Dalam Tempo yang Sesingkat-Singkatnya

Sejak 5 sampai 10 tahun yang lalu, surat kabar, majalah dan media cetak offline dan online mengurangi panjang tulisannya. Menyesuaikan dengan perilaku digital para pembacanya. Konsentrasi membaca semakin pendek dan semakin banyak interupsi. Di media online kalau pun ingin menyampaikan berita yang panjang, disampaikan dengan cara potongan-potongan berita. Masalah berita kurang akurat, tak jadi masalah besar karena bisa direvisi di berita berikutnya.

Di 2015 ini salah satu yang mulai mewabah adalah video pendek yang menyebar dengan cepat di media sosial. Sekarang masih bersifat becandaan dan seseruan saja. Ini pun buat banyak netizen yang masuk dalam kategori “serius dan terpelajar” masih dianggap remeh kalau tak ingin disebut gangguan. Sama saja, ketika Twitter mulai mewabah toh mereka juga malas untuk meliriknya.

Aplikasi media sosial berbasis video pun semakin banyak. Ada Meipai, Vine, belakangan Snapchat, Periscope, Dubsmash dan entah apalagi. Mereka seperti tumbuh perlahan di bawah permukaan laut untuk kemudian secepatnya menjadi gunung es yang menjulang dan mengitari. Pilihannya kemudian ikut menjadi bagian dari gunung es itu atau tenggelam di dasar samudera.

Semakin hari konten dari video yang berhasil menyebar itu pun semakin memiliki “isi”. Ditambah keterampilan menggunakan video cam dari handphone dan editing sederhana. Video-video itu tak lagi berupa media untuk narsis, tapi bisa perlahan menyampaikan pesan dan gagasan. Mulai dari sindiran, kritik sosial, urun suara soal politik bahkan tak sedikit yang mengangkat keragaman budaya. Beberapa secara cerdik mengemasnya menjadi hiburan dan sindiran tanpa menyindir. Mengajak untuk mentertawakan diri sendiri.

Silakan tengok akun Instagram dari @YogaArizona yang jumlah followersnya semakin bertambah setiap hari. Koleksi Dubsmashnya yang mengkuti gaya beberapa Artis dan Penyanyi, tak hanya berhasil menjadi hiburan, tapi juga membuat decak kagum. Kemampuan Yoga untuk menghayati setiap perannya, langsung terbaca di atas rata-rata. Media sosial pun ramai dibuatnya. Santer berita mengabarkan Yoga anak dari seorang guru acting terkenal.

Atau kreasi @viaoctvn ini yang bisa menangkap perilaku orang-orang di sekitarnya dan kemudian menjadikannya video yang kalau orang iklan bilang “insightful”. Banyak yang menonton pun merasa relevan dengan video ini. Entah dirinya sendiri atau orang di dekat mereka.

Beda lagi dengan kreasi Gita Butar (IG: @Gita_Bhebita) yang mengangkat kelucuan dari hal-hal remeh dan bahkan sering tak terlihat. Beberapa bahkan memerlukan penterjemah bahasa Batak untuk sepenuhnya memahami nuansa dan kelucuannya. Sensitivitas dan kemampuan observasi yang mengagumkan.

Bahkan Jupe pun ikut serta dalam keseruan baru ini.

Sampai sejauh dan sebesar apakah video-video ini akan mewabah, tak ada yang bisa memprediksi dengan pasti. Bisa jadi sangat besar sehingga perlahan memiliki tempatnya tersendiri sejajar dengan hiburan audio visual yang sudah ada. Atau sudah tergantikan dengan bentuk lain.

Yang menarik adalah menyaksikan sisi kreativitas dari para remaja, alay, dedek-dedek ini. Mereka selama ini diam-diam belajar “selera penonton”. Video seperti apa yang akan mendapatkan “lope-lope” yang banyak. Soal apa yang akan menyita perhatian sehingga meningkatkan views video mereka. Mereka pun belajar teknik merekam dan mengedit video. Bukan mudah untuk menyampaikan pesan dan membuat orang tertawa dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s