Cinta Fitri

“Selamat hari raya, semoga kita kembali fitri”

Ketika saya masih kecil, kata-kata itu seolah wajib diucapkan ketika hari raya, tentunya dengan beberapa versinya, tanpa saya mengerti artinya. Yang saya tahu, karena kita sudah berpuasa sebulan penuh, karena itu kita seperti kertas yang tadinya kusut dan penuh coretan, kembali putih bersih dan mulus. Tapi kenapa, dan apa hubungannya dengan berpuasa?

sumber foto: wido.wordpress.com
sumber foto: wido.wordpress.com

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, fitrah artinya sifat asal; kesucian; bakat; pembawaan. Sesungguhnya arti yang sangat dalam dan bukan sekedar mengenai dosa kita dihapuskan oleh tuhan karena berpuasa selama bulan Ramadan. Jika saya boleh mengutip beberapa buku yang saya baca, baik mengenai spiritualitas, kesehatan, dan filosofi, banyak disebutkan soal fitrah manusia. Contohnya, menurut Erbe Sentanu di bukunya, jika kita ingin melihat fitrah manusia kita bisa melihat sifat anak kecil. Semua dipandang dengan mata yang segar dan tampak baru. Semua dikerjakan dengan rasa senang, tanpa pamrih, tak ada prasangka terhadap orang lain. Sedangkan secara kesehatan, tubuh manusia bakunya adalah sehat, bahkan jika ada yang salah dengan fisik kita, fitrah tubuh kita akan memperbaiki sendiri “kerusakan” tersebut, dengan minimal campur tangan eksternal.

Tentunya kalau mendengar ini semua, siapa yang tidak ingin dalam kondisi selalu fitri? Tetapi begitu banyak godaan dari kehidupan sehari-hari yang seolah menyetir kita, manusia biasa, ke arah sebaliknya dari fitrah kita. Kemudian dilakukan lah berpuasa setiap tahun (lunar), dengan harapan kita bisa reset kembali sifat dan fisik atau sekedar diingatkan bagaimana rasanya kembali ke fitrah. Tetapi tentunya tidak hanya dengan berhenti makan dan minum saja. Sejak kecil kita selalu diberi petuah bahwa puasa itu seharusnya menahan semua hawa nafsu; tidak hanya rasa lapar dan haus. Juga menahan diri untuk tidak mengumbar emosi, tetapi lebih ikhlas dengan situasi yang tidak mengenakkan. Menahan segala prasangka dan praduga dan selalu berpikir baik (sebenarnya saya lebih suka kata netral daripada baik). Berempati lebih besar ke orang-orang yang kurang beruntung dibandingkan kita, sehingga kita bisa membagi penghasilan kita dalam bentuk zakat (fitrah). Sementara untuk fisik yang kembali ke fitrah kita, memang sudah cukup banyak teori mengenai puasa atau lebih dikenal dengan Intermittent Fasting. Bahwa dengan berpuasa kita mengurangi keinginan untuk makan berlebih, terutama yang kurang baik untuk tubuh kita. Dengan berpuasa juga disebutkan meningkatkan produksi HGH (Human Growth Hormone) yang sebenarnya sejalan dengan bertambahnya usia, nyaris sudah kering produksinya, sehingga dengan HGH semua organ kita pun awet muda. Tetapi efek ini tentunya bisa dimaksimalkan jika saat kita berbuka mengonsumsi makanan yang baik untuk tubuh, bukan yang manis-manis dan sudah melewati proses yang panjang.

Alangkah indahnya kalau semua kebiasaan itu diteruskan bahwa setelah Ramadan lewat. Saya yakin memang itu tujuan ritual, paling tidak salah satunya, yaitu membentuk kebiasaan yang menjadikan kita manusia yang lebih baik. Karena membentuk suatu kebiasaan ada yang mengatakan memerlukan waktu kurang lebih 30 hari, ada juga yang mengatakan 60 hari. Saya kira itu kembali ke pribadi masing-masing, karena jika sudah niat, semua bisa dijalankan.Fasting

Betapa indahnya latar belakang sebuah ritual atau bahkan kata yang tampaknya sederhana dan sehari-hari. Seperti kata ikhlas yang awalnya terasa begitu mengawang-awang, jika diresapi begitu dalam dan menjadi tujuan hidup saya setiap hari. Ikhlas, unconditional love, detachment, siapa yang sangka kalau kurang lebih konsepnya serupa? (Paling tidak dulu saya tidak menyangka demikian). Tentu masih jauh dari sempurna, tetapi jika semua dilakukan dengan ikhlas, sebaik mungkin tapi tidak mengharapkan pengakuan, penghargaan ataupun keuntungan, rasanya lebih luar biasa.

Selamat merayakan melewati Ramadan dengan sempurna, semoga kita semua bisa selalu jadi fitri, tidak peduli nama bulannya.

Posted in: @linimasa

Leave a Reply