Stop

Kembali terduduk di depan laptop dengan kebingungan yang nyaris sama setiap pekannya: “mau nulis apa?

Untung saja Linimasa bebas dari aturan kaku. Termasuk mengenai kategori-kategori topik yang awalnya menjadi jatah para pengasuh setiap hari. Sebab amsiong-nya, saya kebagian topik soal agama dan spiritualitas. BLAH! Ulama bukan, nyembah galon akwa iya. Ya ndak cocok bicara yang religius-religius.

Pembicaraan soal agama itu jelas melelahkan. Apalagi jika dilakukan oleh orang-orang dengan profesi yang enggak ada sangkut pautnya terhadap institusi agama. Bukan cuma bikin capek badan lewat tenaga yang dikerahkan, juga bikin letih pikiran saking beratnya bobot omongan (atau malah sengaja diberat-beratkan).

Buang-buang waktu? Ndak usah ditanya.

Apa faedahnya? Entahlah. Barangkali memperbesar ego.

Terkadang malah absurd, mirip percakapan antara bocah-bocah SD di waktu istirahat sekolah. “Tuhanku lebih hebat dari tuhanmu,” dan komentar sejenis yang terdengar songong eksklusif. Kayak sudah pernah ketemu tuhan masing-masing aja.

Lah kepiye jal, hal-hal yang umumnya hanya bisa dirasakan, dipahami, dan disadari lewat laku tafakur, mindfulness activity, perenungan, serta pengalaman transendental personal, malah dipakai untuk menghambur ludah, menghasilkan busa putih di pojok bibir.

Itu baru perbincangan, belum lagi kalau berubah jadi perdebatan mencari benar-salah menang-kalah. Padahal patokan argumentasinya sama-sama berupa hasil kodifikasi, ditambah buah pikiran orang lain yang belum tentu tanpa cela. Sedangkan yang bisa bikin hati adem, kebanyakan berupa siraman rohani, ndak perlu disampaikan dengan berapi-api.

Pastinya, agama dan tuhan tidak akan pernah bisa dicampuradukkan. Tuhan tidak memerlukan agama, sementara agama tanpa tuhan berarti apa dong?

Meskipun begitu, tetap ada saja orang yang macam kecanduan berbincang soal agama. Dijabanin terus menerus dan cenderung bawa-bawa urusan emosional. Tampaknya banyak yang lupa, bahwa ajaran agama itu sejatinya untuk dijalankan sebaik-baiknya, bukan cuma dibicarakan sekeras-kerasnya. Karena lebih baik hening tapi bijaksana, ketimbang berisik tapi kopong.

Bila demikian, apa yang mesti dilakukan?

Just be good. Sesederhana itu.

Toh, kalau saya tidak keliru, nilai inti universal dari semua agama adalah mengarahkan para pemeluknya untuk bisa menjadi manusia yang baik di mata tuhan maupun sesama.

Ndatau lagi sudah, kalau dengan hanya menjadi orang baik saja dianggap tidak cukup, betapa demanding-nya mereka yang merasa lebih paham agama, merasa kenal tuhan lebih dekat, merasa punya privilege khusus, merasa yakin banget kalau kelakuannya selama ini sudah benar-benar baik.

Di sisi lain, tuhan itu kan misterius, mustahil untuk dipahami dengan akal pikiran manusia biasa. Jadi, agak konyol bila ada yang mengklaim sangat paham kehendak tuhan, kemudian mempergunakan klaimnya tersebut untuk mengintimidasi orang lain. Lengkap dengan semangat untuk mengalahkan. Sampai berpindah keyakinan bila perlu. Belum tentu tuhan suka umatnya begitu.

Kesimpulannya, mending ngomongin yang lain aja yuk.

Yakinlah, maka engkau akan terselamatkan. Ajaklah sebanyak-banyaknya orang untuk merasakan kebahagiaan yang sama, maka engkau akan mendapat tempat istimewa di sisi-Nya.

O, sungguh mulia. Saya sudah berusaha sekuat tenaga. Saya persembahkan jiwa raga ini demi kemuliaan-Nya. Lalu, kapankah ganjaran itu bisa saya nikmati?

Nanti. Setelah kamu mati. Sabar aja. Ada waktunya kok.

[]

Iklan

2 thoughts on “Stop

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s