Telanjang

KEMARIN-RIN kalau kata orang Surabaya, Senin malam waktu Stockholm, Lenny Kravitz sang legenda musik dunia itu bikin heboh di Swedia. Kehebohan yang mungkin hanya dia dan tuhan saja tahu maksudnya apa.

Dalam penampilan lagu pertama, celana Lenny si Kravitz mendadak robek. Bukan di bagian dengkul atau betis atau paha, robekan celana panjang hitam berbahan kulit ketat dengan permukaan mengilap itu terjadi di bagian selangkangan. And the most peculiar/expected moment, He was going commando alias tidak pakai kancut (pertanyaan 1: “kenapa dia tidak pakai cawat?”). Ia tetap melanjutkan penampilan dalam kondisi ada yang nunjuk-nunjuk di antara pahanya, entah atas nama profesionalisme atau ndak sadar (pertanyaan 2: “kenapa dia biarkan titit-nya gondal-gandul?”). Belum lagi ketambahan “titit trivia” lainnya.

Oke, dalam hal ini, sekonyol-konyolnya insiden Lenny Kravitz yang pamer titit, ya lebih konyol mempertanyakannya.

Kejadian berlangsung tanpa disengaja, meskipun sang artis memilih untuk tetap menyelesaikan lagu ketimbang berhenti di tengah, dan berupaya menutup selangkangannya dengan apa pun yang ada. Kurang lebih pakai gaya pemain sepak bola saat menghadapi tendangan bebas.

Saya malah jauh lebih penasaran dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyusul setelah dua persoalan di atas. Pertanyaan 3: “bagaimana respons penonton atau siapa pun yang ada di sana saat itu?” Lalu pertanyaan 4: “bagaimana seharusnya manusia memandang ketelanjangan?”

“Bagaimana respons orang-orang yang melihat/menjadi sasaran penunjukkan titit Lenny Kravitz secara langsung?”

Pertanyaan ini hanya bisa dijawab oleh mereka yang benar-benar ada di sana. Akan tetapi, logisnya, mereka pasti kaget. Kemudian, bila kita berandai-andai, barangkali respons lanjutan mereka terbagi menjadi positif (senang, excited, penasaran lebih jauh, geli-geli gembira, dan sejenisnya), negatif (benci, marah/tersinggung, enggan, geli-geli jijik, dan sejenisnya), dan netral (biasa aja, canggung, kaget doang, tetap fokus ke musik dan penampilan panggung, dan sejenisnya). Kalaupun ada yang langsung berpikir macam-macam, berarti dasarnya punya fantasi yang macam-macam.

Dari tiga respons lanjutan di atas, mana yang lebih banyak terjadi? Baca berita di Internet, ditulis “Let’s just say the audience went nuts.” Bahkan tidak sedikit penonton yang ngakak. Lagipula, Lenny si Kravitz menyelesaikan lagu, kemudian ke belakang panggung selama beberapa menit, dan akhirnya kembali dengan celana baru.

“Bagaimana seharusnya manusia memandang ketelanjangan?”

Sudut pandang manusia dibentuk dan membentuk peradaban, termasuk soal ketelanjangan dan nilai yang melekat padanya. Namun ibarat api yang menyambar selembar kertas dalam gudang buku, lama-lama bisa menghanguskan seisi ruang, bahkan sampai menyambar ke bangunan di sekitarnya. Begitupun dampak dari sudut pandang tersebut; muncul, diterima atau ditolak, bertahan (apabila diterima) atau hilang (apabila ditolak), dan terus membesar (karena bertahan).

Buktinya, zaman dulu, atlet olimpiade Yunani kuno bertanding dalam keadaan telanjang. Bisa dibayangkan, saat tubuh aktif bergerak, titit mengecil. Kulitnya runyut serunyut-runyutnya. Mekanisme perlindungan alamiah. Sistem otomatis dari sananya. Toh, belum pernah saya baca, sesama atlet pada zaman itu saling menertawakan titit yang kian mengecil di sela-sela lomba.

Mengambil contoh insiden Lenny Kravitz tadi. Setelah titit-nya terekspose dengan sedemikian rupa, ia berganti celana dan dibarengi permohonan maaf dari tim atas wardrobe malfunction tersebut. Malu.

Lazimnya perspektif sosial budaya saat ini, ketelanjangan adalah hal yang memalukan. Ditelanjangi berarti dipermalukan.

Area vital tubuh yang terbuka dan dilihat orang lain, adalah biangnya rasa malu. Kecuali pada anak-anak yang dimandikan orang tuanya, bocah-bocah desa mandi di sungai, pasien yang diperiksa dokter, locker room pusat-pusat kebugaran di kota-kota besar pulau Jawa, tempat pemandian umum di Jepang dan negara-negara lain, perawatan diri di spa, pengidap gangguan kejiwaan, pekerja seni kontemporer, maupun pada pasangan suami istri. Terkecuali pelaku prostitusi, dan produksi pornografi. Begitu, kan?

Nah, kali ini coba bandingkan dengan peristiwa yang berlangsung di Kanada, sepekan lalu. Sama-sama berhubungan dengan ketelanjangan, tapi beda keadaan.

Tiga bersaudari, Tameera, Nadia, dan Alysha Mohamed punya hobi yang sama seperti Mas Roy Sayur: bersepeda. Karena cuaca panas, mereka pun melepas atasan, lalu bersepeda sambil telanjang dada. Angin berembus, menyegarkan kulit tubuh yang gerah, sampai akhirnya kesyahduan suasana berhenti setelah mereka disetop polisi.

[The officer] said, ‘Ladies, you need to put on some shirts.’ We said, ‘No we don’t … it’s our legal right in Ontario to be topless as women.” – dikutip dari sini.

