lemak. Singapura? Hainan Chicken Rice. Indonesia? Ada Gado-Gado, Nasi Goreng, Sate, Tumpeng, Rendang dan sebagainya.

Apakah Jepang hanya punya Sushi? Tentu tidak. Tapi dengan kesadaran Jepang terus menerus dan tak tanggung tanggung mempromosikan Sushi ke seluruh dunia. Bahkan untuk lidah orang Indonesia yang sebenarnya tidak ada kebiasaan memakan daging ikan mentah. Mulai dari budaya pop seperti film, musik dan lain-lain, Jepang dengan fokus dan konsisten mempromosikan Sushi. Sekarang? Tak hanya bangga, tapi orang Indonesia ikut mengembangkan Sushi dengan versi Indonesia.

Jepang kini gencar memasyarakatkan Ramen yang di Indonesia disambut dengan sukcaita. Indonesia? Masih berdiskusi. Apakah satu makanan yang bisa dipromosikan ke seluruh dunia. Kesulitan ini sepertinya berawal dari rasa sungkan. Takut kalau satu makanan dari daerah tertentu yang dipromosikan, daerah yang lain akan protes. Pelan-pelan makanan asli Indonesia pun diaku-aku oleh negara lain sebagai makanan asli. Kemudian ribut sebentar. Kemudian lupa lagi. Anget-anget tai ayam. Nanggung!

Di bedang musik, Project Pop sudah memberikan masukan “Dangdut is the music of my country”. Lagi-lagi keragaman telah mengaburkan pesan Indonesia ke dunia. Ada Keroncong, Indie bahkan ada Festival Jazz yang diidentikan dengan kata Java. Anggun C. Sasmi salah satu penyanyi Pop Indonesia yang berhasil hijrah ke negeri seberang pun, kurang dimanfaatkan secara maksimal sebagai duta bangsa. Waldjinah, beken di Jepang dan Australia. White Shoes & The Couples Company, bahkan sudah punya penggemar di beberapa negara. Paduan Suara Anak Indonesia, berhasil memenangkan lomba paduan suara bergengsi di dunia. Sayangnya, semua jalan sendiri-sendiri.

Tumbuh kembang Musik Dangdut di Tanah Air tak sulit untuk mendeteksinya. Promosikan saja dengan gencar dan fokus. Musik Pop sudah diambil Amerika. Korea hadir dengan K-Popnya. Musik India yang khas, bahkan sudah masuk ke keseharian kita. Ingat Polisi Gorontalo yang terkenal melalui Youtube menyanyikan lagu Chaiyya chaiyya? Atau group band anak muda yang meggunakan K-Pop dan J-Pop sebagai acuan.

Di bidang busana. Di sebuah acara, Menteri Perdagangan pernah bertanya kepada para penggelut bidang ini “apa yang menjadi blue ocean fashion Indonesia?” Saat itu disepakati, busana muslim. Busana muslim Indonesia memang memiliki karakternya tersendiri dan terus berkembang. Dengan gayanya yang modern dan tidak berat, memiliki paduan warna yang beraneka dan perpaduan bahan yang  berbeda dari busana muslim dari negara lain. Sangat menjanjikan.

Tapi sepertinya belum ada tindak lanjut yang nyata. Padahal kita punya Jakarta Fashion Week, Indonesia Fashion Week, Jember Fashion Carnaval, dan lainnya. Banyuwangi Islamic Fashion Week yang baru diadakan tanggal 2 Juni 2015 kemarin, semoga bisa menjadi cikal bakal yang menarik perhatian dunia sehingga Indonesia menjadi pusat busana muslim dunia.

Sepertinya ada ketakutan dan keraguan, jika hanya mengangkat satu saja maka yang lain akan merasa dianak tirikan. Atau dirasa kurang “mewakili” Indonesia.  Inilah yang membuat promosi Indonesia terkesan nanggung. Mau sampai kapan?

Mungkin Indonesia harus belajar dari Sharon Stone. Iya, bintang film Holywood yang sudah berusia 57 tahun itu, baru saja memamerkan tubuhnya yang masih rapih di majalah Bazaar. Dunia pun tercengang. Sharon sadar di tengah maraknya bintang muda yang bertubuh molek, tak mudah baginya untuk menonjol. Tapi jangan lupa, Sharon punya IQ 154. Dunia mengenang karakter Sharon yang tegas, kuat dan bitchy di film Basic Instinct. Karakter itu pula yang diangkat kembali dalam jejeran foto bugil yang artistik di majalah Bazaar.

IMG_3315

Intinya, hari gini mah kalau mau ngapa-ngapain jangan nanggung!

Iklan

One thought on “Jangan Nanggung, Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s