Maaf, Bibir Saya Sebesar Gaban.

Awalnya saya akan melanjutkan kisah hidup Nina Simone. Tapi saya merasa kurang sreg jika lanjutan kisahnya harus minggu ini. Suasana lebaran Bos! Lebih enak yang ringan-ringan lucu dan menggemaskan. Seperti kamu.

Mari kita sebut saja lebaran adalah bagian dari hari libur biasanya. Seperti sabtu minggu. Acara kumpul keluarga. Ayah yang biasanya sibuk. Bunda juga sibuk. Anak-anak pusing tugas sekolah, dapat melepas penat bersama dengan melancong ke pantai, gunung, taman kota, atau pusat belanja.

Mengapa lebaran kita harus pusing pulang ke kampung halaman? Berebut membeli tiket pesawat, kereta api, sewa kendaraan roda empat, bahkan DP untuk mobil baru. Kendaraan keluarga yang iklannya baru nongol tiga hari yang lalu.

Baiklah. Kisah ini saya berikan bagi kamu yang menikmati lebaran seperti liburan. Mereka yang tak mudik dan menikmati kota dimana kamu tinggal seperti hari-hari biasanya.

Eng eing eng.

Selama bulan puasa saya naik sepeda. Saat berpuasa maupun tidak. Maksudnya di kala saya benar-benar berpuasa atau berpura-pura puasa.

Suatu hari, sepulang kerja, saya bersama Bromproy (anak ketiga saya yang berjenis kelamin laki-laki tapi berbentuk sepeda) sedang ngabuburit. Saya berbincang-bincang dengannya dalam pelukan dan gowesan ringan. Bla-bla-bla (genjot). Bla bla bla (genjot). Tentu saja gowesan ringan ini saya lakukan sepulang kerja. Kami sengaja habiskan waktu bersama. Memang hampir setahun saya pergi pulang kerja gunakan sepeda.

2010-smart-fortwo

Tiba-tiba dari samping kiri saya diklakson. Mobilnya dalam keadaan diam. Ada mobil kecil seperti Picanto. Oh tidak, lebih kecil lagi. Semacam Smart Two. Ah tidak, lebih kecil lagi. Mobilnya sebesar Ateng. Tapi sepertinya ndak sok tau.

Din~ Din~ DIN~!

Saya menoleh. Mobil tersebut tidak bergerak.

220px-Img_body_movies_atengsoktahu

Din~ Din~

Bisa jadi ini urusan penting. Apakah di dalamnya salah satu rekan saya.
Saya mengalah. Saya turun dari sepeda dan mendekati mobil tersebut. Saya turun dan angkat sepeda lalu  naik ke trotoar. Dari sebelah kiri mobil saya menundukkan kepala sembari melihat seksama siapa orang di dalamnya. Kaca jendela samping terbuka.

“Hai.. ^^”

Walah! Ada perempuan dengan rambut seperti orang skandinavia tersenyum pada saya. Glek!

“Mas. Bisa minta tolong Mas?”

Saya masih kagum pada rambutnya yang kuning tembus. Apakah rambutnya selelu digosok seperti Bacan Ternate.

“Mas, sepertinya ban mobil saya kena permen karet deh. Jadinya ndak bisa jalan.”

Lalu dia menginjak gas dalam dalam. Brum brum. Suara knalpot berderu. Mobilnya? Keep calm and stay cool. Diam. Tak bereaksi.

Busyet! mobil apaan sih ini. Kena permen karet langsung menyerah.

“Gini aja mb..”

ZZZZZRTT. belum selesai bicara mobil tiba-tiba goyang. ZZZRT.

“Apa itu mbak?”

“Oh maaf. hape saya ada yang nilpun. Maklum. saya setel vibrate Mas.”

Busyet! hapenya goyang, mobilnya juga!

Lalu dia bicara entah apa dengan lawan bicara siapa. Was wis wus wes wos.  Dia lanjutkan lagi was wis wus wes wos. Suaranya renyah. Dia tertawa. Dia serius. Lalu tertawa lagi. Lebih dari lima menit dalam kondisi seperti itu. Saya mulai gelisah.

Was wis wus wes wos. Lawan bicara boleh siapa saja, tapi anehnya lirikan matanya tertuju pada saya. Mulutnya tak henti-henti bicara. Wes ewes ewes. Wes ewes ewes. Sepertinya mbak rambut skandinavia mulai bergosip. Bunyi suaranya berganti agak cempreng, berdesis tapi pelan.

Saya bingung harus ngapain. Saya toleh bagian bawah mobilnya. Ada satu permen karet warna coklat merekat erat di kiri roda depannya. Dengan telunjuk saya tarik karet tersebut (ya tentu saja karet, karena pasti tak lagi manis selayaknya permen). Rupanya mudah saya angkat noda karet ini. Tak sesulit melepas karet dan pengaitnya yang melingkari punggung wanita. Klik. Eh. Cemol.  Begitu bunyinya. Purna sudah tugas saya. Menghilangkan bekas noda karet pada ban mobil perempuan entah nama siapanya. Mudah banget.