Tiga bersaudari. Foto: therecords.com

Gara-gara insiden itu, mereka bertiga berencana mengajukan tuntutan hukum atas penghentian dan pemaksaan untuk berpakaian. Bukan tanpa latar belakang, lewat protes pada 1991, adalah legal bagi perempuan di Ontario untuk bertelanjang dada. Meskipun legalitas itu belum sepenuhnya dibarengi dengan penerimaan sosial. Maklum saja, tiap kepala punya pemikiran berbeda.

Yang jelas, satu hal yang ingin mereka capai dari tuntutan ini, yakni desexualizing of women’s bodies, atau kurang lebih bisa dimaknai sebagai upaya menyuarakan bahwa “tubuh wanita itu bukan melulu buat urusan syahwat.” Baik berpakaian, maupun telanjang.

Manusia adalah makhluk pemilik tubuh dan pikiran. Sebagai pemilik komponen-komponen tubuh, mereka juga memiliki pikiran sebagai pengendali tindakan. Kalau mata melihat sesuatu, lalu muncul syahwat pada pria maupun wanita dengan ciri-ciri fisiologis berupa mengeras, menegang, meremang, merona, dan sebagainya, setidaknya manusia masih memiliki pikiran untuk dapat menimbang apakah syahwat tersebut patut dituruti dengan apa adanya, atau sebaiknya ditahan sebesar-besar kemampuan.

Lalu, kalau merasa tidak mampu menahan syahwat tersebut, alternatifnya hanya dua: khilaf, atau mengupayakan agar berahi bisa tersalurkan tanpa melanggar norma. Begitu, kan? (Baca: kawin. Tapi, kawin kok cuma supaya ngeseks legal doang? Ehm, buat tulisan minggu depan ah… 😀 )

Dengan demikian, di manakah posisi ketelanjangan? Akan sangat berbeda bila sengaja telanjang untuk membangkitkan syahwat (misal: istri kepada suami, atau sebaliknya), dan sengaja telanjang bukan untuk membangkitkan berahi (misal: ketiga bersaudari dari Kanada tadi).

Dengan demikian lagi, tidak masalah bila mereka yang telanjang bukan untuk membangkitkan berahi diperkenankan dan dijaga dari upaya dipermalukan. Bertentangan dengan ungkapan yang beredar saat ini, yang menyebut, “dengan telanjang–atau serupa telanjang, maka seorang perempuan seakan siap/minta dipermalukan.” Lah, kepiye? Ungkapan itu ndak masuk silogisme.

Pastinya, asalkan telanjang bukan dengan niat menggoda, hal-hal eksternal yang muncul, di luar tanggungan mereka. Titit yang ngaceng, ya urusan pemiliknya masing-masing, dan bukan tanggung jawab si pemilik tubuh telanjang untuk menangani kengacengan tersebut.

Logika yang sama juga berlaku untuk pembahasan mengenai rok mini dan kasus perkosaan, yang marak beberapa waktu lalu.

Sudah Tentu:

  • Setiap manusia lahir dalam kondisi telanjang.
  • Dengan berpakaian, manusia berupaya untuk melindungi tubuhnya dari ketidaknyamanan, keadaan alam, dan ancaman gangguan kesehatan.
  • Dengan berpakaian, bisa juga untuk menutupi kekurangan bentuk tubuh, itu pun ditutupi supaya tidak diolok-olok orang lain. Malu sendiri, atau bisa dibikin malu orang lain.
  • Hingga kini, masih banyak suku-suku manusia di dunia yang bertahan dan nyaman-nyaman saja dengan pakaian serbaminim.
  • Kepemilikan pakaian erat hubungannya dengan status dan ketersediaan harta (untuk beli/bikin).

Belum Tentu:

  • Pakaian menunjukkan kualitas moral seseorang. (Aji ning rogo soko busono? Belum tentu.)
  • Dengan tidak berpakaian, seseorang pantas dipermalukan dan direndahkan.
  • Dengan tidak berpakaian, seseorang sengaja minta dipermalukan dan direndahkan.
  • Dengan tidak berpakaian, seseorang tidak boleh beralasan dan berargumentasi.
  • Berpakaian sama dengan harga diri.
  • Pria atau wanita yang mampu mengendalikan reaksi syahwatnya terhadap ketelanjangan (baik lawan jenis atau sesama), dianggap memiliki kelainan.
  • Perasaan horny (atas ketelanjangan) harus selalu dituruti, apalagi melibatkan orang lain. Lagipula, masih punya tangan lengkap, kan?

Dengan berpendapat seperti ini, bukan mustahil bisa digunakan untuk “menyerang” saya sendiri. Seperti pertanyaan yang dilontarkan balik oleh Prof. Dr. H. Arief Rachman, M.Pd kepada saya (kelas 2 SMA) dalam sebuah seminar pendidikan lebih dari satu dekade lalu, ketika saya mempertanyakan hubungan empiris antara moral dan rok di atas lutut.

Kamu mau enggak, kalau mamamu pakai rok mini?” tanya sang pakar pendidikan Indonesia saat itu, disambut tawa riang seisi ruangan seminar.

Jawaban saya:

Kalau dia (mama) benar-benar mau, dan bangga dengan tubuhnya sendiri, kenapa tidak?

Jawaban itu tidak digubris.

[]

Disclaimer: Tulisan ini bukan ajakan untuk bertelanjang bersama-sama. Santai dengan ketelanjangan atau nyaman dengan ketertutupan, itu semua pilihan Anda.

2 thoughts on “Telanjang Leave a comment

Leave a Reply