Saya lalu berdiri. Angkat sepeda dan hendak lanjutkan gowes-gowes lucu.

“Mas! Mas!”

Saya cuek.

“Mas! Mas! Suara perempuan itu makin nyaring.”

O rupanya ia bermaksud bicara kepada saya.

“Iya?”

“Mas…?”

“Maaf, saya Om. nama saya Om Roy.”

“Mas. Om. Pakde. Terserah. Kamu tadi ngapain di bagian bawah saya.”

Dengar kata-kata itu mata saya, tentu saja, tertuju pada kedua belah pahanya. Waw pahanya pun seperti batu Bacan. Tembus!

“Sini deh Om..”

Saya menolak. Hanya kepala saya yang saya julurkan masuk lewati jendela yang terbuka.

Tanpa izin, dia mengecup kening saya. “Terima kasih ya Om…”

Saya ndak kaget. Saya memang berharap dikecup. Bahkan dikulum. Tapi saya pura-pura gelagepan. “EH..!”. Saya akting kaget.

“Saya puasa, mbak.”

“Oh kamu puasa. Ya sudah. Ayo kita ngabuburit saja. Bentar lagi waktu berbuka.”

“Terima kasih, Tapi saya bawa sepeda mbak.”

“Tinggalkan saja.”

Saya meloncat keluar. Saya hampiri bromproy. Saya keluarkan uang pecahan lima ribuan enam lembar. “Bromp, ini ongkos pulang. kamu pulang sendiri dulu ya.”

Bromproy mengangguk. Dia paham banget ayahnya. Lalu saya cuekin dia dan merangsek masuk ke dalam mobil ateng milik Mbaknya dengan rambut skandinavia dan paha tembus pandang seperti bacan.

Saya duduk dan berusaha tenang. Bau wangi kemenyan mobilnya. Bau sekali. Kemenyan sekali. Tiba-tiba saya teringat Suzanna. Saya berdoa. Semoga punggungnya tidak tembus juga. Mobil yang Suzanna sekali. Saya penasaran ingin bercermin. Jangan-jangan wajah saya tiba-tiba mirip Clift Sangra.

Saya juga penasaran apakah Mbak Skandinavia ini jelmaan Suzanna.

Saat hendak melihat bagian punggungnya tiba-tiba tangan kirinya meraba bagian belakang kepala saya. Lalu menarik dan mendekat ke wajahnya. Saya terkesiap. Ia melumat bibir saya dan berujar. “Sudah pernah berbuka dengan pagutan lembut, Om?”. lalu dia lanjut meneruskan pagutannya.

Dalam sesak nafas saya berpikir apakah Suzanna selalu mencium dulu korban-korbannya sebelum beraksi. Dan pagutan lembut itu berubah lumatan.

Saya berpikir soal lain. Saya belum mendengar suara adzan. Saya bisa batal kalau begini kondisinya.

“Mbammmhpffh… ” Saya mau bicara. Tapi mana mungkin.

“Mmmmh…”  Lidahnya malah bertamasya di antara geligi.

Tangan kanannya malah bertamasya entah kemana. Yang jelas dengkul saya tiba-tiba hangat. Ada jemari asing yang bergerak-gerak di antara paha saya. Mobil bergerak. Mobil berjalan. Entah berapa kecepatannya.

Singakt cerita, kami keliling kota dengan kondisi bibir berpagutan. Leher belakang saya digenggam tangan kirinya. Paha dicengkeram tangan kanannya.

Saya tersadar ada yang tak beres disini. Siapa yang menyetir? Bagaimana caranya? Saya jadi takut.

Saya dorong saja wajah agak ke kanan dan wajahnya bergeser sedikit. Saya lekas melirik ke arah setir.
Wow, dengan kedua belah pahanya yang ditekan ke bagian bawah setir dia dapat mengendalikan laju mobil. Kanan. Kiri. Kanan. Kiri. Lurus.

Wow. Baru kali ini saya melihat perempuan menyetir gunakan kedua pahanya.

Tiba-tiba saya ingat Bromproy. Betapa senangnya ia jika mbak satu ini gowes bersamanya. Bromproy pasti suka. Sama seperti ayahnya, Bromproy menyukai kisah misteri dan petualangan sejati.

Saya ingat betul, esok harinya saya bolos kerja. Bangun tidur bibir saya sebesar Gaban.

-*-

 

Cirebon,   18 Juli 2015 07.05 WIB

 

 

Iklan

5 thoughts on “Maaf, Bibir Saya Sebesar Gaban.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s